
Malam itu Nisa mulai mencari lowongan pekerjaan di situs lowongan kerja dan perusahaan yang ia incar adalah perusahaan-perusahaan besar setidaknya perusahaan yang memiliki kedudukan yang setara dengan perusahaan Bima. Nisa sengaja melakukan hal tersebut agar kelak saat dirinya berhasil menarik teman-temannya dari perushaan suaminya, Bima tidak akan bisa mengancamnya lagi.
Nisa mengirim beberapa CV melalui email ke beberapa perusahaan incarannya. Dia yakin dengan pengalamannya bekerja di perusahaan milik Bima selama lima tahun, tidak akan sulit baginya untuk mendapatkan pekerjaan.
"Semoga aku segera mendapatkan jawaban dari perusahaan-perusahaan itu," ucap Nisa.
Nisa menutup laptopnya dan memilih untuk merebahkan diri. Hari ini adalah hari yang cukup sulit untuknya. Nisa berharap bisa segera mendapatkan kabar baik dari sekian banyak lamaran yang ia kirim.
"Ya Allah, bantulah aku agar mendapatkan pekerjaan itu," doa Nisa sebelum ia memejamkan matanya.
***
Beberapa hari kemudian....
Nisa begitu bahagia karena salah satu dari CV yang ia kirimkan akhirnya mendapatkan balasan. Hari ini ia disuruh untuk datang ke perusahaan tersebut guna mengikuti tes wawancara. Dengan memakai dress panjang berwarna hitam yang dipadupadankan dengan blezer warna putih dan hijab berwarna hitam, Nisa sudah siap untuk melakukan tes itu. Namun, sebelum keluar dari kamar, Nisa harus memastikan terlebih dulu jika suaminya sudah berangkat ke perusahaannya. Ia tidak mau Sang Suami menggagalkan rencanya.
Begitu melihat mobil yang dikendarai Bima meninggalkan halaman rumah, buru-buru Nisa memasan ojek online. Dia tidak ingin terlambat untuk melakukan tes tersebut.
Dan akhirnya setelah menempuh perjalanan kurang lebih sekitar 40 menit, Nisa sampai di depan perusahaan CAMP Grup tempat ia mendapatkan panggilan wawancara.
"Bismillahirrahmannirrahim, Ya Allah semoga perusahaan ini bisa manjadi solusi dari permasalahan yang sedang aku hadapi saat ini. Amin." Nisa mengusap kedua telapak tangannya ke wajah.
Sebelum masuk Nisa memejamkan matanya sambil menarik napas panjang kemudian menghembuskannya perlahan untuk mengurangi kegugupan yang ia rasakan saat ini.
__ADS_1
Nisa kemudian melangkah masuk ke dalam gedung tersebut dan saat itulah tanpa sengaja dia bertabrakan dengan laki-laki yang waktu itu tiba-tiba memeluknya di JPO.
"Maaf, saya tidak sengaja," ujar laki-laki itu sambil membantu Nisa berdiri.
"Kenapa sih setiap bertemu denganmu aku selalu sial," gumam Nisa sambil merapikan kembali bajunya. "Hei, apa kamu juga mendapatkan panggilan wawancara disini?" tanya Nisa kepada laki-laki.
"Aku? Kamu bertanya padaku?" tanya laki-laki itu sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Tentu saja aku bertanya padamu, memangnya siapa lagi yang berada di sebelahku selain kamu?" jawab Nisa.
"Aku.... "
"Aku berharap semoga wawancaraku kali ini sukses dan aku bisa mendapatkan pekerjaan di sini," ucap Nisa.
"Perusahaan ini adalah perusahaan besar dan pasti memiliki prospek yang bagus kedepannya, dan yang paling penting perusahaan ini tidak bergantung pada perusahaan lain," jawab Nisa.
Iya, sebelum mengirimkan cv ke beberapa perusahaan terlebih dulu Nisa mencari tahu ada tidaknya keterikatan perusahaan-perusahaan itu dengan perusahaan milik Bima. Hal itu dia lakukan agar kelak Bima tidak akan bisa lagi mengancamnya saat ia berhasil membawa ketiga sahabatnya keluar dari perusahaan suaminya tersebut.
"Ohya, karyawan di sini ramah-ramah ya? Tidak kusangka di perusahaan yang sebesar ini para karyawannya masih mau menyapa orang yang belum menjadi karyawan di sini," ucap Nisa sambil membalas sapaan para karyawan yang dilaluinya.
"Ouh, iya-iya. Mereka semua ramah." Laki-laki itu hanya mengiyakan perkataan Nisa.
Keduanya kemudian masuk kedalam lift untuk naik ke lantai sepuluh ke tempat ujian wawancara itu dilaksanakan.
__ADS_1
"E... maaf, seingatku waktu itu Anda bilang, Anda sedang hamil, kenapa wanita hamil melamar pekerjaan?" tanya laki-laki itu dengan hati-hati.
Nisa menaruh jari telunjuk diatas bibir. "Husstt, ini rahasia kita berdua. Jangan sampai mereka tahu kalau aku sedang hamil, bisa-bisa sebelum wawancara aku sudah ditolak," jawab Nisa. Untuk beberapa detik Nisa terdiam, tiba-tiba raut wajahnya berubah sendu. "Aku harus bisa mendapatkan pekerjaan disini agar aku bisa membawa teman-temanku bekerja disini juga."
"Kenapa?"
"Tidak apa-apa, anggap saja karena aku tidak ingin berpisah dengan mereka," jawab Nisa. Wajah yang tadi sempat terlihat muram itu kembali tersenyum.
"Mau kemana? Bukankah ruang wawancara ada di sana?" tanya laki-laki itu begitu keduanya keluar dari lift.
"Aku mau ke toilet sebentar untuk merapikan bajuku agar aku tidak terlihat seperti wanita hamil. Semoga kita berdua sama-sama diterima di perusahaan ini ya," ucap Nisa. Dia kemudian berjalan ke arah lain untuk mencari toilet.
Tidak berselang lama, Nisa segera ke tempat wawancara kebetulan namanya baru saja dipanggil untuk melakukan tes wawancara tersebut. Sebelum masuk, Nisa menarik napas panjang kemudian menghembuskannya hal itu ia lakukan untuk mengurangi rasa gugup yang ia rasakan. Namun, mata Nisa membulat ketika melihat laki-laki yang ia ajak bicara tadi duduk diantara orang-orang yang akan melakukan tes itu kepadanya.
"Nona Emilia Sarah Ziannisa, menurut Anda bolehkah wanita hamil bekerja di perusahaan ini?" Tanpa basa-basi laki-laki itu langsung memberikan pertanyaan kepadanya.
Nisa menatap table sign yang ada di meja pria itu. Dari keterangan yang tertulis disana laki-laki itu adalah CEO sekaligus Dirut utama dari CAMP Grup yang memiliki nama panjang Cheyzzo Angga Mellyano Prawira
"Mati aku! Pantas saja tadi semua karyawan di bawah tadi menyapanya ternyata dia pemilik perusahaan ini," batin Nisa.
"Nona silakan jawab pertanyaan saya!" suruh laki-laki tersebut.
Nisa masih diam. Padahal awalnya dia berniat menyembunyikan kehamilannya agar bisa mendapatkan pekerjaan itu.
__ADS_1
"Nona Emilia, silakan jawab!" suruh laki-laki itu lagi.