Dimadu Karena Wasiat

Dimadu Karena Wasiat
DKW 90


__ADS_3

"Sepertinya Daffa kecapekan," ucap Angga saat melihat Daffa tertidur di sofa dengan baju dan pipi yang masih belepotan dengan kue.


"Iya, sepertinya. Soalnya tadi setelah main dengan Mas Bima di mall, dia langsung minta datang ke sini," jelas Nisa. "Terima kasih ya, Ngga, karena kamu sudah membuat anakku bahagia."


"Sama-sama, Nis. Aku senang kok melakukannya," jawab Angga.


"Aku juga berterima kasih karena kamu sudah menemani anakku saat ada acara di sekolahnya. Aku baru tahu tentang itu tadi pagi, sekali lagi terima kasih ya, Ngga," ucap Nisa lagi.


Angga menyandarkan tubuhnya di pagar balkon. "Aku tidak sengaja bertemu dengannya sedang menangis di taman waktu itu. Saat mendengar ceritanya, akhirnya aku memutuskan ikut dia ke sekolah dan sejak saat itu kita sering bertemu dan bermain di taman," jelas Angga.


"Pantas saja dia sering terlambat pulang, ku kira ada kegiatan lain di sekolah," timpal Nisa. "Sejak kecil dia hanya hidup berdua denganku, aku kira aku bisa memberikan kasih sayang seorang ibu dan ayah sekaligus kepadanya, tetapi kenyataannya tetap tidak bisa. Dia tetaplah anak kecil yang membutuhkan figur seorang ayah. Mungkin itulah yang membuatnya langsung akrab denganmu, karena kamu memberinya kasih sayang yang selama ini dia butuhkan." Entah kenapa tiba-tiba Nisa ingin menceritakan itu.


"Jadi, waktu itu kamu nggak balikan sama Bima?" tanya Angga.


Dulu Angga mengira kalau Nisa benar-benar kembali dengan mantan suaminya tersebut. Hatinya bahkan sempat hancur saat itu.


"Mana mungkin aku kembali dengan orang yang sudah mengkhianati aku. Aku mungkin bisa memaafkan luka yang sudah ia torehkan di hidupku, tapi tidak untuk melupakannya," jawab Nisa.


"Ya... Meski pada akhirnya aku memaafkan dia demi Daffa, tapi bukan berarti aku harus kembali sama dia juga kan? Lagian aku tidak pernah memiliki pikiran untuk menikah lagi sejak saat itu. Aku takut akan terluka untuk yang kedua kalinya," lanjut Nisa.


"Kamu sendiri bagaimana? Waktu itu kalau tidak salah kamu kan sudah punya tunangan kan? Pasti sekarang kalian sudah menikah. Dimana istrimu sekarang? Apa setelah menikah istrimu kembali lagi ke luar negeri dan hidup di sana? Makanya tadi kamu bilang kesepian?" cecar Nisa.


"Pertunanganku ba.... "


Belum selesai Angga berbicara ponsel milik pria itu berdering.


"Sebentar ya, Nis, aku jawab ini dulu." Angga memint izin. Dia sedikit menjauh dari Nisa untuk menjawab telepon tersebut.


Nisa hanya mengangguk sebagai jawaban. "Mungkin itu dari sitrinya," gumam Nisa.


Tidak lama kemudian, Angga kembali lagi. "Maaf ya barusan aku tinggal sebentar. Tadi pembicaraan kita sampai di mana ya?" tanya Angga begitu kembali ke hadapan janda beranak satu tersebut.


"E... Ngga, sepertinya aku harus pulang sekarang. Karena sebentar lagi aku harus bertemu dengan distributor," Nisa berpamitan setelah melihat jam tangannya.

__ADS_1


"Kamu sekarang bekerja di bidang apa, Nis?" tanya Angga. Dia ingin tahu bidang yang digeluti oleh wanita berhijab tersebut.


"Aku buka toko online. Ya... Sebagai ibu beranak satu, aku mencoba mencari peruntungan lewat jualan online karena aku nggak mungkin ninggalin anakku untuk bekerja. Awalnya masih kecil-kecilan sih dan belum ada toko fisiknya. Tapi, sekarang alhamdulillah aku sudah memiliki beberapa toko dan karyawan yang membantu," jawab Nisa.


"Kamu memang selalu menjadi wanita yang hebat ya, Nis. Dulu, waktu masih hamil pun kamu tetap berusaha mencari pekerjaan. Pantas saja kamu jadi wanita sukses," puji Angga.


Nisa hanya membalasnya dengan senyuman.


"Aku pamit ya, Ngga," pamit Nisa lagi.


"Kamu tidak mau mengganti kerudungmu dulu?" tanya Angga.


Nisa memperhatikan kerudung yang dipakainya. Memang semuanya putih akibat terkena tepung tadi. "Nanti saja aku ganti di rumah. Lagian kamu juga nggak punya kerudung kan?"


"Iya, sih," jawab Angga sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Tapi, Nis, bagaimana kamu akan bawa Daffa pulang?" tanya Angga kepada Nisa.


"Biar aku." Angga terlebih dulu menggendong Daffa.


"Ngga usah, Ngga. Aku kuat kok," tolak Nisa. Dia tidak mau membuat repot Angga.


"Tidak. Biar, aku!" ucap Angga tegas.


"Tapi.... "


"Daffa cukup berat, Nis. Kalau kamu yang gendong, takutnya kalian berdua yang akan jatuh barengan," sela Angga.


Dengan terpaksa, Nisa membiarkan Angga membantunya menggendong Daffa. Keduanya berjalan beriringan menuju ke rumah Nisa.


Rumah Nisa hanya berjarak kurang dari 100 meter dari restoran Angga.


"Sudah sampai," ucap Nisa. "Sini biar aku saja yang bawa ke dalam." Kembali Nisa hendak merebut Daffa dari gendongan Angga. Namun, langsung ditolak.

__ADS_1


"Aku akan membantumu membaringkannya di kamar," tolak Angga.


Nisa pun kembali pasrah, dia segera membuka pintu dan mempersilakan Angga untuk masuk ke dalam rumah. Kebetulan asisten rumah tangga dan Rini sedang ada di toko untuk membantu mengepak barang yang harus segera dikirim ke konsumen.


"Kamar Daffa di mana?" tanya Angga lagi.


"Di lantai dua," jawab Nisa.


"Cepat tunjukan!" seru Angga.


Nisa pun naik ke lantai dua menuju ke kamar Daffa dan Angga mengekorinya dari belakang.


Kamar Daffa terbilang cukup luas. Ada tempat tidur yang dibentuk menyerupai mobil-mobilan. Lampu kamar pun di desain membentuk mobil-mobilan. Tembok kamar itu bercat biru dengan gambar mobil-mobilan juga. Dilihat dari semua pernak pernik yang di desain dengan bentuk mobil, dapat disimpulkan jika Daffa menyukai segala sesuatu yang berhubungan dengan kendaraan beroda empat tersebut.


"Tidurkan dia di sini!" Nisa menunjuk ranjang tempat tidur anaknya yang sudah di rapikan.


Dengan sangat berhati-hati, Angga membaringkan bocah lima tahun itu di tempat tidurnya. Dia berusaha agar tidak membuat gerakan yang akan membuat anak itu terbangun.


"Terima kasih ya, Ngga," ucap Nisa.


Angga mengangguk, dia pun hendak bangun dari posisinya. Namun, saat akan berdiri ternyata kaoe Angga dipegang dengan sangat erat oleh Daffa dan membuat Angga tetap berada di posisi agak membungkuk.


"Biar aku bantu," ucap Nisa. Dia berjongkok di sebelah Angga dan dengan sangat pelan Nisa melepaskan satu persatu jemari putranya yang menggenggam kaos yang dipakai oleh Angga tersebut


"Ah, akhirnya lepas juga," ujar Nisa lega.


Nisa begitu terkejut ketika menyadari posisinya dan Angga begitu dekat. Bahkan ketika ia mendongak wajah mereka hampir bersentuhan dan itu membuat Nisa refleks memundurkan tubuhnya. Sayangnya hal itu justru membuatnya hampir terjatuh. Beruntung, Angga dengan cekatan menangkap pinggang langsing Nisa.


Dan lagi-lagi, tatapan mata keduanya kembali terkunci. Posisi itu membuat jantung Nisa kembali berdisko dan seperti mau melompat dari tempatnya. Hal yang sama pun dirasakan oleh Angga.


Bibir tipis berwarna pink milik Nisa berhasil manarik perhatian Angga. Angga semakin menarik pinggang Nisa agar lebih mendekat ke arahnya dan Nisa dia memegang kuat kedua bahu pria itu.


Nisa memejamkan matanya katika wajah Angga semakin mendekat ke arah wajahnya. Jarak yang tinggal beberapa sentimeter itu pun semakin terkikis, namun tiba-tiba...

__ADS_1


__ADS_2