Dimadu Karena Wasiat

Dimadu Karena Wasiat
DKW 63 - Tolong Cabut Gugatan Ceraimu itu, Nis!


__ADS_3

"Aku rela melakukan itu karena aku menyukai kamu, Nis," jawab Angga. Sayangnya jawaban tersebut hanya mampu ia ungkapkan di dalam hati.


"Jangan berpikiran yang macam-macam, aku melakukan itu atas dasar peri kemanusiaan. Aku nggak mau suamimu yang gak punya otak itu mengganggumu dan membuatmu semakin sakit. Ingat! Kamu masih memiliki hutang padaku," jawab Angga.


"Hutang?" tanya Nisa sambil menatap Angga bingung.


"Kamu sudah janji, kan, bakalan bantu aku buat ngedapetin tender besar karena sudah bantu kamu masukin ketiga sahabatmu di perusahaan? Aku bukan orang yang baik hati yang tidak akan menagih janjimu itu, jadi, setelah kamu sehat atau setelah kamu melahirkan aku ingin agar kamu tetap bekerja di perusahaanku untuk memenuhi janjimu itu. Makanya, aku harus benar-benar membuatmu merasa nyaman dan aman dari gangguan suamimu," jawab Angga panjang lebar. Padahal hal tersebut hanya alasan agar dia bisa mempertahankan wanita itu di sisinya.


Entah kenapa mendengar jawaban Angga barusan justru membuat Nisa kecewa. Dia sendiri tidak tahu alasannya.


"Iya, setelah aku sehat, aku pasti akan memenuhi janjiku itu. Jangan khawatir!" ucap Nisa ketus.


"Baguslah. Sekarang ayo makan!" Angga memberikan makanan yang ia bawa kepada Nisa.


"Kalau makanan ini? Maksudku kenapa kamu membawakan makanan untukku?" Nisa kembali bertanya.


"E... Aku sedang belajar memasak dan butuh seseorang untuk bisa mencoba makanan buatanku itu. Karena ku pikir kamu pasti bosan dengan makanan dari rumah sakit, makanya aku bawakan untukmu," jawab Angga sambil menunjukan deretan gigi-gigi putihnya.


Nisa meletakkan makanan yang diberikan Angga barusan di atas nakas. "Besok tidak usah kamu bawakan lagi makanan untukku," ucapnya dengan nada tidak suka.


"Kenapa?"


"Karena hari ini kemungkinan aku sudah diperbolehkan untuk pulang. Jadi, aku tidak membutuhkan makanan darimu lagi," terang Nisa.


"Kamu akan pulang ke mana? Ke rumah suamimu?" tanya Angga sambil menatap Nisa.

__ADS_1


"Aku belum memikirkan itu. Tapi, rumah yang pernah Bapak tawarkan kepadaku itu masih ada kan? Kalau bisa, aku ingin menempatinya hari ini juga begitu dokter sudah mengizinkan aku untuk meninggalkan rumah sakit," jawab Nisa sambil bertanya.


"Bisa. Aku akan hubungi pemiliknya sekarang agar saat kamu datang, rumah itu sudah dalam keadaan bersih," jawab Angga.


Nisa mengangguk.


"Aku keluar sebentar ya, mau menelpon pemiliknya," pamit Angga. "Kamu makan saja dulu makanan buatanku tadi." Setelah mengatakan hal tersebut Angga keluar dari kamar rawat Nisa itu.


Pada saat itulah, Bima datang ke kamar tersebut. Dia dan Angga sempat berpapasan di depan pintu.


"Nis, aku mohon tarik kembali gugatan ceraimu itu. Aku mohon!" pinta Bima secara tiba-tiba.


"Mas Bima."


"Adil?" lirih Nisa. "Mas bilang ingin menjadi suami yang adil?" tanya Nisa kepada Bima.


Bima mengangguk.


"Aku dirawat di rumah sakit sudah lebih dari dua hari Mas, kemana Mas Bima waktu itu?" Nisa mempertanyakan keberadaan Sang suami selama dirinya menjalani perawatan di rumah sakit. "Kamu tidak peduli apa pun kan terhadap kesehatanku dan calon anak kita."


"Nis, aku minta maaf. Tapi, aku janji, mulai hari ini aku akan memperlakukanmu dengan baik. Aku akan memperhatikanmu sama halnya aku memperhatikan Ayu." Bima tetap berusaha untuk membujuk istri pertamanya tersebut untuk mencabut gugatan cerainya.


Nisa menatap Bima kemudian menghela napasnya. "Tapi, maaf, Mas. Aku sudah tidak mau lagi dipoligami. Jika kamu ingin tetap bersamaku, maka ceraikan Ayu karena aku tidak bisa berbagi suami dengan wanita lain," ujarnya.


"Tapi, Nis.... "

__ADS_1


"Jangan serakah, Mas! Jika kamu ingin mempertahankan salah satu dari kami, maka Mas harus melepaskan salah satu dari kami juga," potong Nisa. "Sebelum kamu menentukan pilihanmu, maka gugatan cerai itu tetap akan aku lanjutkan," tambah Nisa.


Saat itulah, telepon Bima berdering dan itu dari perawat yang bertugas di ruang rawat Ayu.


"Iya, Sus, ada apa?" tanya Bima pada orang yang menelponnya.


"Apa?! Ayu mengalami sakit perut lagi. Iya-iya, Sus, aku akan segera ke sana," jawab Bima. Bima mematikan teleponnya dan menatap Nisa.


"Kamu mau menemui istri keduamu itu kan?" tanya Nisa. "Pergilah!"


"Maafkan aku, Nis. Tapi, Ayu juga sedang hamil. Dokter bilang kandungannya sangat lemah, dia tidak boleh stres dan banyak pikiran karena itu bisa membahayakan anak yang ada di dalam kandungannya," jelas Bima. Dia berharap Nisa mau mengerti posisinya saat ini.


"Aku ke ruangan Ayu dulu ya, nanti aku ke sini lagi," pamit Bima. Bima berjalan mendekati Nisa dan hendak mencium kening istri pertamanya tersebut. Akan tetapi, Nisa justru memanlingkan wajahnya dan memikih menghindar.


"Aku akan ke sini lagi setelah melihat keadaan Ayu," tutur Bima dan tidak ada jawaban dari Nisa. Wanita itu tetap enggan untuk menatap laki-laki yang masih sah menjadi suaminya. Laki-laki yang Nisa tahu kalau cintanya sudah terbagi dua.


Bima menatap Nisa sebentar kemudian keluar dari rawat ruangan tersebut.


"Apa kamu masih tetap ingin melanjutkan gugatan cerai suamimu itu, Nis? Atau kamu ingin memberinya kesempatan untuk membuktikan bahwa suamimu bisa bersikap adil kepada kalian?" tanya Angga yang entah sejak kapan sudah berada di kamar rawat Nisa lagi.


Nisa masih diam, wanita itu terlihat sedang berpikir dan menimbang sesuatu.


"Nis.... "


"Aku... Aku.... "

__ADS_1


__ADS_2