Dimadu Karena Wasiat

Dimadu Karena Wasiat
DKW 86


__ADS_3

Bima tersenyum senang karena berhasil menjauhkan Daffa dari pesaing beratnya. Selama ada pria itu di dekat Nisa dan putranya, pasti akan sulit baginya untuk bisa mendapatkan hati Nisa kembali.


"Aku harus mencari cara agar Daffa tidak sering main dengan si Angga. Tapi, bagaimana caranya ya?" Bima bertanya dalam hati.


"Mas, ada apa? Kenapa dari tadi senyum-senyum sendiri sih?" tanya Nisa. Dia penasaran kenapa sejak keluar dari restoran Angga tadi, sudut bibir Bima terus tertarik ke samping.


"E... Nggak apa-apa, Nis. Aku senang saja akhirnya aku bisa bertemu dengan putraku dan bisa mengajaknya bermain," jawab Bima dan kali ini dia memang jujur.


"Daffa seneng nggak bisa main sama Papa?" kini Bima bertanya kepada putranya yang sedang duduk dipangkuan Vena.


"Seneng," jawab Daffa.


"Oh ya, Mas, gimana keadaan Ayu sekarang? Kamu masih sama-sama dia kan?" tanya Nisa.


"Sudah tidak. Setelah kita bercerai, tidak lama aku juga menceraikan dia," jawab Bima.

__ADS_1


"Kenapa? Bukan gara-gara karena surat wasiat itu palsu kan?" tanya Nisa lagi. "Kalau itu alasan kamu menceraikan dia, kamu egois, Mas."


Bima menatap Nisa melalui kaca spion yang tergantung di atas dashboard. "Bukan hanya karena itu. Ternyata dia juga membohongiku soal kehamilannya," jawabnya kemudian.


Nisa hanya menanggapi jawaban Bima tersebut dengan kata ouh.


"Dulu ku kira kamu menolak rujuk denganku dan tetap kekeh untuk bercerai karena kamu sedang menjalin hubungan serius dengan Angga. Tapi, sepertinya ini juga kali pertama kalian bertemu lagi," sahut Bima.


"Tidak mungkin lah, Mas, Pak Angga suka dengan wanita hamil. Lagian dia dulu juga sudah memiliki tunangan, jadi mana mungkin dia suka padaku. Dia itu hanya merasa iba karena aku dicampakkan olehmu," jawab Nisa.


"Maafkan aku ya, Nis. Andai aku tidak pernah tertarik dengan Ayu dan membantu Ayu dengan cara lain, keluarga kita pasti tidak akan tercerai berai seperti ini," sesal Bima.


Iya. Dalam hati Bima membenarkan itu. Karena itulah yang terjadi pada rumah tangganya dengan Nisa dulu.


Bima mengurangi kecepatan mobilnya ketika memasuki halaman mall. Nisa, Vena, dan Daffa turun dari dalam mobil terlebih dulu. Setelah semuanya turun, Bima pun mengemudikan mobil tersebut ke area parkir mall.

__ADS_1


Sekitat lima menit kemudian, Bima sudah kembali bergabung dengan mereka.


"Ayo Sayang kita ke playzone!" ajak Bima sambil menggandeng tangan putranya.


Bima dan Daffa bermain di playzone sementara Nisa dan Vena menunggu mereka bermain dengan duduk di restoran cepat saji yang letaknya tidak jauh dari area bermain itu.


"Nis, kamu lihat itu. Daffa terlihat bahagia sekali bermain dengan papanya," ucap Vena sambil melihat anak dan cucunya yang sedang bermain.


Nisa ikut melihat ke arah anaknya yang sedang bermain itu.


"Kamu tidak punya pikiran untuk rujuk dengan Bima lagi, Nis?" Pertanyaan Vena sontak membuat Nisa menatap ke arah mantan mertuanya tersebut.


"Nis, Daffa juga berhak merasakan kebahagiaan yang sama seperti yang dirasakan oleh teman-temannya," ucap Vena.


"Maaf, Ma. Aku tidak pernah berpikir untuk menikah lagi. Aku yakin, aku tetap bisa membahagiakan Daffa," jawab Nisa.

__ADS_1


"Jangan keras kepala, Nis. Pikirkan juga perasaan Daffa, kamu lihat, dia terlihat sangat bahagia ketika sedang bermain dengan Bima! Apa kamu tidak bisa ikut merasakan hal itu?" Kembali Vena berbicara. "Kamu tidak perlu menjawabnya sekarang, kamu bisa memikirkannya terlebih dulu."


Nisa terdiam. Dia kembali menatap anak dan mantan suaminya yang sedang bermain itu.


__ADS_2