Dimadu Karena Wasiat

Dimadu Karena Wasiat
DKW 26 - Menghancurkan Rekaman Cctv


__ADS_3

Nisa memegang kartu atm yang dilempar oleh Bima dengan ekspresi bingung. Dia benar-benar tidak mengerti kenapa kartu atm itu bisa ada di dalam tasnya. Nisa yakin setelah kartu itu diberikan kepada Ayu, dia tidak pernah lagi memegang kartu tersebut.


"Apa ini perbuatan kalian?" tanya Nisa kepada Ayu dan tantenya yang masih berdiri di hadapannya.


"Jangan sembarangan menuduh kalau Mbak nggak punya bukti karena jatuhnya fitnah," jawab Ayu.


"Aku ingat betul kalau aku sudah memberikan atm ini kepadamu, tapi kenapa tiba-tiba atm bisa ada padaku sekarang? Kalau bukan kamu dan tantemu yang melakukan semuanya tidak mungkin kartu atm ini ada di dalam tasku sekarang," ujar Nisa.


Ayu dan tantenya hanya mengedikan bahu mereka. Keduanya meninggalkan Nisa begitu saja tanpa mengatakan apa-apa.


***


"Mas, sudahlah maafin Mbak Nisa. Mungkin dia begitu karena dia tidak suka dengan keputusan Mas Bima yang ingin melegalkan pernikahan kita. Mungkin memang seharusnya kita rahasiakan saja pernikahan kita ini dari dunia biar Mbak Nisa tidak membenciku," ucap Ayu. Dia ingin terlihat seperti malaikat di depan suaminya.


Tante Meta yang berdiri tidak jauh dari mereka mengacungkan jempolnya kepada Ayu. Dengan Ayu pura-pura ingin mengalah, maka Nisa akan semakin terlihat buruk di mata Bima.

__ADS_1


"Mana bisa begitu, Yu. Aku sudah berjanji kepadamu akan melegalkan pernikahan kita dan pasti akan aku tepati. Sekarang aku justru semakin ingin mengenalkanmu kepada dunia bahwa aku memiliki istri cantik yang berhati luas," jawab Bima.


"Tapi, Mas. Kalau Mbak Nisa tetap menolaknya bagaimana? Aku takut orang-orang akan memandangku negatif karena merebut suami orang. Semua orang pasti akan mengjudge aku sebagai pelakor. Sudahlah, Mas, biarkan saja posisiku seperti ini seperti seorang simpanan," ucap Ayu lagi dengan memasang mimik wajah menyedihkan. Dia bertingkah seolah menjadi wanita lemah tak berdaya.


"Kamu tenang saja, Yu. Aku pastikan tidak akan ada yang berani mengataimu begitu karena aku yang akan membuat Nisa memperkenalkanmu sebagai istri keduaku dihadapan orang banyak. Aku akan membuatmu tetap dihormati sama seperti mereka menghormati Nisa." Bima mendekap tubuh istri keduanya itu lalu mengecup keningnya.


"Aku kembali ke kantor dulu ya, nanti malam kita bicarakan lagi soal rencana melegalkan pernikahan kita," pamit Bima.


"Iya, Mas."


"Aku kembali ke kantor sekarang ya, Yu. Assalammualaikum."


Saat Bima keluar dari kamar Ayu dan berjalan menuju ke dalam mobil, Nisa menjegatnya.


"Mas, aku mau bicara sebentar, Mas." Nisa berusaha memanggil suaminya yang hendak masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


"Mau bicara apa lagi? Kamu mau menfitnah Ayu lagi?"


"Aku tidak pernah memfitnah Ayu, Mas. Aku punya buktinya," jawab Nisa.


"Aku sudah tidak percaya lagi sama kamu." Bima langsung menutup pintu mobilnya, dia tidak mempedulikan panggilan dari istri pertamanya tersebut.


"Jalan, Pak!" suruh Bima kepada Sang supir.


"Mas, dengarkan aku dulu! Mas!" panggil Nisa.


"Mas, tolong lihat dulu bukti yang aku punya!" pinta Nisa.


"Mas!"


Teriakan Nisa tak membuat hati Bima tergerak untuk mau mendengarkan penjelasan dari istri pertamanya.

__ADS_1


Mobil yang membawa Bima itu pun semakin menjauh meninggalkan rumah.


"Kenapa sih, Mas, kamu nggak mau melihat bukti yang mau tunjukan kepadamu?" gumam Nisa. Dia menatap rekaman cctv yang sudah ia back up di ponselnya dengan tatapan sendu. Saat itulah Tante Meta merebut hp Nisa dan menghapus rekaman cctv tersebut. Dia juga menyuruh Ayu untuk mengambil rekaman cctv yang ada di kamar Nisa dan menghancurkannya agar tidak ada lagi bukti yang bisa ditunjukkan Nisa kepada Bima.


__ADS_2