
Pagi-pagi sekali Nisa sudah dibikin repot oleh anaknya. Sudah berkali-kali ia membujuk putra semata wayangnya tersebut untuk mandi, berkali-kali pula ia mendapatkan penolakan. Putranya terus berlari kesana ke mari membuat Nisa kesulitan mengejar.
"Sayang, mama nyerah! Mama udah nggak sanggup lagi ngejar kamu," ucap Kanaya sambil memgangkat kedua tangannya. Ia kemudian duduk di kursi dengan napas ngos-ngosan.
"Mama nggak asik, padahal Daffa masih mau main kejar-kejaran sama Mama." Balita lima tahun dengan pipi chubby itu cemberut.
"Main kejar-kejarannya disambung nanti ya sayang. Sekarang Daffa mandi terus ke sekolah," bujuk Nisa.
"Yah, Mama," keluh Daffa. Bocah 5 tahun tersebut cemberut dengan wajah ditekuk.
"Nanti setelah Daffa pulang sekolah, kita main kejar-kejaran lagi. Ok." Bujuk Nisa sekali lagi.
Daffa yang sebelumnya menolak pun akhirnya setuju. Sebelum putra semata wayangnya tersebut berubah pikiran, cepat-cepat Nisa membawanya ke kamar mandi. Karena akan sulit bagi Nisa jika harus membujuk putranya tersebut untuk yang kedua kalinya.
Setelah mandi dan berseragam lengkap, Nisa pun mengajak putranya untuk sarapan. Tidak ada menu spesial yang tersaji di meja makan karena keduanya hanya sarapan dengan roti yang diolesi selai dan segelas susu.
"Ma, nanti pulang sekolah Daffa mau main ke tempat Om Angga lagi ya?" Dengan mulut penuh Daffa berbicara.
"Sayang, kalau mulutnya sedang penuh begitu jangan berbicara dulu, nanti tersedak!" tegur Nisa.
__ADS_1
Cepat-cepat Daffa mengunyah rotinya setelah itu ia langsung menghabiskan segelas susu coklat yang ada di hadapannya.
"Sekarang sudah habis," ujar Daffa, Nissa hanya menggeleng melihat tingkah putranya tersebut.
"Ma, boleh kan?" tanya Daffa lagi.
"Boleh saja, asal Daffa janji nggak akan mengganggu Om Angga bekerja," jawab Nisa sambil mengingatkan. "Tapi, Sayang, bukannya Daffa juga sudah janji mau main sama papa nanti?"
Daffa tampak berpikir. Satu sisi dia ingin bermain bersama papanya, tetapi di sisi lain dia juga ingin bermain bersama dengan Om Angga.
"Bisa nggak, Ma, kalau Daffa main sama papa dan Om Angga barengan?" pertanyaan itu keluar dari mulut kecil Daffa.
"Sekarang Daffa berangkat sekolah dulu yuk, mama yang akan anter Daffa!" ajak Nisa. Dia menggandeng tangan putranya dan berjalan ke luar dari rumah. Namun, langkah keduanya berhenti ketika ternyata Angga dan Bima sudah berdiri di depan pintu untuk menunggu menunggu mereka.
"Mas Bima, Angga, kenapa kalian bisa ada di sini?" tanya Nisa kepada dua lelaki dewasa di depannya.
"Aku mau nganterin Daffa ke sekolah," jawab Bima dan Angga bersamaan.
Nisa menatap dua orang itu bergantian.
__ADS_1
"Daffa sayang, sekolahnya diantar sama papa yuk! Kan Daffa kemarin sudah janji mau main sama papa lagi." Bima lebih dulu mengajak putranya.
"Gimana kalau sama Om Angga saja, nanti siang kita belajar bikin kue ulang tahun lagi. Daffa mau kan?" Angga juga tak mau kalah.
Dua laki-laki dewasa itu saling memberikan tatapan sinisnya.
"Daffa yuk berangkat sama papa saja!"
"Sama Om saja yuk, Daf!"
Bima dan Angga sama-sama berusaha mempengaruhi Daffa agar mau pergi ke sekolah bersama mereka.
Belum ada jawaban yang keluar dari mulut Daffa. Dia menatap papanya dan Angga bergantian, bocah kecil itu tampak bingung untuk memilih bersama siapa ia akan berangkat ke sekolah.
"Sayang."
"Daffa."
Dengan ekspresi penuh harap, Bima dan Angga memanggil bocah kecil yang berdiri di hadapannya.
__ADS_1