
Keesokan paginya....
Seperti pagi-pagi sebelumnya dengan dibantu oleh Bik Asih, Nisa menyiapkan sarapan untuk suaminya. Meski masih sakit terhadap sikap suaminya kemarin, Nisa masih tetap berusaha untuk tetap melakukan kewajibannya. Nisa tahu sebagai seorang istri dia masih berkewajiban untuk melayani kebutuhan sang suami meskipun hanya kebutuhan sehari-harinya.
"Bik, tolong kamu taruh semua makanan ini di meja terus panggil Tuan dan yang lainnya untuk sarapan. Aku mau mandi dan siap-siap dulu!" perintah Nisa kepada asisten rumah tangganya tersebut.
"Iya, Nyonya," jawab Bik Asih. "Nya," panggil Bik Asih sambil terus memperhatikan wajah Nyonya tersebut.
"Iya, Bik. Ada apa?"
"Pipi, Nyonya, kenapa? Kok kayak biru gitu?" tanya Bik Asih.
Nisa menutup pipinya dengan menggunakan telapak tangan. "Itu, Bik. Kemarin aku kejedok pintu, makanya agak biru dikit," jawab Nisa.
"Oh... saya kira karena hal lain. Maaf ya, Nya, saya nggak bermaksud kepo, saya hanya mengkhawatirkan Nyonya saja," ucap Bik Asih.
"Iya, Bik, gak apa-apa. Udah ya, Bik, aku tinggal mandi dulu ya." Setelah mengatakan itu Nisa meninggalkan dapur dan naik ke lantai dua menuju ke kamarnya.
Setelah menaruh semua makanan itu di meja, Bik Asih memanggil satu per satu penghuni rumah. Tidak lama kemudian semuanya sudah berkumpul di meja makan.
"Nyonya Nisa mana, Bik?" tanya Bima begitu ia sudah duduk di meja makan dan tidak melihat keberadaan istrinya di sana.
"Nyonya katanya mau mandi dan siap-siap, Tuan," jawab Bik Asih.
"Ya udah, Mas, kita makan dulu saja. Biar nanti Mbak Nisa menyusul," ucap Ayu. Dia mengambil piring dan hendak mengambil makanan itu terlebih dulu, namun dihentikan oleh Bima.
"Yu, kita tunggu Nisa. Semua makanan ini kan disiapkan oleh Nisa, setidaknya hargai dia!" seru Bima.
Dengan wajah sedikit masam, Ayu meletakkan kembali piring di tangannya di atas meja. Dia menuruti perkataan Bima untuk menunggu kedatangan Nisa di meja makan.
Beberapa menit kemudian terlihat Nisa sedang menuruni anak tangga dengan mengenakan pakaian kantor. Dia kemudian duduk di kursi kosong di sebelah kanan Bima.
__ADS_1
"Kamu mau kemana, Nis?" tanya Bima saat melihat istrinya terlihat rapi.
"Aku mau berangkat kerja, Mas," jawab Nisa tanpa menatap Bima.
"Bekerja? Dimana? Siapa yang memberimu izin untuk bekerja?" cecar Bima.
"Iya, aku sudah mulai bekerja sejak kemarin. Kenapa? Mau melarangku?" jawab Nisa sambil menatap mata suaminya.
"Memang jatah bulanan yang aku berikan kepadamu kurang apa? Sampai-sampai kamu harus bekerja dalam keadaan hamil seperti ini?"
"Memang tidak kurang. Tapi, aku punya alasan lain kenapa aku harus bekerja. Ingat, Mas, kali ini kamu tidak bisa melarangku. Jika kamu melarangku untuk bekerja, maka aku pastikan saat resepsi pernikahan kalian aku akan membuat ulah," jawab Nisa sembari mengancam. Jika suaminya bisa mengancamnya menggunakan ketiga sahabatnya, maka ia pun bisa melakukan hal yang sama kepada suaminya itu.
"Nis.... "
"Mas, sudahlah. Izin kan saja Mbak Nisa bekerja, nanti juga kalau dia capek, dia akan berhenti sendiri. Atau Mas memang mau Mbak Nisa bikin ulah di resepsi pernikahan kita nanti?" potong Ayu. Dia berusaha merayu suaminya untuk membiarkan suaminya mengizinkan Nisa bekerja.
Bima tampak memikirkan perkataan Ayu dan jawaban Nisa barusan. Setelah beberapa saat, ia pun menjawab, "Baiklah. Aku akan mengizinkanmu bekerja. Tapi, ingat! Kamu harus bisa menjaga calon anak kita!"
Nisa segera menikmati sarapannya pagi itu. Sesekali dia melirik suaminya dan berharap suaminya akan kembali meminta maaf atas perbuatan kasarnya kemarin. Sayangnya, sampai ia selesai sarapan hal itu tidak pernah terjadi.
Nisa segara bangun dari tempat duduk ketika taksi online yang ia pesan sudah datang. "Aku berangkat, Mas. Taksiku sudah menunggu, assalammualaikum!" pamit Nisa. Dia langsung pergi meninggalkan tempat itu tanpa mencium tangan suaminya terlebih dulu. Padahal Bima sudah mengangkat sedikit tangannya karena mengira Nisa akan mencium tangan seperti yang wanita itu lakukan ketika hendak pergi.
"Waalaikummussalam," jawab Bima ketus.
Ayu dan Tante Meta tersenyum senang melihat adegan itu. Karena artinya mereka sudah berhasil memberi sekat antara Bima dengan istri pertamanya tersebut.
***
Ketika tiba di perusahaan CAMP Grup, Nisa langsung naik ke lantai 10. Sebelum memulai pekerjaannya, Nisa pergi ke ruang kerja Angga untuk mengembalikan kartu debit milik pria itu yang tidak jadi ia kembalikan kemarin.
Tok-tok-tok!
__ADS_1
Nisa mengetuk daun pintu yang ada di hadapannya.
"Masuk!" suara Angga dari dalam.
Sebelum memutar knop pintu, Nisa menarik napas terlebih dulu. Dia harus bisa melupakan hal yang dilihatnya kemarin.
"Maaf, Pak Angga. Ini kartu debit Anda. Silakan dicek terlibih dulu isi saldonya," ujar Nisa sambil menyerahkan kartu debit di tangannya kepada Angga.
Angga menerima kartu debit tersebut dari tangan Nisa. "E... Soal kemarin.... "
"Saya janji, Pak, tidak akan mengatakan hal yang saya lihat itu kepada orang lain," potong Nisa sebelum Angga menyelesaikan kalimatnya.
"Dengar! Kamu salah paham, kemarin aku dan Pak Cevan tidak sedang.... "
"Saya akan pura-pura tidak tahu, Pak," sela Nisa lagi.
"Nisa. Bisa nggak sih nunggu aku selesai bicara?" tanya Angga sambil menatap wanita yang saat ini beridiri di depannya.
"I... Iya, Pak. Bisa. Maafkan saya," ucap Nisa.
"Hal yang kamu lihat kemarin itu salah. Kemarin itu Pak Cevan cuma sedang membantu saya merapikan dasi. Tapi, karena kamu melihatnya dari angle yang berbeda, kamu jadi salah paham. Mengerti?" Dengan pelan-pelan Angga menjelaskan situasi yang terjadi kemarin kepada sekretaris barunya tersebut. Dia tidak mau Nisa mengira kalau dirinya memiliki kelainan.
"I... Iya, Pak."
"Kamu percaya dengan ucapan saya barusan, kan?" tanya Angga lagi.
"Iya, Pak, iya, saya percaya." Nisa menjawab pertanyaan bosnya tersebut dengan cepat. "Sekarang saya boleh pergi dari sini, kan, Pak?" tanya Nisa kemudian.
"Tunggu!" Angga menghentikan langkah Nisa ketika wanita itu hendak keluar dari ruang kerjanya.
"I... Iya, Pak," jawab Nisa sedikit terbata. Dia takut bosnya akan marah dan memecatnya.
__ADS_1
Angga masih belum menjawab, laki-laki itu terus memperhatikan Nisa dengan seksama. Dan membuat Nisa begitu deg-degan. Dia benar-benar takut kalau dia akan benar-benar kehilangan pekerjaan itu sekarang.