Dimadu Karena Wasiat

Dimadu Karena Wasiat
DKW 98


__ADS_3

Berkali-kali Nisa menghela napas panjangnya. Dia bahkan tidak fokus memperhatikan Daffa yang sedang bermain bersama dengan Bima. Sama seperti hari kemarin, Bima kembali mengajak putranya bermain di playzone yang ada di salah satu mall terbesar di kota itu.


Sudah beberapa kali Nisa mengecek ponsel dan berharap ada pesan masuk dari Angga. Dia penasaran dengan keperluan mendesak bersama keluarga yang disampaikan oleh Bima tadi.


Keluarga? Benarkah Angga sudah berkeluarga? Jika pria itu sudah berkeluarga kenapa pada saat pembukaan restoran, Nisa tidak melihat satu pun anggota keluarga Angga yang menemaninya?


"Kenapa?" tanya Bima yang tiba-tiba duduk di bangku kosong yang ada di sebelah mantan istrinya tersebut.


"Tidak ada apa-apa," jawab Nisa. "Setelah ini kita langsung pulang ya, Mas. Soalnya jam 2 siang nanti ada barang yang akan datang ke toko."


"Kan ada karyawanmu," jawab Bima.


"Aku tahu, Mas. Tapi, aku tidak akan merasa puas jika belum melihat kondisi barang itu sendiri. Aku takut ngecewain costumer," jawab Nisa dan itu tidak bohong.


Sejak dulu Nisa memang selalu teliti dalam hal apa pun, apalagi pekerjaannya.


"Baiklah, kita akan pulang sebelum jam 2 siang." Terpaksa Bima mengiyakan permintaan Nisa. Padahal Bima berharap bisa bermain lebih lama bersama anak dan mantan istrinya tersebut.


"Mas," panggil Nisa.


"Iya."


"Apa kamu tahu keperluan mendesak yang dimaksud oleh Angga?" tanya Nisa. Entahlah. Tiba-tiba Nisa penasaran dengan hal yang sedang dilakukan oleh mantan bosnya tersebut. "Lupakan," ralatnya ketika melihat Bima menatapnya serius.


"Aku tidak tahu. Tapi, aku sempat mendengar dia berbicara tentang perusahaan, orang tua, dan Thania," jawab Bima kemudian.


Iya, Bima sengaja menyebut nama Thania untuk melihat reaksi yang ditunjukkan oleh mantan istrinya tersebut. Melihat ekspresi wajah Nisa yang tiba-tiba berubah membuatnya yakin, jika Nisa memiliki perasaan khusus terhadap mantan bosanya itu.


"Ada apa? Memang siapa sih Thania itu?" tanya Bima. Dia berpura-pura tidak mengetahui sosoknya. Padahal hampir semua pemimpin perusahaan yang pernah bekerjasama dengan CAMP Grup pasti akan mengetahui bahwa Thania adalah calon tunangan Angga waktu itu.


"Tidak. Aku tidak tahu dia siapa," jawab Nisa.


Ada perasaan tidak suka yang tiba-tiba muncul di hati Nisa ketika mendengar nama wanita itu menjadi alasan Angga tidak menepati janjinya kepada Daffa.


"Aku kira kamu tahu, kan kamu pernah bekerja dengannya," pancing Bima.


"Pernah bekerja dengannya bukan berarti harus tahu urusan pribadi dia juga kan?" jawab Nisa.


"Iya, sih. Tapi, kebanyakan pegawai apalagi sekretaris pasti sedikit banyaknya tahu tentang hubungan pribadi atasannya," tambah Bima yang seolah sengaja ingin memancing kemarahan mantan istrinya terssbut.


"Anggap saja, aku tidak masuk dalam kategori tersebut," balas Nisa. "Mas tahu alasannya?"


Bima memicing.


"Karena saat aku bekerja menjadi sekretaris Angga, aku adalah seorang istri yang sedang tersakiti. Pikiranku saat itu hanya ingin terbebas darimu, jadi mana ada waktu untuk kepo dengan urusan pribadi bosnya," jawab Nisa agak kesal.


"Maaf."

__ADS_1


"Lupakan," jawab Nisa.


Bima dan Nisa sama-sama diam dengan pikiran masing-masing.


"Ma, Pa." Panggilan Daffa membuat Nisa dan Bima tersentak dari lamunan. Keduanya sama-sama melihat ke arah putra mereka.


"Ada apa, Sayang?" tanya Nisa kepada putranya.


"Daffa lapar, kita makan yuk!" jawab Daffa.


Nisa dan Bima sama-sama melihat ke arah jam yang ada di ponsel mereka. Pantas saja putra mereka lapar, ternyata sudah waktunya makan siang.


"Ya sudah, ayo kita cari tempat untuk makan!" ajak Nisa.


"Kita makan di restorannya Om Angga aja yuk, Ma!" rengek Daffa.


"Tapi, sayang.... "


"Daffa kangen sama masakannya Om Angga," sela Daffa.


"Daffa, Om Angganya lagi nggak ada di restoran. Jadi, meski kita ke restorannya Om Angga pun, Daffa nggak akan makan masakannya Om Angga. Kita cari restoran lain yang ada di dekat sini saja ya," bujuk Bima.


"Tidak, mau! Daffa maunya makan di restorannya Om Angga," tolak Daffa.


Dengan terpaksa, Bima akhirnya menyetujui permintaan putranya tersebut.


Bima akhirnya kembali lagi ke restoran yang baru beberapa saat yang lalu ia tinggal. Kali ini ia bersama dengan Nisa dan anak mereka memilih tempat duduj yang letaknya paling dekat dapur restoran. Bukan apa-apa, tetapi itulah hal yang diinginkan oleh Daffa. Bocah yang bercita-cita ingin menjadi chef terkenal itu berharap bisa bertemu dengan Angga sebelum selesai makan.


"Hallo Tante," balas Daffa.


"Ada yang bisa Tante bantu?" tanya pelayan tersebut kepada Daffa.


"Tante, Om Angga udah kembali ke restoran belum?"


Kini Bima tahu alasan putranya hanya ingin makan di restoran milik Angga, rupa-rupanya dia ingin bertemu dengan rivalnya tersebut.


"Maaf, Daffa, sayang belum."


"Kapan Om Angga pulang?" tanya Daffa lagi.


"Sayang, kita ke sinikan untuk makan? Kenapa jadinya malah nanyain Om Angga?" Nisa menegur putranya. "Maaf ya, Mbak."


Pelayan itu hanya mengangguk.


"Tante, Tante tahu nggak kapan Om Angga akan pulang?"


"Tante kurang tahu, soalnya ini pertama kalinya Tuan pergi dengan Tuan Cevan dalam keadaan tergesa-gesa," jelas pelayan itu itu lagi.

__ADS_1


Nisa yakin pasti ada hal besar yang terjadi. Entah itu di CAMP Grup atau pun di keluarga besar mantan bosnya itu hingga membuatnya mengingkari janji untuk menjemput Daffa. Padahal dialah yang sebelumnya memaksa untuk tetap ikut menjemput Daffa.


"Tolong bawakan ini, ini, dan ini ya!" suruh Bima sambil menunjuk beberapa menu di buku menu. Menu-menu itu adalah menu yang dipesan putra dan mantan istrinya kemarin saat makan disini. Dia ingin mengakhiri pembicaraan mereka tentang Angga.


"Baik, ada lagi?"


"Ada yang Daffa mau lagi?" tanya Bima.


Daffa menggegeleng.


"Kamu, Nis?" kini giliran Nisa yang ditanya.


"Tidak usah, itu sudah cukup kok," jawab Nisa.


"Sudah, Mbak. Bawakan itu saja!" kata Bima kemudian.


Tidak lama, menu yang mereka pesan itu pun datang. "Silakan dinikmati!" ucap pelayan setelah meletakkan semua menu di atas meja.


Usai makan, Bima mengantar kembali Nisa dan putranya ke rumah. Dia juga berpesan untuk satu minggu ke depan tidak bisa menemui Daffa karena pekerjaan di luar kota.


***


Malam harinya....


Malam itu seperti biasa Nisa membacakan buku cerita sebelum putranya itu tidur. Sejak sore tadi Daffa selalu uring-uringan, ada saja hal yang membuat Nisa harus menghela napas panjangnya. Untungnya sebelum buku tersebut selesai Nisa bacakan, bocah itu sudah hanyut ke alam mimpi.


"Selamat tidur ya sayang, semoga mimpi indah." Nisa mengecup kening putranya dan ikut berbaring di sebelah kanan bocah itu.


"Apa terjadi sesuatu yang genting di perusahaan milik orang tuanya ya sampai-sampai dia tidak sempat memegang handphone?" batin Nisa setelah melihat jam terakhir pria itu online.


"Apa yang terjadi dengan diriku? Kenapa aku jadi mencemaskan dia? Tidak! Ini salah! Aku tidak boleh seperti ini!" Nisa meletakkan kembali ponselnya di atas nakas. Dia berusaha mengalihkan pikirannya ke hal lain.


Semalaman Nisa tidak bisa tidur. Meskipun sudah berusaha untuk mengenyahkan wajah mantan bosnya tersebut dari pikiran, kenyataannya wajah pria itu terus muncul di pelupuk mata.


"Hah!" Nisa membuang napas berat. "Apa aku perlu ke psikolog ya untuk berkonsultasi? Tapi, kalau ditanya keluhannya apa, aku musti jawab apa coba? Masa aku jawab, aku terus memikirkan tunangan orang lain gara-gara di hari sebelumnya kami hampir berciuman. Bisa diketawakan aku."


"Ma, ayo berangkat sekolah sekarang!" Ajakan Daffa membuat Nisa terhenyak dari lamunannya.


"Daffa udah selesai sarapannya?" tanya Nisa. Anak balita itu mengangguk.


"Ya udah, mama ambil tas dulu ya di kamar."


Nisa mengusap rambut putranya. Ia kemudian masuk ke kamar untuk mengambil tas. Tidak butuh waktu yang lama, Nisa pun sudah kelaur dari kamar pribadinya.


"Ayo sayang, kita berangkat sekarang!" ajak Nisa sambil menggandeng tangan putranya. Keduanya pun berjalan menuju pintu.


Nisa dan Daffa menghentikan langkah mereka, ketika melihat sesuatu tepat di depan pintu. Keduanya saling tatap seolah tidak percaya dengan hal yang saat ini mereka lihat.

__ADS_1


šŸ‚šŸ‚šŸ‚


Maaf ya gaes dua hari ini otor gak up karena dua hari yang lalu otor sakit gigi. Semoga kalian tetap sabar menunggu kelanjutannya kisah Nisa, Angga, dan Bima. Terima kasih.


__ADS_2