Dimadu Karena Wasiat

Dimadu Karena Wasiat
DKW 48 - Nisa sudah berubah, Ma!


__ADS_3

"Ma, aku rasa Nisa hanya mengada-ngada," jawab Bima. "Tante Metha tidak pernah melakukan hal yang seperti Nisa tuduhkan. Nisa bilang begitu sama Mama karena Nisa kesal sama Ayu dan tantenya. Dia sengaja melakukan itu untuk membuat kita mengusir tantenya Ayu."


Ayu tersenyum senang. Dia sangat bahagia karena akhirnya Bima lebih mempercayai perkataannya dibanding aduan Nisa kepada mertuanya itu.


"Bima! Kamu kenal Nisa, kan? Kamu tahu, Nisa nggak mungkin menfitnah orang," bela Vena.


"Itu Nisa yang dulu, Ma. Nisa yang sekarang sudah berubah. Dia bahkan sering membangkang perintahku setelah beberapa kali dia minta bercerai, tapi aku tolak."


"Apa maksud kamu?"


Bima menarik napas panjangnya. Selama ini dia tidak pernah menceritakan kepada mamanya tentang Nisa yang beberapa kali memintanya untuk bercerai.


"Sebenarnya sejak aku merencanakan melegalkan pernikahan keduaku ini dan menggelar resepsi pernikahan ini, Nisa beberapa kali memintaku untuk menceraikannya." Bima bercerita.


"Tapi, kenapa waktu itu Nisa bilang tidak keberatan?" tanya Vena lagi.


"Karena aku mengancam akan memecat sahabat-sahabatnya."


"Gila kamu! Kenapa kamu sampai mengancam Nisa seperti itu Bima!" teriak Vena marah.

__ADS_1


"Aku terpaksa, Ma. Aku tidak mau kehilangan Nisa dan bayinya. Tapi, disisi lain, aku juga tidak bisa memaksa Ayu untuk terus-terusan mengalah demi dia. Ayu juga istriku, Ma. Dia berhak mendapatkan pengakuan dari dunia. Tidak terus disembunyikan seperti seorang simpanan," tambah Bima.


"Jadi menurutmu Nisa sengaja menuduh tantenya Ayu karena ingin balas dendam kepada Ayu? Begitu?" tanya Vena lagi.


"Itulah kenyataan yang terjadi, Ma. Nisa, tidak suka dengan Ayu dan Tantenya sehingga dia sengaja menuduh tantenya Ayu melakukan itu agar kita mengusir tantenya Ayu dan tidak adalagi orang yang membela Ayu di rumah," cerocos Bima.


"Jadi, kamu kira keberadaan Nisa di rumah sakit hanya rekayasa? Hanya bohongan begitu?" tanya Vena mulai emosi.


"Mungkin memang benar dia berada di rumah sakit sekarang, tapi itu pasti karena ulahnya sendiri. Dia memaksakan diri untuk tetap bekerja padahal dalam keadaan hamil. Jadi, jika dia sampai masuk ke rumah sakit itu adalah atas ulahnya. Dan jika karena kebodohannya tersebut, calon anak kami kenapa-napa, maka aku akan menyalahkannya."


"Bekerja? Jadi, Nisa bekerja?" Vena yang baru mendengar menantunya itu kembali bekerja, merasa sedikit syok.


"Sudah sebulan lebih dia bekerja. Padahal aku sudah melarangnya. Tapi, dia malah mengancam tidak akan membiarkanku menggelar pesta resepsi, jika aku melarangnya bekerja," terang Bima lagi.


"Apa pun alasannya, Nisa sudah berubah, Ma. Nisa sudah tidak seperti yang dulu."


"Jadi, kamu lebih percaya kalau Nisa sengaja memfitnah tantenya Ayu?"


"Karena itulah kenyataannya, Ma," jawab Bima. "Kalau tidak ada hal yang mau Mama katakan lagi, Bima tutup dulu teleponnya."

__ADS_1


"Tapi, Bim.... "


"Satu lagi, Mama tidak boleh mengusir tantenya Ayu dari rumah!" Setelah mengatakan itu, Bima langsung mengakhiri panggilannya. Dia meletakkan dengan kasar telepon genggamnya di atas nakas.


Ayu segera menghambur memeluk suaminya itu. "Terima kasih ya, Mas. Karena kamu lebih mempercayaiku daripada Mbak Nisa," ucap Ayu.


Meski di mulut, Bima mengatakan mempercaya pada perkataan Ayu. Tetapi, tidak dengan hatinya. Ada sesuatu yang terasa mengganjal di hatinya.


"Mas, apa Mas mau melanjutkan yang belum selesai tadi?" tanya Ayu dengan tatapan manjanya.


"Tidak, Yu. Aku sudah tidak ingin, mood-ku sedikit jelek," tolak Bima.


"Ya sudah tidak apa-apa aku tidak mau memaksamu. Kalau begitu aku mandi dulu ya, nanti kita sarapan bareng."


Bima mengangguk.


šŸ‚šŸ‚


Aku udah up dua bab ya. Jadi, jangan lupa untuk tetap berikan like, komen, vote, dan giftnya. Terima kasih.

__ADS_1


Ohya, mampir juga ke cerita sahabat author dong judulnya BOS DINGIN SI GADIS CENDOL, karya PUTRI TANJUNG. Jangan lupa tinggalkan jejaknya juga ya. Terima kasih.



__ADS_2