Dimadu Karena Wasiat

Dimadu Karena Wasiat
DKW 71


__ADS_3

Pagi itu Nisa dibuat bingung ketika ada ibu-ibu yang tiba-tiba datang ke rumah barunya. Ibu itu mengatakan jika ia diminta untuk mengerjakan pekerjaan rumah di rumah baru Nisa itu.


"Maaf sebelumnya, Bu. Tapi, seingat saya, saya tidak pernah meminta siapa pun untuk mencari orang bekerja di rumah saya," ujar Nisa.


"Tapi, alamatnya yang saya terima memang ini kok, Nyonya. Lihat ini." Ibu-ibu yang datang itu memperlihatkan alamat yang diterimanya melalui pesan singkat kepada Nisa.


"Iya, sih. Ini alamat rumah ini. Tapi.... "


"Sekarang apa yang harus saya kerjakan Nyonya?" sela ibu itu. "Oiya, saya lupa memperkenalkan diri. Kenalkan nama saya Ruminah, ibu dari 3 orang anak, dan kebetulan suami saya sudah meninggal."


Wanita yang mengaku bernama Ruminah itu menjabat tangan Nisa. Meski bingung, Nisa menerima jabatan tangan orang tersebut.


"Maaf Bu Rumi, apa orang yang menghubungi Anda juga memberitahu berapa gaji yang akan Anda dapatkan untuk bekerja di sini?" tanya Nisa.


"Sudah, Nyonya. Bahkan saya sudah digaji 3 bulan di muka," jawab wanita berusia sekitar 45 tahunan tersebut. "Kalau boleh tahu siapa nama orang yang sudah menghubungi dan membayar Anda itu?"


"Dia Tuan Angga, Nyonya. Kemarin dia menyuruh Pak Cevan datang ke rumah saya dan meminta saya bekerja di sini. Kebetulan dulu saya pernah bekerja di rumah orang tuanya Pak Angga waktu dia masih kecil," jelas Rumi.


"Bu Rumi silakan duduk saja dulu, aku mau menelepon Pak Angga sebentar!"


Nisa menyuruh wanita dengan seragam pelayan itu untuk duduk. Dia kemudian menghubungi nomor Angga untuk mengkonfirmasi hal tersebut. Namun sayang telepomnya belum dijawab oleh osnya tersebut.


"Sudahlah, nanti saja aku hubungi Pak Angga lagi," gumam Nisa.


Ia kemudian menatap wanita yang sedang duduk di ruang tamunya itu sebentar.


"Sudalah, kasihan juga kalau aku nggak jadi mempekerjakan dia. Biar nanti ku kembalikan saja gaji 3 bulan yang udah dikasih oleh Pak Angga.Lagian aku memang membutuhkan art untuk membantuku dan mengurus rumah ini," gumamnya lagi.


Nisa kembali menemui wanita bernama Rumi itu lagi, ia mulai menjalaskan apa-apa saja pekerjaan yang harus dikerjakan oleh wanita itu selama bekerja di rumahnya.


"Ibu Rumi sudah paham kan?" tanya Nisa diakhir penjelasannya.

__ADS_1


"Sudah, Nyonya."


"Ya, sudah. Ibu bisa langsung memulai pekerjaan Ibu!" suruh Nisa.


"Terima kasih, Nyonya. Permisi."


Wanita itu pun mulai mengerjakan pekerjaan rumahnya. Dan Nisa bersiap untuk datang ke kantor Angga untuk mengembalikan gaji 3 bulan art barunya kepada pria itu. Nisa tidak mau terus-terusan merepotkan bosnya tersebut.


***


Di sisi lain....


"Kenapa sih si Tania harus mempercepat kepulangannya?" keluh Angga yang sedang duduk bangku penumpang mobil jenis sport warna hitam.


"Mungkin Nyonya besar yang menyuruh," jawab Cevan.


"Kamu sudah melakukan perintahku kemarin kan?"


"Ngga, sebaiknya selama Thania ada di Indonesia kamu menjauhlah dari Nisa." Cevan memberikan saran.


"Kenapa aku harus menjauhinya?"


"Aku tahu kamu tertarik dengan Nisa. Tapi, ingat Ngga status dia masih istri orang!"


"Dia sedang proses bercerai," jawab Angga.


"Baru proses kan? Belum bercerai? Tetap saja intinya dia masih istri orang. Bagaimana kalau dalam proses tersebut, akhirnya Nisa kemabli sama suaminya? Kamu siap untuk patah hati?" cecar Cevan.


Angga terdiam. Dia juga sebenarnya sudah memikirkan kemungkinan itu. Tetapi, perasaan ingin melindungi dan membuat wanita yang sedang hamil besar itu kian lama makin besar. Dia juga selalu ingin membuat Nisa bahagia. Saat dia melihat kesedihan dan penderitaan yang dialami oleh Nisa, hatinya ikut merasakan itu.


"Jangan ikut campur soal itu!" jawab Angga.

__ADS_1


Cevan menatap Angga melalui kaca spion yang tergantung diatas dashboard kemudian menghela napas panjangnya. Dia tahu persis bagaimana sifat sahabat yang sekaligus bosnya itu. Angga tidak akan peduli dengan apa pun resiko yang akan ditanggungnya saat pria itu jatuh cinta.


"Mana ponselku!" pinta Angga.


"Lho bukannya ponselmu, ditaruh di ruang kerjamu tadi."


"Sial! Gara-gara kamu nyuruh aku cepat-cepat jemput Tania di bandara, ponselku sampai ketinggalan kan," umpat Angga.


"Ya sudah nanti setelah jemput Thania kita ke perusahaan lagi," ucap Cevan.


"Nggak, usah biar aku ambil sendiri nanti."


Mobil yang melaju dengan kecepatan sedang itu akhirnya tiba di bandara. Cevan dan Angga turun dari dalam mobil dan langsung menuju ke pintu kedatangan luar negeri. Tidak lama kemudian wanita yang ditunggu itu pun muncul.


Tania langsung berlari memeluk Angga. "Aku merindukanmu, Ngga. Rasanya udah lama banget kita pisah, mana kamu nggak pernah nelpon aku lagi kalau aku nggak telpon," ucap Tania dengan manja.


"Aku sibuk," jawab Angga singkat.


"Ayo sekarang aku antar kamu ke apartemenmu!" suruh Angga, tetapi Tania malah menggeleng.


"Terus?"


"Aku mau ke kantor kamu."


"Ngapain?"


"Bantu kamu kerja lah. Kata Mamamu, mulai sekarang aku harus bisa bantuin kamu di perusahaan," jawab Tania.


"Memang kamu nggak capek habis perjalanan jauh?"


Tania kembali menggeleng. "Capekku hilang setelah ketemu sama kamu," jawab Tania.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu kita ke perusahaan," ujar Angga. Dia berusaha melepesakan pelukan tangan Thania di lengannya. Namun tidak bisa. Wanita itu justru memeluk lengan Angga dengan erat dan membuat Angga hanya bisa pasrah.


__ADS_2