Dimadu Karena Wasiat

Dimadu Karena Wasiat
DKW 7 - Kenapa rasanya begitu berat mengikhlaskan?


__ADS_3

Tok tok tok!


Dengan makanan di tangan, Ayu mengetuk pintu kamar mertuanya. Ada perasaan takut saat dia mengetuk pintu kamar itu. Ayu takut akan mengganggu waktu mertuanya beristirahat. Akan tetapi kekhawatirannya terhadap kesehatan Vena membuat wanita yang baru saja menyandang istri ke dua dari Bima itu tetap memberanikan diri menemui wanita yang menjadi salah satu sumber keberkahan bagi suaminya.


"Siapa?" tanya Vena dari dalam kamar.


"Ini Ayu, Ma."


Ceklek! Pintu terbuka, terlihat Vena menatap Ayu dengan tatapan malas. "Ada apa?"


"Ini Ayu bawakan makan malam buat Mama."


"Mama belum lapar, bawa saja itu kembali ke dapur!" suruh Vena.


"Tapi, Ma.... "


"Oiya, apa Nisa sudah makan?"


"Mas Bima sedang membawakan makanan untuk Mbak Nisa."


Tepat setelah Ayu mengatakan itu, Bima datang ke kamar mamanya.


"Bagaimana, Bim, apa Nisa mau makan?" tanya Vena cemas.


"Aku tidak tahu, Ma. Dia hanya menyuruhku untuk meninggalkan makanan itu di meja," jawab Bima. Dia terlihat sedih dan putus asa.


"Semoga saja Nisa mau makan. Selain mengkhawatirkan keadaannya, mama juga mengkhawatirkan kandungannya." Vena juga ikut mencemaskan keadaan menantu pertamanya tersebut.


"Ma, Mas Bima, apa boleh aku yang membujuk Mbak Nisa untuk makan?" Dengan hati-hati, Ayu yang merasa bertanggung jawab dengan semua kekacauan ini meminta izin.


"Mama tidak setuju, karena terlepas dari surat wasiat itu, kamulah penyebab semua ini terjadi," tolak Vena. Bagaimanapun dia tidak mau membuat Nisa merasa terluka lagi.


"Ma." Sentak Bima.


Vena menghembuskan napas berat. "Sudahlah, toh semua sudah terjadi. Mungkin ini memang sudah takdir kalian."


"Yu, kamu istirahatlah! Urusan Nisa, biar semua menjadi tanggung jawabku!" Bima mengusap lengan istri mudanya dan menyuruhnya untuk pergi dari kamar mamanya.


Ayu mengangguk. "Aku kembali ke kamar dulu ya, Ma. Ingat, Mama juga harus makan. Kalau Mama sakit, Mbak Nisa pasti akan bertambah sedih."


Vena menatap menantunya itu sebentar. Meski Vena tidak menyukai Ayu karena dia adalah istri kedua dari anaknya, tetapi tak bisa dipungkiri kesan pertama Vena terhadapnya Ayu adalah dia wanita yang baik.

__ADS_1


Ayu keluar meninggalkan kamar mertuanya dan membiarkan suaminya itu untuk berbicara dengan suaminya.


Bima kembali berbicara dengan mamanya sebentar. Setelah memastikan mamanya menghabiskan makanannya, dia pun keluar dari kamar itu.


Bima memilih tidur di ruang tamu karena dari sanalah dia bisa melihat kamar istri pertamanya. "Nis, semoga kamu bisa mengerti dengan keputusan yang aku ambil," ucapnya dalam hati.


Malam itu semua orang tidak bisa tidur, mereka sibuk dengan kekalutan di hati masing-masing.


***


Pukul setengah lima pagi, Nisa terbangun. Dan hal pertama yang ia lakukan adalah pergi ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. Jika biasanya dia akan membangunkan Bima untuk menjadi imamnya dalam mengejarkan salat wajib dua rakaat tersebut, kali ini Nisa tidak melakukannya. Dia memilih melakukan salat sendirian.


"Mas Bima sudah salat belum ya?" batin Nisa. Meski dia masih marah dengan suaminya dan tidak mau mengerjakan salat bersama suaminya tersebut, tetapi Nisa tidak menginginkan laki-laki yang masih menjadi imamnya itu malalaikan kewajibannya kepada Sang Pencipta.


Nisa melipat mukena yang baru saja ia pakai dan menyimpannya. Setelah mengambil hijab instan berwarna merah maroon dari dalam lemari, dia pun melangkah keluar dari kamarnya.


Nisa tidak tahu harus membangunkan suaminya di kamar yang mana. Karena ada tiga lebih kamar tamu di rumah itu.


"Mungkin saja wanita itu sudah membangunkan Mas Bima bahkan mereka sudah salat bersama." Tiba-tiba Nisa merasa ragu. "Sudahlah, lebih baik aku kembali ke kamar," batinnya lagi.


Namun, saat Nisa baru akan kembali ke kamarnya dia melihat Bima yang masih tertidur di sofa yang ada di ruang tamu.


Nisa melanjutkan langkahnya menuruni anak tangga dan ketika tinggal tiga anak tangga lagi dia sampai di lantai dasar, tiba-tiba seorang wanita menghampiri suaminya tersebut.


Seketika langkah Nisa terhenti. Dia hanya mampu menatap wanita yang sedang membangunkan Bima.


"Mas bangun!" panggil Ayu.


Bima menggeliat, tidak lama kemudian laki-laki itu akhirnya membuka matanya.


"Kita salat, yuk! Ini sudah hampir jam lima lho!" ajak Ayu.


Meski sesak, Nisa berusaha memaklumi karena memang itulah salah satu tugas Ayu sebagai istri.


Bima bangun dari posisinya. "Maafkan aku ya, Yu!"


"Untuk?"


"Karena aku membawamu pada situasi yang tidak mengenakan ini," ucap Bima sambil menarik tangan Ayu dan menggenggamnya.


"Iya, Mas. Tidak apa-apa, aku ngerti kok." Ayu membalas genggaman tangan Bima.

__ADS_1


"Terima kasih ya karena kamu sudah mau memahami keadaanku."


Ayu mengangguk. "Iya, Mas."


Arya sedikit mendekatkan wajahnya ke Ayu, kemudian dengan lembut ia mengecup kening Ayu, tidak lama juga tidak sebentar. Ayu memejamkan matanya meresapi kecupan hangat suaminya.


Meski hal itu adalah hal yang lumrah bagi pasangan suami istri, tetap saja hal tersebut membuat hati Nisa sakit. Wanita itu tidak bisa mendeskripsikan sesakit apa hatinya saat ini.


"Ya udah, Mas, ayo bangun! Kita salat berjamaah!" ajak Ayu lagi.


"Iya."


Pada saat Bima akan beranjak dari sofa saat itulah, dia baru menyadari keberadaan Nisa yang sedang menatapnya di tangga. Sadar Bima sudah melihat keberadaannya, Nisa segera mebuang pandangannya ke tempat lain dan berbalik.


"Nis, kita salat bareng!" ajak Bima ketika istri pertamanya tersebut hendak melangkah kembali naik ke lantai atas.


"Aku sudah salat kok, Mas," jawab Nisa. Dia berusaha mengalihkan pandangan matanya ke tempat lain. "Aku permisi!"


"Mbak!" panggil Ayu.


Nisa kembali menghentikan langkahnya.


"Apa Mbak marah karena aku yang membangunkan Mas Bima?" tanya Ayu.


"Untuk apa aku marah, bukankah itu juga kewajibanmu," jawab Nisa.


"Atau Mbak marah karena perbuatan Mas Bima barusan?" kembali Ayu bertanya.


"Aku tidak ada hak untuk marah. Kalian pasangan sah, jadi wajar melakukan itu."


"Tapi, Mbak.... "


"Sudah sana kalian salat! Waktu subuh hampir habis!" suruh Nisa. Setelah mengatakan itu. Nisa benar-benar kembali ke kamarnya.


Nisa kembali menutup pintu kamarnya. Tubuhnya luruh ke lantai seiring dengan air mata yang ikut meluncur dengan bebas di kedua pipinya.


Sakit. Itulah yang kembali ia rasakan. Hatinya benar-benar belum siap untuk membagi cinta suaminya dengan wanita lain.


"Ya Allah, kenapa begitu berat rasanya mengikhlaskan? Aku ingin sekali bisa ikhlas dengan keputusan suamiku yang menikahi wanita lain untuk menjalankan amanah papanya. Tapi, kenapa berat sekali ya Allah. Haruskah aku bertahan dengan pernikahan poligami ini?" Nisa bertanya pada dirinya sendiri. Sesekali di menekan dadanya agar rasa sakit yang ia rasakan sedikit berkurang.


"Nak, apa yang harus mama lakukan?" Kini tangan Nisa beralih mengusap perutnya yang masih terlihat datar.

__ADS_1


__ADS_2