
"Lo serius, Ngga, ngundang dia?" tanya Cevan.
"Sebenarnya basa-basi sih. Tapi, nggak gue sangka dia beneran datang," jawab Angga setengah berbisik.
"Lo aneh, orang saingan lo, masih lo baik-baikin," tambah Cevan. Dia merasa heran dengan pemikiran Angga itu.
"Ngapain kalian bisik-bisik di depan tamu? Tidak sopan tahu!" sentak Bima. "Tenang aku nggak akan minta gratis, aku akan bayar kok," tambahnya dengan tetap bersikap narsis.
"Mau tempat duduk yang VVIP atau yang biasa?" tanya Angga. Dia tidak mau berdebat lama-lama dengan mantan suami dari Nisa tersebut.
"Memang di sini ada tempat duduk VVIP? Perasaan kemarin pas aku datang bersama Nisa nggak ada deh," ujar Bima.
"Ada, cuma belum dibangun," jawab Angga asal.
"Ckckck." Bima hanya mencebik.
Orang yang baru datang itu adalah Bima. Awalnya dia ingin menyelesaikan pekerjaannya di dalam mobil. Namun, semakin lama, dia merasa semakin kepanasan. Apalagi ternyata mesin ac yang ada di dalamnya mobilnya mati. Jadi, dia terpaksa mencari tempat yang lain untuk menyelesaikan pekerjaannya. Dia juga tidak mungkin menyelesaikan pekerjaanya di teras rumah Nisa karena tidak ada orang di rumah itu. Jadi, tidak mungkin dia tetap berada di sana. Hingga akhirnya ia terpaksa datang ke restoran milik Angga ini, karena hanya restoran itulah yang jaraknya paling dekat dengan rumah Nisa. Selain itu, Bima juga bisa mengawasi Angga agar pria yang menjadi rivalnya tersebut tidak mengambil star terlebih dulu.
"Ya sudah sana pilih sendiri kamu mau duduk dimana!" seru Angga.
"Aku mau pilih tempat yang agak sepi, bisa nggak? Aku harus menyelesaikan beberapa laporanku sebelum menjemput Daffa nanti," jawab Bima.
Angga dan Cevan kembali saling tatap. Di restoran itu tidak ada tempat yang sepi kecuali ruang kerja Angga.
"Cev, bawa saja dia ke ruanganku! Aku mau melihat melihat karyawan di dapur!" suruh Angga.
"Tapi, Ngga.... "
"Di restoran ini ruangan yang paling sepi cuma di ruang kerjaku. Ingat! Pembeli adalah raja, jadi kita harus melayaninya sebaik mungkin," sela Angga. "Lagian tidak ada hal-hal yang penting di ruang kerjaku itu, jadi tidak masalah jika ada orang lain masuk ke ruangan itu."
"Baiklah. Aku antar dia ke ruang kerjamu," balas Cevan.
"Ayo, ikut aku!" ajak Cevan.
__ADS_1
"Rupanya hanya sebatas ini kesopanan yang ditunjukan oleh karyawan di restoran milikmu?" Sambil menghela napas, Bima sengaja melontarkan ejekannya.
"Cev!" tegur Angga. "Layani Tuan Bima Ardhana dengan baik di restoran ini. Aku mau melihat dapur dulu!"
"Iya, aku akan layani dia dengan baik," jawab Cevan.
Angga meninggalkan Bima bersama Cevan dan membiarkan mereka masuk ke ruang kerjanya. Sementara Angga sendiri berjalsn menuju dapur untuk mengawasi karyawannya yang ada di sana. Angga termasuk orang yang sangat teliti di dalam pekerjaan, dia selalu berusaha melakukan yang terbaik di dalam segala hal termasuk mengawasi sendiri makanan yang dimasak oleh chef-chefnya. Bahkan tidak jarang ia pun turun langsung untuk memasak masakan untuk pelanggan setianya.
"Ayo Tuan Bima, ikut saya!" ujar Cevan dengan sangat sopan. Bima pun berjalan di belakang asisten Angga itu.
"Awas saja kalau banyak tingkah," gerutu Cevan.
"Gue denger!" ucap Bima.
Cevan berusaha untuk tidak menanggapi.
"Silakan masuk!" Cevan mempersilakan Bima masuk ke ruang kerja Angga. Dia pun menunjukkan dimana dia diperbolehkan untuk duduk.
"Ingat ya! Jangan pernah duduk di meja kerja Angga! Batasmu hanya di sofa panjang ini!" Dengan suara tegas Cevan memperingatkan.
Bima memperhatikan ruang kerja bos restoran tersebut. Dari sana bisa terlihat kalau Angga adalah orang yang sangat sederhana. Tidak ada barang mewah di ruang kerjanya tersebut selain komputer.
Beberapa foto keluarga berjejer rapih di meja kerja itu. Ada foto Angga bersama mama-papanya saat sedang wisuda, ada foto Angga bersama seorang laki-laki yang belum pernah dilihat olehnya.
"Hei, dia siapa?" tanya Bima kepada Cevan sambil menunjuk foto Angga bersama laki-laki yang belum pernah dilihatnya itu.
"Dia kakaknya Angga."
"Kenapa aku tidak pernah melihatnya?"
"Dia sudah meninggal sekitar sepuluh tahun yang lalu," jawab Cevan.
"Sakit?"
__ADS_1
Cevan menghela napas panjangnya sambil memberikan tatapan tajamnya kepada Bima. "Aku cuma disuruh untuk mengantarmu ke ruangan ini, bukan untuk menjawab kekepoanmu. Mengerti!" jawab Cevan.
"Jawab iya atau tidak, emang susah itu ya?" Bima menyindir.
"Sudah sana kerjakan pekerjaanmu! Bukankah kamu mencari tempat yang sepi agar bisa menyelesaikan pekerjaanmu!" seru Cevan.
"Kamu benar sih," ujar Bima. "Ya udah deh bawakan aku cremy-latte dan cemilan ke sini. Bisakan?" pinta Bima.
"Bisa. Aku akan suruh orang untuk membawakan pesananmu ke sini!" jawab Cevan.
Bima pun kemudian duduk di sofa, ia mulai mengeluarkan laptop dari dalam tas dan menaruhnya di atas meja yang ada di depan sofa itu. Sebelum memulai mengerjakan pekerjaannya, ia kembali menatap foto Angga bersama laki-laki yang katanya kakaknya itu. Bima merasa wajah keduanya sangat berbeda jauh. Laki-laki itu lebih mirip dengan seseorang yang pernah Bima jumpai dulu, tetapi dia lupa siapa.
Tak mau dianggap terlalu kepo Bima mulai mengerjakan pekerjaannya. Tidak lama pesanannya datang. Dan sesuai dengan uacapannya, Cevan tetap mengawasi Bima dari kejauhan meski Angga tidak menyuruhnya.
***
Tepat jam sepuluh tiga puluh pagi, Angga dan Cevan terlihat sangat sibuk. Bahkan setelah memberikan instruksi kepada pegawainya di restoran keduanya langsung bersiap untuk pergi seolah ada sesuatu yang terjadi secara mendadak.
Angga menghampiri Bima yang mulai membereskan pekerjaan dan laptopnya.
"Bim, aku ada urusan mendadak. Jadi, tolong sampaikan permintaan maafku kepada Daffa karena aku tidak bisa menepati janji untuk menjemput dan bermain dengannya hari ini!" Angga meminta rivalnya untuk menyampaikan permintaan maafnya tersebut kepada Daffa.
"Dia anakku, jadi jangan merasa bersalah."
"Iya, aku tahu kalau Daffa adalah anakmu. Tidak usah kamu ingatkan pun aku tahu. Tapi, sekarang dia juga temanku. Jadi aku mohon sampaikan permintaan maafku itu kepadanya," balas Angga.
"Iya, akan aku sampaikan nanti," jawab Bima dengan terpaksa.
"Berapa yang harus aku bayar untuk semuanya?" tanya Bima setelah membereskan barang-barangnya ke dalam tas.
"Tidak usah, anggap saja itu sebagai ucapan terima kasihku karena kamu mau menyampaikan permintaan maafku kepada Daffa," jawab Angga.
"Sudah ku bilang, aku akan bayar. Meski perusahaanku sudah bangkrut setidaknya aku masih punya pekerjaan. Aku tidak mau dikasihani terutama olehmu," balas Bima. Dia tetap meletakkan uang di atas meja untuk membayar minuman dan camilan yang tadi dipesannya.
__ADS_1
Bima kemudian pergi dari restoran tersebut. Pun demikian dengan Angga dan Cevan, kedua orang itu pun juga meninggalkan restoran.