Dimadu Karena Wasiat

Dimadu Karena Wasiat
DKW 65


__ADS_3

Nisa akhirnya diizinkan keluar dari rumah sakit dengan beberapa catatan, dia dilarang untuk melakukan kegiatan fisik dan tidak boleh stres. Pada saat sedang bersiap-siap untuk meninggalkan rumah sakit, ketiga sahabat Nisa tiba-tiba datang.


"Hei, Lan, Rat, Wi, kalian nggak kerja?" tanya Nisa kepada ketiga sahabatnya yang baru datang tersebut. Pasalnya dia sengaja tidak memberi tahu mereka bahwa dirinya akan keluar rumah sakit hari ini.


"Pak Angga yang ngasih tahu kami, katanya hari ini kamu sudah diizinkan meninggalkan rumah sakit. Dia juga memberi kami izin untuk datang ke sini untuk membantumu," jawab Wulan.


"Kayaknya beneran deh, Nis, kalau Pak Angga itu memiliki perasaan khusus buat kamu." Dewi berujar.


"Itu tidak mungkin," jawab Nisa.


"Kenapa tidak mungkin?" tanya Dewi menanggapi jawaban dari sahabatnya tersebut.


Nisa diam sebentar seperti sedang mencari sebuah jawaban. Beberapa saat kemudian, ia pun menjawab, "Pertama karena dia kaya, mapan, dan masih muda. Jadi, nggak mungkin kan dia suka sama cewek yang statusnya aja belum jelas. Apalagi aku ini sedang hamil. Mana ada cowok single yang mau memiliki pacar yang udah jelas-jelas malah akan bikin repot dia. Kedua, dia udah punya calon tunangan dari keluarga yang sederajat. Lagian yang aku dengar calon tunangannya ini adalah pilihan langsung dari kedua orang tuanya, nggak mungkin kan Pak Angga ngecewain kedua orang tuanya?"


"Tapi, seandainya dugaan Dewi itu benar. Apa kamu mau menerima cinta Pak Angga itu?" tanya Ratna.


Kembali Nisa terdiam.


"Selama ini Pak Angga selalu bersikap baik sama kamu, dia membantumu memberi pekerjaan kepada kami, menolongmu saat kamu dalam kesulitan, dan aku dengar dari perawat, dia juga rela jagain kamu tiap malam. Kalau aku jadi kamu, aku nggak mungkin nggak jatuh cinta sama dia, minimal adalah perasaan tertarik sama dia," tutur Wulan. "Kamu nggak ngerasain perasaan itu ke Pak Angga?" tanyanya sambil menatap Nisa.


"Aku.... " Nisa tidak melanjutkan jawabannya. Dia tidak tahu apa ia juga memiliki perasaan yang dimaksud oleh Wulan barusan. Hanya saja, akhir-akhir jika ia berdekatan dengan Angga, ada perasaan bahagia yang ia rasakan. Dan sudah beberapa kali detak jantungnya juga sulit untuk dikendalikan.


"Aku apa?" tanya Wulan yang penasaran dengan perasaan sahabatnya tersebut kepada atasannya.


"Aku udah nggak sabar ingin keluar dari rumah sakit ini," jawab Nisa yang sengaja mengalihkan pembicaraan.


"Kirain kamu mau mengakui perasaanmu sama Pak Angga," ujar Ratna sebal.

__ADS_1


"Kalian bertiga ini aneh. Saat ini aku masih berstatus istri orang, belum resmi berpisah. Nggak mungkinlah aku mikirin cowok lain, dosa tahu," jawab Nisa sambil mencebik. "Udah ah, jangan bahas Pak Angga lagi. Nanti, kalau ada yang denger dikira aku cewek keganjenan yang belum resmi bercerai udah mikirin laki-laki lain."


"Iya, deh, iya," sahut Dewi.


"Nis, apa Bima sudah tahu kalau kamu akan meninggalkan rumah sakit hari ini?" tanya Ratna tiba-tiba.


"Belum," jawab Nisa sambil menggeleng.


"Kamu nggak ada niatan buat kasih tahu dia?" tanya Ratna lagi.


"Buat apa? Saat ini dia sedang sibuk jagain istri keduanya. Aku nggak mau mengganggu mereka berdua," jawab Nisa.


"Iya, sih. Tapi, bukankah dia masih ada hak untuk mengetahui keadaan kamu dan calon bayi kalian?" tanya Ratna lagi.


"Dia saja tidak melakukan kewajiban dia memberi perhatian kepadaku dan anak calon anaknya, kenapa aku harus memberinya hak itu?" jawab Nisa sembari bertanya.


"Sudah lah, Na! Nisa benar. Bima saja nggak peduli sama Nisa dan bayinya, kenapa Nisa harus perdulikan haknya si Bima?"Wulan ikut berbicara.


Nisa dan ketiga sahabatnya itu pun segera meninggalkan rumah sakit dan menuju ke rumah yang baru di rekomendasikan oleh Angga untuk di kontrak.


***


Pukul 13.00 WIB, setelah menjenguk Ayu di kamarnya, Bima berniat datang ke ruang rawat Nisa sambil membawakan makan siang dari luar. Dia ingin memberikan makanan itu sebagai permintaan maaf.


Hari ini Vena tidak bisa menjenguk Nisa karena dia sendiri sedang sakit. Sejak tahu Nisa akan menggugat cerai putranya, Vena terus memikirkan nasib rumah tangga putranya itu. Dia tidak mau kehilangan menantu kesayangan sekaligus cucu pertamanya tersebut.


Dengan senyum sumringah, Bima mendatangi kamar Nisa. Dia yakin kalau kali ini Nisa akan senang melihatnya datang dengan membawa makanan kesukaan istrinya itu. Selain itu dia juga membawakan kalung berlian untuk diberikan kepada istri pertamanya tersebut. Bima yakin, wanita mana pun akan bahagia ketika suaminya memberikan hadiah yang mewah.

__ADS_1


"Semoga kamu suka ini, Nis," gumam Bima ketika berada di depan pintu kamar rawat istri pertamanya tersebut.


Bima kemudian melangkah masuk ke dalam kamar rawat Nisa tersebut. Namun, alangkah terkejutnya ia ketika tidak mendapati istrinya berada di kamar itu.


"Sus, dimana pasien di kamar ini?" tanya Bima ada perawat yang berjalan melewati kamar itu.


"Dia sudah meninggalkan rumah sakit sekitar satu setengah jam yang lalu, Pak," jawab perawat itu.


"Dengan siapa? Kenapa dia tidak memberitahuku?"


"Saya tidak tahu, Pak. Tapi, tadi ada tiga orang perempuan yang datang ke kamar ini," jawab perawat itu lagi.


Bima tahu kalau menjemput Nisa pasti ketiga sahabat dari istrinya itu.


"Terima kasih, Sus," ucap Bima kepada perawat tersebut.


"Sama-sama, Pak. Permisi." Perawat itu pun berlalu dari hadapan Bima.


Awalnya Bima mencoba menghubungi nomor istrinya, namun setelah beberapa kali tidak ada jawaban, ia pun menghubungi nomor sahabat istrinya tersebut satu per satu. Sayangnya, hasilnya tetap sama, ketiga nomor itu tidak menjawab panggilannya.


"Kemana Nisa akan pulang? Ke rumah? Atau ke tempat lain yang tidak aku ketahui?" batin Bima.


Bima semakin galau ketika Bik Asih, asisten rumah tangganya memberi tahu, jika Nisa tidak pulang ke rumah.


Dari kejauhan ada seseorang yang terus memperhatikan Bima. Orang itu merasa senang karena sudah berhasil membuat istri dari Bima itu pergi menjauh.


"Satu penghalangku menguasi harta Mas Bima sudah pergi. Sekarang, tinggal mencari cara agar si Vena mau mengalihkan hartanya atas nama Mas Bima ya karena jika masih atas nama wanita itu, pasti akan sulit bagiku untuk memindahkan harta itu atas namaku," gumam wanita itu. "Aku sudah capek harus berakting lemah seperti ini. Rasanya bosan terus-terusan berada di rumah sakit," keluhnya.

__ADS_1


Sebelum ketahuan oleh Bima, orang itu segera pergi dari sana.


Bima memperhatikan sekelilingnya. "Kenapa barusan aku merasa ada yang sedang memperhatikanku ya?" batinnya. "Tidak! Itu pasti perasaanku saja."


__ADS_2