Dimadu Karena Wasiat

Dimadu Karena Wasiat
DKW 77


__ADS_3

Sudah 3 hari pasca Nisa pergi dari rumah yang disediakan Angga, wanita itu memilih tinggal di sebuah panti asuhan tempat ia pernah tinggal ketika ibu kandungnya harus dirawat di rumah sakit jiwa. Disana, Nisa membantu mengurus anak-anak panti seperti yang pernah ia lakukan beberapa tahun silam. Dan ini pertama kalinya, Nisa menginjakkan kakinya lagi di panti asuhan tersebut setelah ia menikah.


Bukan Nisa tidak mau mendatangi tempat itu lagi setelah menikah, tapi berada di sana membuatnya mengingat segala kesedihan yang dirasakan pasca sang ibu dibawa ke rumah sakit jiwa. Ketika teman-teman sekolahnya mengetahui kabar tentang ibunya yang dirawat di rumah sakit jiwa, Nisa sering diejek dan dibully oleh teman sekelasnya hingga membuatnya pernah ingin keluar dari sekolah. Namun, pertemuan dengan Bima yang tanpa disengaja membuatnya merubah keinginan itu.


Iya, Bima pertama kali mengenal Nisa saat ia bertugas memperkenalkan kampus tempatnya menimba ilmu di SMA tempat Nisa bersekolah. Pertemuan pertama mereka terjadi ketika ia menyelamatkan Nisa dari bully-an teman-temanya dan sejak saat itu hubungan kedunya semakin dekat hingga saling jatuh cinta dan berpacaran. Namun, keduanya sepakat untuk berpisah ketika Bima harus melanjutkan S2nya di luar negeri. Keduanya tidak mau ikatan mereka akan menghambat karir dan kebahagiaan mereka ke depan. Mereka juga takut akan melukai hati masing-masing ketika keduanya tidak bisa setia ketika harus berhubungan jarak jauh.


"Nis, kamu yakin akan bercerai dengan Bima? Kamu tidak takut anakmu akan kehilangan sosok ayah?" tanya ketua yayasan bernama Larissa dengan sangat hati-hati.


"Yakin, Bu, aku tidak sanggup dipoligami. Kalau soal sosok ayah, aku yakin bisa menjalani peranku sebagai ibu dan ayah sekaligus," jawab Nisa.


"Tapi, Nis.... "

__ADS_1


"Maaf, Bu. Aku kesini untuk mencari ketenangan sebelum aku benar-benar pergi dari kota ini. Setelah resmi bercerai dengan Mas Bima, aku akan pergi ke luar kota," pungkasnya.


Sebenarnya bukan hanya Bima yang membuat Nisa ingin secepatnya meninggalkan kota Jakarta ini, tetapi keberadaan Angga dan perasaannya yang mulai tumbuh untuk pria itu harus segera bisa ia kendalikan karena bagaimanapun Angga sudah punya tunangan dan ia tidak mau menjadi perebut tunangan orang.


"Kapan sidang perceraian kalian akan dimulai?" tanya Larissa.


"Minggu depan dan aku sudah menyerahkan segalanya kepada pengacaraku," jawab Nisa. "Aku akan pergi ke luar kota setelah menemui ibuku."


"Apa Nyonya Vena sudah mengetahui keputusanmu ini? Meski dia hanya mertuamu, tapi yang aku tahu dia sangat menyayangimu. Setidaknya berpamitan lah yang benar dengannya," ujar Bu Larissa.


Bu Larissa menatap nanar Nisa, ia kemudian menghembuskan napas seolah ikut merasakan hal yang Nisa rasakan saat ini.

__ADS_1


***


Di tempat lain ada dua orang pria yang putus asa karena tidak berhasil menemukan keberadaan Nisa. Padahal sudah tiga hari keduanya mengelilingi kota Jakarta untuk mencari keberadaan wanita itu. Baik Bima maupun Angga keduanya sama sekali tidak ada bayangan kemana Nisa pergi. Bahkan keduanya sampai menyewa orang untuk membantu mencari Nisa.


"Dimana kamu sekarang, Nis? Bagaimana keadaanmu dan bayimu? Apa kalian baik-baik saja?" Angga yang duduk di ruang kerjanya membatin.


Tak beda jauh dengan Angga, hal yang sama juga dilakukan oleh Bima. Pria itu juga sedang melamun di ruang kerjanya sembari menunggu kabar dari orang suruhannya.


Ting!


Satu pesan masuk di ponsel milik Bima dan Angga bersamaan. Pesan itu datang dari orang suruhan mereka masing-masing.

__ADS_1


[Pak, kami berhasil menemukan keberadaan Ibu Nisa. Dia berada di yayasan yatim piatu Al-Manaf]


Bima dan Angga terperanjat dari kursi mereka masing-masing. Tak mau menunggu terlalu lama, baik Bima maupun Angga segera menuju ke yayasan yatim piatu tersebut.


__ADS_2