Dimadu Karena Wasiat

Dimadu Karena Wasiat
DKW 15 - Mengantar makan siang.


__ADS_3

Siang itu Nisa sedikit mengalami kram di perutnya saat sedang memasak di dapur dan tentu saja hal tersebut membuat Ayu panik.


"Mbak, Mbak Nisa nggak apa-apa? Apa saya perlu panggilkan dokter?" tanya Ayu sambil membantu Nisa duduk di salah satu kursi yang ada di dapur.


"Nggak usah, istirahat sebentar juga nanti sembuh," jawab Nisa sambil mengusap perutnya.


"Atau Mbak mau saya telepon Mas Bima buat pulang?" tanya Ayu lagi.


"Mas Bima sedang ada rapat penting, Yu. Jika kamu meneleponnya, dia pasti akan meninggalkan rapat itu. Jadi, tidak usah ya," jawab Nisa sambil meringis.


"Terus saya harus ngapain, Mbak? Apa yang bisa saya lakukan?" tanya Ayu lagi.


"Ini minum teh angetnya." Meski terlihat tidak ikhlas Tante Meta meletakkan cangkir berisi teh hangat di atas meja yang ada di depan Nisa.


"Terima kasih," ucap Nisa.


"Ayo, Mbak diminum!" suruh Ayu, dia membantu istri pertama dari suaminya tersebut untuk meminum teh yang diberikan oleh Tanten Meta.


Setelah satu dua tegukan, Nisa sedikit mendorong cangkir yang ada di tangan Ayu sambil berkata, "Sudah, Yu. Terimakasih."


"Bener, Mbak Nisa nggak mau aku menelpon Mas Bima?" sekali lagi Ayu memastikan.


"Tidak, usah. Perutku akan terasa sedikit kram kalau kecapekan atau banyak pikiran," jawab Nisa.


"Maaf ya, Mbak. Apa ini gara-gara saya?" tanya Ayu dengan wajah sedihnya.


"Tidak kok, Yu. Aku sudah terbiasa dengan keadaan ini," jawab Nisa. "Ohya, Yu. Bisa saya minta tolong sama kamu?"

__ADS_1


"Bisa, Mbak. Mbak mau minta tolong apa sama saya?" jawab Ayu seraya bertanya.


"Tolong kirim makan siang Mas Bima ya ke kantor. Tadi Mas Bima menyuruhku untuk mengantarkan makan siangnya ke kantor, tapi sekarang kamu lihat sendiri keadaanku, kan? Kamu bisa membantuku mengirim makan siang untuk Mas Bima, kan, Yu?" tanya Nisa sekali lagi.


"Tapi.... "


"Mas Bima tidak begitu suka dengan makanan luar. Biasanya dia lebih memilih untuk tidak makan siang jika aku tidak mengantarkan makanan untuknya," sela Nisa.


"Sudah, Yu. Nisa benar. Bagaimana pun Bima itu kan juga suamimu, kamu juga punya kewajiban untuk memperhatikan makanannya." Tante Meta ikut menimpali.


"Tapi, Tante aku.... "


"Nanti tante temani," sela Tante Meta. "Bolehkan saya menemani Ayu ke kantornya Bima?" pertanyaan ini Tante Meta tujukan kepada Nisa.


"Boleh, Tante," jawab Nisa.


"Ya udah sana ke dapur siapkan makanan untuk dibawa ke kantor suamimu!" suruh Tante Meta.


"Aku juga mau bantu Ayu dulu di dapur. Permisi." Tante Meta mengikuti Ayu ke dapur.


Setengah jam kemudian, Ayu kembali menemui Nisa untuk berpamitan. "Mbak, aku pergi ke kantornya Mas Bima sekarang, ya," pamitnya.


"Iya, Yu. Makasih ya karena kamu udah mau gantiin aku nganterin makan siang ke Mas Bima. Nanti tolong sampaikan permintaan maafku sama Mas Bima ya dan bilang kalau saya nggak bisa nganterin makanan karena kurang enak badan. Tapi, jangan bilang kalau perutku kram, nanti dia akan cemas dan panik," jawab Nisa.


"Iya, Mbak. Saya dan Tante pergi dulu ya. Assalammualaikum."


"Waalaikummussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Nisa.

__ADS_1


Dengan diantar oleh supir, Ayu dan Tante Meta diantar ke perusahaan milik Bima.


"Bi, Bi Asih," panggil Nisa.


"Iya, Nyonya," jawab Bi Asih.


"Tolong antar saya ke kamar ya, Bi. Saya mau istirahat." Nisa meminta asisten rumah tangganya tersebut untuk mengantarnya ke kamar.


"Baik, Nyonya. Mari saya bantu!" Bi Asih membawa majikannya tersebut ke kamarnya.


Sementara itu setelah kurang lebih tiga puluh menit perjalanan akhirnya Ayu dan Meta tiba di halaman perusahaan milik Bima. Sebuah perusahaan terbesar di Jakarta yang bergerak dalam bidang realestate.


"Ini perusahaan suamimu, Yu?" tanya Tante Meta sambil menatap gendung tinggi di hadapannya.


"Katanya sih iya. Soalnya ini juga pertama kalinya aku menginjakkan kaki disini pasca pernikahan," jawab Ayu.


"Ya udah ayo masuk!" ajak Tante Meta. Dibandingkan dengan Ayu, justru Tante Meta terlihat lebih antusias.


Ayu dan Tante Meta mulai melangkah masuk ke lobi perusahaan. Mereka berdua kemudian langsung berjalan ke arah lift untuk menuju ke lantai atas karena menurut Nisa ruang kerja Bima berada di lantai paling atas gedung itu. Namun, baru saja mereka akan me ginjakkan kaki ke dalam lift seorang pegawai menghentikannya. Dengan langkah lebar pegawai itu segera menghampiri Aya dan Nisa.


"Maaf, Mbak. Mbak siapa dan mau ketemu siapa?" tanya pegawai itu.


"Saya Ayu, saya mau ke ruang kerja Pak Bima. mau mengantar makan siang Pak Bima. Pak Bimanya ada kan di ruangannya?" jawab Ayu.


Pegawai yang bertugas di meja resepsionis itu menatap Ayu dan Meta dengan tatapan mengejek. "Apa Anda suruhannya Ibu Nisa ya?" tanyanya kemudian.


"Iya. Ibu Nisa yang menyuruh saya ke sini," jawab Ayu.

__ADS_1


"Ya sudah sana naik, tapi jangan pakai lift khusus. Karena lift khusus itu hanya untuk orang-orang tertentu saja," suruh pegawai tersebut.


Ayu dan Meta melanjutkan perjalanan yang sempat terhenti barusan. Keduanya segera masuk ke dalam lift. Namun sebelum pintu lift tertutup keduanya mendengar perkataan negatif dari pegawai tadi yang tentu saja membuat keduanya tersinggung.


__ADS_2