
"Kamu dengar kan perkataan pegawai tadi?" tanya Tante Meta dengan perasaan kesal.
Iya, saat pintu lift baru setengahnya tertutup pegawai itu mengatakan, "Delivery aja dandanannya sok gitu, pasti mau merayu Pak Bima."
"Sudah, Tante. Wajar mereka gitu, mereka kan nggak tahu kalau aku ini juga istrinya Mas Bima." Ayu berusaha menenangkan tantenya agar tidak marah.
"Makanya, kamu minta dong sama si Bima buat melegalkan pernikahan kalian dan minta sama dia untuk ngadain pesta pernikahan kalian secara besar-besaran, minimal yang sama lah kayak perta pernikahannya denga si Nisa," ujar Tante Meta.
"Mana bisa begitu, Tante. pernikahan aku dan Mbak Nisa berbeda. Status kami pas nikah juga beda. Mereka menikah pada saat mereka sama-sma lajang, sementara aku? Aku menikah dengan Mas Bima pada saat Mas Bima udah beristri. Bagaimana tanggapan orang tentangku, Mbak Nisa bisa menerima aku aja, aku udah bersyukur," jelas Ayu.
"Tapi berdasarkan wasiat bapaknya si Bima, bukankah harusnya kamu yang menikah dengannya? Jadi, jodoh Bima yang sebenarnya adalah kamu. Bukan Nisa!" tambah Tante Meta.
Ayu terdiam. Yang dikatakan Tante Meta memang ada benarnya, seandainya surat wasiat itu ditemukan Bima sebelum pria itu menikah dengan Nisa pasti saat ini dialah yang akan menjadi istri sah dari Bima dan mungkin ibunya bisa hidup lebih lama lagi karena ia pasti punya uang untuk membawa ibunya berobat lebih awal. Tapi, segala hal yang terjadi di dunia adalah kehendak Sang Khalik, tidak ada yang bisa merubah ketetapan itu.
"Yu," panggil Meta saat melihat keponakannya tersebut diam.
Ayu tersentak. "Eh, iya, Tante. Ada apa?" tanyanya kemudian.
"Barusan kamu melamun?" tanya Tante Meta. "Ngelamunin apa?"
"Tidak, aku hanya berpikir seandainya surat wasiat itu ditemukan oleh Mas Bima lebih awal, apa ibu masih bisa hidup sampai sekarang?" jawab Ayu. Tiba-tiba ingatan akan hari meninggalnya sang ibu berputar di kepala.
"Pasti itu. Apalagi si Bima kan kaya, dia pasti bisa membawa ibumu ke rumah sakit terbaik atau bahkan keluar negeri," sahut Tante Meta.
Ayu menghela napas panjangnya. "Aku tidak mau berandai-andai lagi. Aku yakin, ini pasti takdir yang terbaik yang Allah berikan kepadaku," ucapnya.
__ADS_1
"Dan kamu masih bisa mendapatkan takdir yang lebih baik lagi kalau kamu bisa dinikahi secara resmi oleh Bima," tambah Tante Meta.
Ayu dan Meta keluar dari dalam lift ketika tiba di lantai yang dimaksud. "Dimana ruang kerja Si Bima?" tanya Tante Meta sambil melihat kearah kiri dan kanannya secara bergantian.
"Kata Mbak Nisa lurus saja ke arah kanan lift nanti ada tulisannya di depan pintu," jawab Ayu.
"Ya sudah kalau begitu, ayo!"
Kedua wanita itu pun melangkah ke arah kanan lift. Tidak lama kemudian mereka menemuman ruangan dengan tulisan ruang Direktur di depan pintu.
"Apa ini ya, Tan ruang kerja Mas Bima?" tanya Ayu kepada Tantenya.
"Ya sudah kamu ketuk saja pintunya!" suruh Meta.
Ayu mengangkat tangan kemudian mengetuk pintu yang ada di hadapannya.
Ayu dan Tante Meta kemudian masuk ke ruangan tersebut.
"Ayu." Bima terkejut ketika tahu yang datanglah adalah Ayu.
"Iya, Mas ini aku," jawab Ayu. Ayu dan Tante Meta mendekat ke arah meja Bima.
"Ini aku bawakan makan siang buat kamu, Mas." Ayu menaruh rantang berisi makanan di atas meja.
"Lho kok kamu yang nganterin Nisa kemana?" tanya Bima. Dia segera menyingkirkan berkas-berkas yang ada di mejanya.
__ADS_1
"Mbak Nisa.... "
"Sejak pagi istri pertamamu itu entah pergi kemana," sela Tante Meta.
Ayu mengernyit. Dia tidak mengerti maksud Sang Tante mengatakan itu.
"Maksud Tante apa ya?" tanya Bima.
"Maksud Tante setelah kamu berangkat ke kantor, dia juga ikut keluar dari rumah. Katanya dia mau senang-senang dan urusan rumah ia serahkan kepada Ayu. Pokoknya dia mau saat dia pulang semua pekerjaan rumah sudah beres," jawab Tante Meta.
"Tapi, tadi aku telepon dia katanya dia sedang masak di dapur," tutur Bima.
"Bagaimana bisa dia sedang di dapur wong dia nggak di rumah. Istrimu itu malah nyuruh Ayu buat masak dan mengantarkan makan siangmu. Dia bilang karena Ayu bukan istri yang diakui secara legal, harusnya Ayu tahu diri," cerocos Tante Meta.
"Aku yakin, Nisa bukan orang seperti itu Tante. Kalau dia mau bersikap seperti itu sejak awal kubawa Ayu ke rumah, ia pasti sudah melakukannya," balas Bima.
"Jadi kamu pikir kami yang berbohong? Kalau kamu nggak percaya tanyakan saja sama Ayu."
"Yu, apa benar semua yang dikatakan oleh Tante?" tanya Bima sambil menatap ke arah Ayu.
Ayu masih diam, dia tidak tahu harus memberi jawaban apa kepada suaminya. Dia tidak mau membenarkan tuduhan Tantenya tenyang Nisa barusan.
"Yu," panggil Bima lagi.
"Katakan saja yang sebenarnya sama Bima, Yu. Kamu kan juga istrimya, kamu juga berhak mendapat pembelaan dari Bima biar si Nisa tidak semena-mena," desak Tante Meta.
__ADS_1
"Ayu apa yang dikatakan Tante itu benar? Ktakan saja yang sebenarnya kalau Nisa memang berbuat begitu, aku akan menasehatinya!" suruh Bima. "Sekarang jawab aku, apa semua yang dikatakan oleh Tante Meta tentang Nisa itu benar adanya?" tanya Bima lagi.
"Sebenarnya.... " Sebelum melanjutkan kalimatnya sekali lagi Ayu menatap suami dan tantenya.