Dimadu Karena Wasiat

Dimadu Karena Wasiat
DKW 97


__ADS_3

"Ayo Nis, kita jemput Daffa sekarang! Takutnya dia sudah kelamaan nunggu kita!" ajak Bima setelah turun dari mobil miliknya. Bima sengaja mendatangi Nisa di salah satu toko milik wanita itu.


Nisa masih diam. Wanita yang sudah menjadi mantan istri Bima itu seperti sedang mencari keberadaan seseorang.


"Nyari siapa? Si Angga?" tebak Bima. "Dia nggak bisa ikut jemput Daffa karena ada urusan mendesak dengan keluarganya."


Dia berharap tebakannya itu salah. Tetapi melihat reaksi yang ditunjukkan oleh mantan istrinya tersebut membuatnya yakin memang Angga lah orang yang sedang dicari oleh wanita itu.


"Ouh, begitu ya?" ujar Nisa.


"Ayo cepat masuk ke mobilku, kalau pakai mobilmu lama!" seru Bima.


Nisa melihat ke arah mobilnya yang sedang di parkir di halaman parkir toko, mobil itu terparkir diantara truk box dan mobil pick up yang sedang menurunkan barang-barang untuk toko, rasanya akan sedikit memakan waktu jika harus menunggu sampai truk dan mobil pick up itu pergi dari sana.


"Baiklah. Aku ambil tas dulu di dalam," jawab Nisa. Dia meminta izin untuk mengambil tas dari dalam toko.


Kurang dari lima menit, Nisa sudah keluar dari toko dengan tas yang sudah digantung di salah satu bahunya. Ia langsung masuk ke dalam mobil milik mantan suaminya.

__ADS_1


"Ayo jalan!" suruh Nisa.


Sambil tersenyum Bima segera melajukan mobil yang dikendarainya tersebut. Dia senang karena akhirnya ia bisa pergi bertiga layaknya keluarga kecil yang bahagia.


*


"Ada apa, Mas? Sepertinya happy?" tanya Nisa ketika melihat mantan suaminya tersebut terus tersenyum.


"Tentu saja aku happy, akhirnya kita bisa pergi bertiga layaknya sebuah keluarga," jawab Bima. Dia menatap Nisa sebentar kemudian tersenyum.


Nisa memilih untuk tidak menanggapi perkataan Bima barusan karena apa pun yang dikatakan oleh pria itu sudah tidak ada pengaruh apa pun baginya.


"Sayang, maaf ya Mama sedikit telat," ucap Nisa pada putranya. Daffa hanya membalasnya dengan mengangguk.


"Miss Lisa, terima kasih karena sudah menjaga putra saya sampai saya datang." Nisa menyampaikan rasa terima kasihnya itu kepada wali kelas putranya.


"Tidak masalah Bu Nisa, ini sudah menjadi tugas saya," jawab wali kelas Daffa yang dipanggil dengan nama Miss Lisa.

__ADS_1


"Daffa ayo salim sama Miss, setelah itu kita pulang!" suruh Nisa.


"Ma, Om Angga mana?" Bukannya melakukan hal yang disuruh oleh Nisa, Daffa justru menanyakan keberadaan Angga.


"Om Angga ada keperluan mendadak sayang, makanya dia nggak bisa ikut jemput Daffa," Nisa memberitahu.


"Yah... tapi, Ma. Om Angga kan tadi udah janji mau ikut jempat Daffa!"


"Memang Daffa keberatan kalau papa yang jemput?" tanya Bima dengan memasang ekapreksi sedih.


"Nggak kok, Pa. Daffa senang kok dijemput sama Papa dan Mama," jawab Daffa.


"Ya sudah, kalau begitu Daffa salim sama Miss Lisa, setelah itu kita pergi jalan-jalan! Daffa mau kan?" suruh Bima.


"Iya, Pa. Daffa mau." Daffa segera mencium punggung tangan wali kelasnya tersebut.


"Hati-hati ya, Daffa. Sampai ketemu lagi besok," ujar Miss Lisa sambil melambaikan tangannya.

__ADS_1


"Iya, Miss," jawab Daffa.


Setelah berpamitan, Daffa dan Nisa masuk ke dalam mobil milik Bima.


__ADS_2