Dimadu Karena Wasiat

Dimadu Karena Wasiat
DKW 5 - Makan malam yang tidak menyenangkan


__ADS_3

Siang sudah berubah menjadi malam. Namun, Nisa belum juga keluar dari kamarnya. Dia juga melewatkan dua jam makan, yaitu makan siang dan makan malam. Wanita itu masih enggan untuk keluar dari kamar. Tentu saja hal tersebut membuat Bima jadi mengkhawatirkan keadaan sang istri.


"Mas, Mbak Nisa belum mau keluar ya dari kamarnya sejak tadi siang?" tanya Ayu. Wanita berambut sebahu itu semakin tidak enak hati dengan kehadiran dirinya.


"Belum," jawab Bima lemah.


Ayu duduk di tepat di sebelah suaminya itu. "Mas, kalau memang Mbak Nisa nggak bisa nerima aku jadi madunya, Mas bisa kok ceraikan aku sekarang."


Bima menghembuskan napas dan menatap Ayu. Pria yang kini memiliki dua istri itu menggenggam tangan istri mudanya. "Yu, selain aku sudah berjanji pada almarhumah ibumu untuk menjagamu, aku juga sudah berjanji pada Allah. Jadi mana mungkin aku bisa menceraikanmu semudah itu."


"Tapi, Mas, bagaimana dengan Mbak Nisa? Aku nggak mau nyakitin dia, Mas. Sebagai seorang perempuan wajar jika dia sangat marah. Harusnya sejak awal aku tidak usah menerima lamaranmu, Mas."


"Jangan bicara seperti itu, Yu! Pernikahan kita ini terjadi atas seizin Tuhan. Jadi, aku mohon sama kamu bersabarlah sedikit lagi. Aku akan berusaha untuk membujuk Nisa agar dia bisa menerima takdir ini."


"Tapi, Mas.... "


"Sst." Bima meletakkan jari telunjuknya di bibir Ayu. "Jangan katakan hal apa pun lagi, apalagi soal perceraian. Aku janji akan berusaha untuk menjadi suami yang adil bagi kalian berdua. Hm."


Meski masih merasa tidak enak, Ayu mengangguk.


"Sekarang kamu juga harus makan, aku tahu kamu juga belum makan kan dari siang tadi!" suruh Bima.

__ADS_1


"Aku.... "


"Kalau kamu mau membantu meringankan bebanku, kamu tidak akan menolak untuk makan," sela Bima.


"Baiklah, tapi, Mas Bima juga harus makan ya. Mas Bima kan juga belum makan." Kini gikiran Ayu yang membujuk suaminya untuk makan.


"Baiklah. Ayo kita makan."


Bima mengajak istri keduanya itu ke ruang makan. Dia menyuruh asisten rumah tangga untuk menyiapkan makan malam untuknya dan Ayu.


"Mas, apa mama sudah makan?" tanya Ayu. Dia tiba-tiba ingat dengan mertuanya.


"Sepertinya belum, Tuan. Soalnya Nyonya juga tidak keluar dari kamarnya setelah ngobrol dengan Tuan Bima tadi," jawab Bik Asih.


"Bagaimana ini, Mas? Bahkan gara-gara pernikahan kita mama Mas Arya juga ikutan nggak makan?" Ayu semakin merasa bersalah.


"Kamu jangan khawatir, mama sudah tidak menentang pernikahan kita ini kok. Dia janji akan membantu kita untuk membujuk Nisa." Bima kembali mengusap punggung tangan Ayu.


"Bagaimana kalau setelah kita makan, kita bagi tugas. Kamu membawakan makan malam untuk mama dan aku akan membawa makanan untuk Nisa. Kamu tidak keberatan kan?" tanya Bima setelah mengutarakan idenya.


"Iya, Mas, aku setuju."

__ADS_1


"Nah, kalau begitu kamu makan sekarang."


"Mas juga dong."


Ayu mengambil nasi dan menaruhnya di atas piring milik Bima. Setelah itu dia baru mengambil makanan untuk dirinya sendiri.


"Mas Bima kan yang nyuruh aku makan, jadi Mas Bima dong yang harus makan duluan."


Bima menatap pintu kamar Nisa yang masih tertutup. Dia jadi ingat kebiasaan sang istri yang selalu menunggunya pulang hanya untuk bisa makan bersama.


"Mas kok bengong? Aku suapin ya?" tanya Ayu.


Sebenarnya Bima juga ingin melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Nisa. Tetapi, dia juga memiliki kewajiban lain untuk bisa memastikan istri keduanya tersebut untuk makan.


"Aaa!" Bima membuka mulutnya saat Ayu menyuapinya.


"Aku akan makan sendiri," tolak Bima saat Ayu akan menyuapinya lagi.


"Iya, Mas."


Bima dan Ayu melanjutkan makan malam mereka meski dengan perasaan tidak nyaman. Keduanya sesekali menghela napas seolah ingin membebaskan rasa tidak nyaman tersebut.

__ADS_1


__ADS_2