
Senyum terpancar di bibir Nisa saat melihat anak-anak di yayasan tersebut tertawa bahagia. Setelah menemani mereka bermain rencananya, Nisa akan pergi dari yayasan tersebut.
Tadinya Nisa ingin mengundur kepergiaannya karena ingin menghadiri sidang perceraiannya dengan Bima meski hanya sekali. Tetapi, niat itu ia urungkan dengan berbagai pertimbangan yang salah satunya karena ia takut tempat persembunyiannya kali ini diketahui oleh suami dan atasannya tersebut. Ditambah baru saja dia mendapat telepon dari pengacaranya kalau ia sudah menemukan rumah sesuai dengan keinginannya. Nisa juga sudah memesan tiket secara online untuk meninggalkan kota Jakarta ini, dia ingin memulai hidup barunya bersama dengan calon anaknya nanti.
Nisa beranjak dari posisinya ketika melihat ada anak yang menangis karena jatuh. Dia segera membantu anak itu untuk bangun. Ada sedikit goresan di lutut anak itu yang membuat Nisa harus segera mengobatinya. Setelah membasuh bagian yang luka itu dengan air, setelah sedikit kering, ia kemudian mengoleskan anti septik ke luka tersebut.
"Bagaimana? Masih sakit?" tanya Nisa dengan lembut kepada anak yang jatuh tadi.
Anak laki-laki yang usianya sekitar 4 tahunan tersebut menjawab, "Sedikit."
"Jangan khawatir sebentar lagi nggak akan sakit lagi kok. Lain kali lebih berhati-hati ya, Sayang." Nisa mengusap kepala anak itu.
Anak laki-laki itu pun menganggguk.
"Tante, kenapa dua orang itu menatap ke arah kita?" tanya anak laki-laki itu sambil menunjuk ke arah pintu masuk. Nisa mengikuti arah yang ditunjuk oleh anak itu.
Dia memang sempat terkejut, melihat keberadaan mereka di sini. Namun, dia kembali bersikap biasa.
"Kamu main lagi sama teman-temanmu dulu ya, nanti Tante menyusul!" suruh Nisa. Ia mengusap kepala anak tersebut dengan gemas. Anak itu pun kembali bermain dengan teman-temannya lagi.
__ADS_1
"Kalian untuk apa datang ke sini?" tanya Nisa kepada Bima dan Angga.
"Nis, aku harus bicara dengan kamu. Ada yang harus kita selesaikan sebelum kamu tetap bersikukuh untuk menceraikan aku," jawab Bima.
"Kalau Anda Pak Angga, untuk apa Anda mencariku?" tanya Nisa kepada mantan bosnya tersebut.
"Sama seperti suamimu, ada hal yang juga harus aku katakan kepadamu," jawab Angga.
Nisa menarik napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya.
"Pak Angga, jika itu soal pribadi, aku minta maaf, karena ku rasa tidak ada hal yang harus kita bicarakan," ucap Nisa.
"Tapi, Nis.... "
"Sebentar lagi, lo juga bakal jadi mantan suaminya. Jadi, lo juga harus tahu diri," balas Angga yang tak mau kalah.
"Hei, belum tentu, Bro. Bagaimana pun aku masih ada kesempatan untuk balikan lagi dengan Nisa. Apalagi, sekarang Ayu sudah kabur dari rumah."
"Ayu kabur? Kenapa?" tanya Nisa. Dia penasaran bagaimana wanita yang materialistis itu, tiba-tiba kabur dari rumah suaminya itu.
__ADS_1
"Makanya kita harus bicara, Nis!" pinta Bima dengan sungguh-sungguh.
Nisa menatap Bima sebentar kemudian menghela napasnya. "Baiklah," jawab Nisa beberapa saat kemudian.
"Nis, aku juga ingin bicara denganmu." Angga menahan lengan Nisa.
"Pak, aku berterima kasih karena Bapak mau menerima keberadaan teman-temanku di perusahaan Bapak. Aku juga berterima kasih karena selama ini Bapak selalu membantuku dan aku tidak akan melupakan kebaikan Bapak itu. Tapi.... "
"Tapi, apa, Nis?"
"Kalau Bapak mengharapkan sesuatu yang lebih dari hubungan kita ini, saya minta maaf karena saya tidak bisa melakukannya. Bapak sudah punya calon tunangan. Dan... aku juga belum yakin dengan keputusanku untuk menggugat cerai Mas Bima. Mungkin saja setelah pembicaraan kami setelah ini, tiba-tiba aku merubah keputusanku. Jadi, pergilah, Pak. Jangan kecewakan orang tua dan calon tunangan Bapak," jelas Nisa panjang lebar.
"Tapi, Nis. Aku tidak memiliki perasaan apa pun dengan Thania. Aku.... "
"Aku juga tidak memiliki perasaan apa pun terhadap Bapak," sela Nisa. "Jadi, pergilah!" suruh Nisa tanpa ekspresi.
"Nis," panggil Angga.
"Ayo, Mas Bima, kita biacara di dalam!" Nisa mengajak laki-laki yang masih berstatus sebagai suaminya tersebut untuk mengikutinya ke dalam yayasan.
__ADS_1
"Pergi sana! Nisa tidak mau bicara denganmu!" usir Bima. Dia kemudian membuntuti Nisa yang berjalan masuk.
Tanpa berbicara apa pun, Angga akhirnya mau meninggalkan yayasan tersebut.