Dimadu Karena Wasiat

Dimadu Karena Wasiat
DKW 8 - Ceraikan aku


__ADS_3

Langit sudah kembali terang, suara burung berkicau terdengar hingga ke dalam rumah. Sinar keemasan sang mentari mulai merangsek masuk melalui sela-sela ventilasi.


Nisa membuka jendela kamarnya, taman yang luas di sekitar rumah menjadi pusat perhatiannya kali ini. Apalagi ada beberapa bunga yang ia tanam mulai bermekaran diantaranya bunga mawar putih, lily, peony, dan juga anggrek. Bunga-bunga itu adalah bunga yang ia tanam sendiri disela-sela kesibukannya menjadi sekretaris sekaligus perannya sebagai istri.


Bunga yang mekar itu selalu bisa mengubah suasana hati Nisa menjadi lebih baik ketika dia ada masalah ataupun saat dia mengahadapi tekanan pekerjaan. Namun tidak dengan hari. Ia tetap merasakan kegundahan meski sudah menatap bunga-bunga tersebut.


Nisa menarik napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya secara perlahan. Dia melakukan hal tersebut beberapa kali untuk mengurangi rasa sesak yang ada di dalam hati. Namun lagi, hal tersebut tak juga bisa mengubah suasana hatinya menjadi lebih baik.


"Ya Allah, inikah takdir yang memang sudah engkau gariskan kepadaku? Membuatku menikah dengan orang yang kucintai, namun pada akhirnya Engkau jodohkan dia dengan wanita lain juga. Benarkah ini yang terbaik untukku?" batin Nisa meronta menghadapi takdir yang dihadapinya saat ini.


"Aku ingin menyerah dengan pernikahan ini, tapi... bagaimana dengan nasib anak yang sedang aku kandung? Haruskah dia merasakan hal yang sama yang pernah aku rasakan?" Nisa berperang dengan batinnya sendiri.


Iya, Nisa adalah anak yang dibesarkan tanpa kasih sayang seorang ayah. Kedua orangtuanya bercerai ketika dia masih dalam kandungan. Dan mirisnya tidak ada jejak apa pun yang ia ketahui tentang sang ayah, termasuk rupanya.


Sekali lagi Nisa menghembuskan napas berat. "Apa kamu juga akan merasakan yang sama jika aku memilih berpisah? Mungkinkah Mas Bima juga akan mengabaikan anakku nantinya?" Nisa mengusap perutnya.


Suara ketukan pintu menarik Nisa dari lamunannya.


"Siapa?"


"Ini saya Nyonya, Bi Asih. Tuan dan Nyonya besar sudah menunggu Anda di ruang tamu," jawab Bi Asih dari balik pintu.


"Katakan pada mereka tidak usah menungguku. Aku akan makan sendiri nanti."


"Maaf, Nyonya. Tuan bilang, Nyonya harus ikut sarapan bersama di meja makan karena ada yang ingin Tuan jelaskan."


Helaan napas keluar dari bibir Nisa. "Aku tidak bisa selamanya menghindar. Mungkin sudah waktunya aku menerima kenyataan ini," batin Nisa.


"Nyonya." Panggil Bi Asih sekali lagi.


"Iya, aku akan turun sekarang." Nisa mengambil jilbab instan berwarna krem dari dalam lemari kemudian memakainya setelah itu barulah dia keluar dari kamar.


Satu persatu anak tangga berhasil Nisa lewati dan akhirnya dia tiba di meja makan dimana suami dan mertuanya sudah menunggunya, termasuk Ayu, madunya.


Bima langsung berdiri ketika melihat kedatangan Nisa, dia sedikit memundurkan kursi yang akan diduduki oleh istri pertamanya tersebut.


"Duduklah!"

__ADS_1


Tanpa berkata apa pun, Nisa langsung duduk di atas kursi tersebut.


"Kamu makan lauk apa?" tanya Bima lagi.


"Bi Asih bilang ada yang ingin Mas Bima jelaskan kepadaku. Kalau bisa katakan itu sekarang!" Nisa mengabaikan pertanyaan suaminya.


Bukannya menjawab pertanyaan istri pertamanya justru ia mengambil piring kemudian menaruh nasi di atas piring tersebut.


"Kamu mau lauk apa, Sayang?"


"Tidak usah, Mas, aku tidak lapar. Aku turun hanya untuk mendengarkan penjelasan yang akan kamu sampaikan," tolak Nisa, namun diabaikan oleh Bima. Laki-laki itu tetap menaruh lauk kesukaan Nisa di atas piring.


"Apa segini cukup?" tanya Bima. Nisa hanya memgehela napasnya. Dia langsung mengambil piring yang sudah diisi dengan nasi dan lauk oleh Bima dari tangan suaminya tersebut.


"Yu, kamu juga mau makan apa. Biar aku ambilkan sekalian?" tanya Bima kepada istri keduanya yang duduk di sebelah kiri.


Ayu melirik ke arah Nisa. Dia merasa segan karena istri pertama suaminya itu menatap tidak suka. Ayu menganggap hal yang dilakukan oleh Nisa adalah hal yang lumrah. Istri manapun pasti akan marah dan sakit hati jika suaminya tiba-tiba pulang dan membawa istri baru.


"Aku ayam gepreknya aja, Mas," jawab Ayu.


"Wah, ternyata selera makanmu sama dengan Nisa, kalian sama-sama suka masakan pedas." Bima menaruh ayam geprek yang dimau oleh Ayu di atas piring yang audah diisi dengan nasi putih.


"Sstt." Bima memberi kode dengan menaruh jari telunjuk di atas bibir Nisa agar istri pertamanya tersebut tidak melanjutkan perkataannya. "Kita makan dulu sekarang! Baru setelah itu kita bahas semuanya bersama," ujarnya.


Terpaksa Nisa mengiyakan. Mereka mulai menikmati sarapan pagi mereka meski semua makanan yang masuk ke dalam mulut Nisa terasa hambar.


"Sekarang Mas sudah bisa menjelaskan kepadaku kan?" tanya Nisa setelah dia selesai makan.


"Bi, tolong bawa semua piring kotor ini ke dapur!" suruh Vena.


Bi Asih yang sedang berada di dapur itu pun segera melakukan perintah nyonya besarnya. Satu per satu piring kotor ditumpuk kemudian dibawa ke dapur dan ditaruh di atas wastafel. Pun demikian dengan gelas dan wadah yang lain. Lauk yang masih tersisa yang ada di atas meja pun dibawa dari sana dan disimpannya di lemari.


"Sekarang kamu sudah mulai bisa menjelaskan kan, Mas?"


Bima mengeluarkan amplop dan memberikannya kepada Nisa.


"Apa ini?" tanya Nisa.

__ADS_1


"Itu adalah alasan kenapa aku menikah dengan Ayu," jawab Bima.


Nisa membuka amplop yang baru saja diberikan oleh Bima. Awalnya dia sempat terkejut dengan isi dari amplop tersebut yang ternyata adalah selembar surat wasiat yang ditulis oleh almarhum mertuanya.


"Jadi, apa yang aku lakukan ini salah? Aku hanya melakukan hal yang diwasiatkan oleh almarhum papa kepadaku. Iya, aku salah karena aku tidak membicarakannya terlebih dulu kepadamu. Harusnya aku mempertimbangkan perasaanmu. Jadi tolong maafkan aku!" Bima menghembuskan napas panjangnya. Dia merasa sangat bersalah karena sudah menyakiti hati istri yang sudah mendampinginya selama tiga tahun ini.


"Mbak, kalau Mbak memang tidak bisa menerima aku sebagai madu Mbak Nisa. Aku rela kok kalau Mas Bima menceraikan aku sekarang."


"Yu." Bima menginterupsi.


"Mas, biarkan aku berbicara." Potong Ayu.


Ayu berjalan ke arah Nisa. Dia berdiri disebelah wanita itu dan menggenggam tangannya.


"Mbak aku minta maaf karena waktu aku menerima lamaran Mas Bima, aku tidak memikirkan perasaan Mbak Nisa. Waktu itu pikiranku sedang kalut karena kondisi ibuku yang kritis dan keinginan terakhirnya hanya ingin melihatku menikah agar ada orang yang menjagaku setelah beliau meninggal. Maafkan aku ya, Mbak!" Ayu mengatakan itu dengan deraian air mata.


"Mas, kewajibanmu memenuhi wasiat itu sudah selesai. Kamu sudah menikahiku dan menjadikan aku sebagai istrimu. Sekarang sudah waktunya kamu menceraikan aku."


Tidak hanya Bima yang tergelak mendengar permintaan Ayu tersebut, Nisa dan Vena juga ikut terkejut mendengarnya.


"Tapi, Yu.... "


"Tidak apa-apa, Mas. Aku sudah cukup berterimakasih karena Mas Bima masih memiliki niatan untuk memenuhi surat wasiat itu." Ayu menarik napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya. "Talak aku sekarang, Mas!" pintanya.


Bima menggeleng. "Tidak, Yu, ini tidak adil untukmu."


"Tidak, Mas. Ini yang terbaik untuk kita semua. Talak aku sekarang, Mas! Aku ikhlas!" suruh Ayu lagi.


Bima memejamkan matanya sebentar, membuang napasnya perlahan setelah itu barulah dia membuka mulut.


"Ayu Divia Pridayanthi... mulai hari ini kamu.... " Bima menjeda kalimatnya. Meski dia belum memiliki perasaan apa pun terhadap Ayu. Tetapi, membayangkan wanita itu akan hidup sebatang kara membuatnya enggan untuk mengucapkan kalimat talak.


"Lanjutkan, Mas, kenapa berhenti?" suruh Ayu. Dia ingin segera terbebas dari semua kekacauan ini.


Bima menatap Nisa berharap agar istri pertamanya tersebut bisa mengerti dan bisa menerima kehadiran Ayu. Sayangnya wanita itu masih bergeming seakan tidak perduli dengan hal yang akan dilakukannya.


🌺🌺🌺

__ADS_1


Gaes, maaf ya kalau otor jarang update. Semoga kalian masih tetap bersabar dengan kisah rumah tangga Bima bersama kedua istrinya. Terima kasih ❀️


__ADS_2