Dimadu Karena Wasiat

Dimadu Karena Wasiat
DKW 64 - Rencana


__ADS_3

"Aku tidak mungkin membatalkan gugatan cerai itu, Pak," jawab Nisa. "Bapak bisa lihat sendiri, kan, kalau Mas Bima lebih mementingkan istri keduanya dibandingkan aku. Padahal tidak hanya Ayu yang sedang hamil dan butuh perhatian, tetapi aku juga. Tetapi, dia sama sekali tidak mempedulikanku," lanjutnya.


Ada gurat kekecewaan saat Nisa mengungkapkan isi hatinya tersebut.


Nisa terkejut ketika tiba-tiba Angga menariknya kedalam pelukan. "Jika kamu ingin menangis, menangislah dihadapanku. Jangan tunjukan kelemahanmu dihadapan suamimu. Buktikan padanya bahwa kamu kuat, kamu bisa hidup lebih baik tanpa dia," ucap Angga.


Nisa terdiam, pelukan Angga membuatnya merasa nyaman. Untuk sesaat dia terbuai dengan hangatnya pelukan itu. Namun, beberapa detik kemudian Nisa sadar akan posisinya. Walau bagaimanapun dia masih istri orang dan tidak sepatutnya menerima pelukan dari laki-laki lain.


"Maaf, Pak, tidak baik jika orang melihat kita seperti ini," ucap Nisa sambil melepaskan diri dari pelukan Angga.


"Ma... maaf, Nis. Aku tidak bermaksud kurang ajar kepadamu," ucap Angga.


"Aku mengerti," jawab Nisa.


"E... soal rumah itu, kapanpun kamu akan menempatinya, rumah itu sudah siap ditempati. Nanti kalau kamu mau meninggalkan rumah sakit, kamu bisa memberitahuku. Aku akan menjemputmu dan langsung mengantarkanmu ke sana," ucap Angga untuk mengalihkan pembicaraan.


"Tidak bisakah, Bapak memberikan alamatnya saja kepadaku. Aku bisa datang sendiri kesana, aku tidak mau ngerepotin Bapak," ucap Nisa dengan berhati-hati. Dia tidak mau menyinggung perasaan orang yang sudah bersikap baik terhadapnya.

__ADS_1


Tak mau membuat Nisa merasa tidak nyaman, Angga pun memberikan alamat rumah yang dumaksud kepada wanita itu.


"Kompleks perumahan Cempaka Putih no 56. Pak, bukannya ini termasuk kompleks perumahan elit ya? Masa sewa rumahnya cuma 5 juta pertahun? Pak Angga nggak salah dengar, kan?" tanya Nisa setelah melihat alamat rumah yang baru saja diberikan oleh bosnya tersebut.


"Kan sudah kubilang, sebenarnya mereka tidak berniat menyewakan rumah itu. Mereka hanya butuh orang untuk menempati rumah mereka saja, katanya daripada dibiarkan kosong," jawab Angga.


"Memangnya mereka tidak punya keluarga atau kerabat yang mau menempati rumah itu?"


"Tidak ada, semua keluarganya tinggal di luar negeri," jawab Angga. "Sudah ya. Aku berangkat kerja sekarang. Nanti kabari aku saja kalau kamu sudah menempati rumah itu."


Angga hanya menjawabnya dengan senyuman. "Aku kerja dulu ya. Assalammualaikum."


"Wa'alaikummussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Nisa.


Setelah Angga pergi, Nisa memegang dadanya sendiri. "Kenapa aku jadi deg-degan gini ya kalau deketan sama, Pak Angga? Tidak! Ini pasti karena aku belum makan, makanya jantungku jadi berdetak tak karuan begini. Iya, pasti gara-gara itu," gumam Nisa. Dia berusaha untuk menstabilkan irama jantungnya kembali.


***

__ADS_1


"Dokter bagaimana keadaan Ayu dan calon bayinya?" tanya Bima ketika ia berada di ruang rawat istri keduanya itu.


"Tampaknya istri Anda terlalu banyak pikiran makanya sempat mengalami sakit perut barusan," jawab Dokter yang baru saja selesai memeriksa kondisi Ayu.


"Yu, kamu tidak apa-apa kan?" tanya Bima sambil menggenggam tangan istri keduanya.


"Tidak apa-apa kok, Mas," jawab Ayu. "Ohya, Mas Bima sudah berbicara dengan Mbak Nisa? Terus bagaimana hasilnya? Mbak Nisa nggak jadi kan menggugat cerai kamu, Mas?" tanya Ayu. Dia ingin terlihat sebagai istri yang baik di depan suaminya itu.


"Entahlah, Yu. Dia masih kekeh memintaku untuk memilih antara kamu dan dirinya. Padahal aku sudah bilang kalau aku akan berusaha untuk bersikap adil kepada kalian," jawab Bima.


"Ya Allah, Mas. Kalau tahu kehamilanku akan mempersulitmu untuk mempertahankan, Mbak Nisa, harusnya aku tidak hamil saja." Ayu kembali berpura-pura menangis. "Maafkan aku ya, Mas. Kalau Mas mau, Mas Bima boleh kok menceraikan aku dan kembali sama Mbak Nisa. Aku ikhlas, karena disini memang aku yang salah. Aku yang memaksakan diri untuk hamil, padahal Mas Bima sudah menyuruhku untuk menundanya. Maafkan aku ya, Mas."


"Jangan merasa bersalah seperti itu, Yu. Aku akan mencoba untuk membujuk Nisa lagi nanti. Kamu doakan saja agar Nisa dilembutkan hatinya dan mau menerimaku lagi."


Ayu mengangguk. "Iya, Mas. Aku pasti akan terus mendoakan yang terbaik untukmu," jawab Ayu.


"Semoga Mbak Nisa tetap beraada pada pendiriannya, jadi semua rencanaku untuk menguasai harta Mas Bima bisa berjalan lancar," batin Ayu. "Bu, sedikit lagi rencana kita untuk menguasai hartanya Vena akan berhasil dan Ibu tidak perlu pura-pura mati lagi," lanjut Ayu dengan senyum smirknya.

__ADS_1


__ADS_2