
"Tante sudah jujur, Bima. Semua yang Tante katakan sama Ayu tadi pagi itu benar," Tante Metha masih kekeh dengan jawaban awalnya.
"Yakin, Tante tidak sedang membohongi aku?" sekali lagi Bima bertanya.
"Tentu saja, Bima."
"Lalu ini apa?" Bima menunjukkan rekaman cctv di jalan yang semalam tante Metha lewati. Jalanan itu memang sepi, namun karena dulu pernah terjadi begal payu dara pemerintah setempat memasang cctv di sana dan Bima berhasil mendapatkan rekaman cctv itu dari orang suruhannya. Meski, ia terpaksa mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk bisa mendapatkan rekaman cctv tersebut.
Dalam rekaman cctv itu terlihat jelas, Tante Ayu memaksa Nisa untuk keluar dari taksi kemudian meninggalkannya disana, terlihat juga Nisa seperti menghubungi seseorang, namun belum sempat berbicara, wanita itu sudah pingsan. Tidak lama Angga datang dan membawanya pergi dari tempat tersebut.
Kedua bola mata Tante Metha dan Ayu membulat. Mereka tidak percaya kalau Bima akan mendapatkan rekaman cctv itu.
Pagi tadi setelah menemui Nisa, diam-diam Bima menyuruh orang untuk menyelidiki kejadian semalam yang menimpa istri pertamanya tersebut. Demi menemukan sebuah kebenaran tidak segan dia rela mengeluarkan uang yang jumlahnya lumayan besar. Dan setelah pulang dari kantor pengacaranya, Bima mendapatkan rekaman cctv tersebut.
"Tante! Jadi, Tante membohongi Ayu?!" Ayu berpura-pura membentak tantenya tersebut.
"Tante tahu perbuatan Tante itu hampir saja mencelakai Mbak Nisa dan janinnya. Gimana kalau mereka kenapa-napa?"
Ayu memberikan isyarat kepada Tante Metha untuk berpura-pura meminta maaf.
"Yu, Bima, maafin Tante," pinta Tante Metha. "Tante khilaf."
"Kenapa Tante melakukan itu kepada Nisa?! Hah?! Apa salah Nisa pada Tante?!" teriak Bima, dia terlihat begitu emosi.
"Maafin, Tante, Bim. Tante melakukan itu karena takut kamu akan lebih menyayangi Nisa dibanding Ayu. Apalagi, kamu melarang Ayu untuk hamil. Tante minta maaf." Tante Metha bersimpuh dihadapan suami dari keponakannya tersebut.
"Ya ampun Tante. Kenapa Tante harus melakukan itu? Ayu ikhlas menjalani ini semua kok Tante." Ayu berpura-pura menangis.
__ADS_1
"Maafkan aku, Yu. Kali ini aku tidak bisa mentolerir kesalahan Tantemu. Aku tidak bisa tinggal bersama dengan wanita yang membenci istriku."
"Maksud Mas Bima apa?"
"Tante Metha tidak bisa lagi tinggal di sini," jawab Bima. Tentu saja jawaban tersebut membuat Tante Metha dan Ayu kembali tersentak.
"M-Mas, tapi kalau Tante Metha diusir dari sini, dia akan tinggal dimana, Mas?" tanya Ayu terbata.
"Terserah kamu mau membawa tantemu itu tinggal dimana, tapi, tidak di sini," jawab Bima. Setelah mengatakan itu Bima langsung masuk ke kamarnya.
"Yu, bagaimana ini? Dimana Tante harus tinggal sekarang?" tanya Tante Metha cemas.
"Untuk sementara Tante tinggal di hotel dulu ya. Nanti aku akan cari cara biar Mas Bima ngizinin Tante tinggal di sini lagi," jawab Ayu.
"Baiklah, tidak masalah. Tapi, Tante minta kamu memberi uang yang banyak untuk Tante sebagai pegangan."
***
Pukul 19.00 WIB, Angga kembali mendatangi Nisa di rumah sakit. Kali ini ia membawakan berbagai jenis makanan mulai dari ikan salmon tahu dan tempe, sayur, besarta buah-buahanan. Untuk salmon dan tahu-tempe, Angga sengaja mengolahnya sendiri di rumah. Dia yang memang pernah mengikuti les masak meski hanya bertahan dua minggu, ingin memberikan masakan pertamanya itu kepada Nisa.
Tanpa mengetuk pintu, Angga langsung masuk ke ruang rawat Nisa.
"Nis, ini aku bawakan makanan buat ka...." Angga tidak melanjutkan perkataannya, dia langsung menyembunyikan makanan yang ia bawa di balik badannya karena ternyata ada ketiga sahabat Nisa di sana.
"Pak Angga, kok nggak ngabarin sih kalau mau ke sini?" tanya Nisa ketika melihat keberadaan bosnya.
"E... Kebetulan saya lewat, jadi sekalian mampir," jawab Angga berbohong. "Ya udah deh karena sudah ada teman-temanmu, aku langsung pulang. Semoga cepat pulih ya, Nis." Angga langsung berpamitan.
__ADS_1
"Pak Angga," panggil Nisa.
"Iya."
"Bukannya yang ada di tangan Bapak makanan ya? Sepertinya baunya enak?" tanya Nisa sambil membaui aroma makanan yang sedikit keluar dari rantang yang dibawa oleh Angga.
"Kamu mau mencobanya?" tanya Angga ekspresi wajah ceria.
"Kalau boleh sih," jawab Nisa yang disertai cengiran kudanya.
"Tentu saja, boleh," jawab Angga sambil kembali mendekat ke arah Nisa. Dia membuka rantang bawaannya.
"Wah... tadi aroma makanannya yang menggoda dan sekarang lihat bentuknya juga indah, saya jadi makin tergoda untuk memakannya," ujar Nisa.
"Kalau begitu makan saja!" suruh Angga.
Nisa mulai mengambil makanan yang Angga bawa itu dengan sendok dan memasukkannya ke dalam mulut.
"Bagaimana? Enak?" tanya Angga tidak sabaran.
"E..... "
Angga menatap Nisa serius, dia menunggu jawaban yang akan keluar dari mulut wanita yang saat ini sedang duduk di ranjang pasien.
ššš
Maaf ya gaes, telat. Tadi ada kendala dikit šāļø. Jangan lupa like, komen, vote, dan gitfnya ya terima kasih.
__ADS_1