
"Alhamdulillah, pasien dan calon bayinya selamat. Untung saja Anda tepat waktu membawa istri Anda ke sini karena jika terlambat sedikit saja kemungkinan Anda bisa kehilangan calon anak Anda," ujar Dokter tersebut.
"Alhamdulillahhirabbil a'lamiin." Angga benar bahagia mendengar itu. "Tapi maaf, Dok saya bu.... "
"Sebentar lagi istri Anda akan dipindahkan ke ruang perawatan. Saya ingatkan kepada Anda untuk menyuruh istri Anda untuk benar-benar bedrest. Dia tidak boleh melakukan pekerjaan apa pun, jika ingin calon bayi kalian tetap dalam keadaan baik," potong Dokter itu tanpa memberi kesempatan kepada Angga untuk menjawab.
"Baik, Dok. Saya akan memberitahunya nanti," jawab Angga.
"Ya sudah, saya ke ruangan saya dulu ya, Pak. Jangan lupa jaga istri Anda dan calon anak kalian baik-baik," pamit Dokter itu, ia pun kemudian berlalu dari hadapan Angga.
Akhirnya Nisa sudah dipindahkan ke ruang rawat. Selama wanita itu belum sadarkan diri, Angga terus menungguinya dengan duduk di bangku kosong yang tersedia di samping brankar.
"Dimana ini?" tanya Nisa begitu ia mulai membuka matanya. Dia hendak bangun dari posisinya, namun dicegah oleh Angga.
"Kamu berbaring saja!" tutur Angga. "Saat ini kamu sedang berada di rumah sakit."
Nisa kembali mengingat hal sebelum ia pingsan. "Bayiku.... " Nisa memegang perutnya.
"Bayimu tidak apa-apa, tapi dokter menyuruhmu untuk beristirahat total," pungkas Angga.
"Terima kasih karena Bapak sudah membantu saya," ucap Nisa.
"Sama-sama. Oh iya, apa aku perlu menghubungi suamimu?" tanya Angga.
"Tidak usah, Pak. Aku tidak mau mengganggu waktunya."
__ADS_1
"Tapi, dia suamimu dan ayah dari anak yang sedang kamu kandung. Aku rasa dia berhak tahu keadaan kalian."
Nisa tidak langsung menjawab, dia hanya menarik napas panjang kemudian menghembuskannya perlahan. "Sebenarnya sudah lama aku ingin berpisah dengannya. Aku sudah merasa lelah dan tidak kuat menghadapi semua hal yang menimpa rumah tanggaku saat ini. Tapi, karena satu dan lain hal membuatku terpaksa tetap bertahan," jawab Nisa yang terdengar berat.
"Kalau boleh tahu apa yang membuatmu tetap berusaha bertahan di sisi suamimu, padahal kamu tidak bahagia?" tanya Angga dengan hati-hati.
"Dulu kehidupan rumah tangga kami sangatlah sempurna. Meski tanpa anak, aku dan Mas Bima masih bisa merasakan kebahagiaan. Tapi, gara-gara sebuah wasiat seketika kebahagiaan itu sirna, hilang tak berbekas. Mas Bima menikah lagi dengan wanita yang sudah diwasiatkan oleh almarhum papanya. Awalnya ku putuskan untuk menerima keadaan itu meski sebenarnya berat, karena setidaknya seluruh dunia hanya tahu kalau akulah istri satu-satunya Mas Bima. Tapi, kemudian wanita itu meminta dinikahi secara resmi, dia tidak mau dianggap sebagai simpanan suamiku. Sebenarnya sebagai wanita aku bisa mengerti keinginannya itu. Istri mana pun, tidak akan mau jika hanya dijadikan istri siri. Tapi... sayangnya aku tidak bisa menerima itu, aku sudah meminta Mas Bima untuk melepaskanku dengan baik-baik, tapi dia menolak dengan alasan aku mengandung anaknya dan dia tidak mau berpisah dengan anak kami nantinya, padahal aku sudah bilang tidak akan menghalangi dirinya untuk bertemu dengan anaknya kelak, tapi tetap saja dia menolak keinginanku itu." Nisa menjeda ceritanya.
"Apa suamimu bersikap adil kepada kalian berdua?" tanya Angga.
"Mungkin adil. Tapi yang namanya berpoligami mana bisa beneran adil sih? Pasti adakalanya diantara kami berdua merasa iri dengan perhatian yang diberikan oleh Mas Bima kepada kami. Apalagi makin ke sini, Mas Bima lebih mempercayai ucapan istri barunya. Dia bahkan sudah mulai berbuat kasar kepadaku," jawab Nisa.
"Apa warna ungu di pipimu waktu itu karena ulahnya?" tanya Angga lagi. Entah kenapa membayangkan itu membuat hatinya merasa gerah. Dia seolah tak terima jika ada yang menyakiti Nisa, meskipun itu suaminya sendiri.
"Benar," jawab Nisa sambil tersenyum. Dia tidak mau terlihat menyedihkan di depan atasannya tersebut. "Dan waktu itu aku sempat ingin langaung menggugat cerai dia."
"Karena tujuanku belum berhasil," jawab Nisa.
"Tujuan?"
Nisa mengangguk. "Kamu tahu alasan kenapa aku ingin bekerja di perusahaanmu?"
Angga menggeleng.
"Karena perusahaanmu tidak tergantung pada perusahaan Mas Bima, jadi jika aku sudah menjadi orang kepercayaanmu dan diperbolehkan mengajak teman-temanku bekerja di perusahaanmu, maka tidak akan ada masalah bagi perusahaanmu nantinya," jelas Nisa.
__ADS_1
"Maksudmu.... "
"Iya... tujuanku bekerja di perusahaanmu adalah untuk bisa membawa teman-temanku bekerja di sana karena ketiga temanku itu masih membutuhkan pekerjaan dan Mas Bima menggunakan mereka sebagai alat untuk tetap mempertahankan aku di sisinya. Kalau aku tidak memikirkan mereka, mungin aku sudah pergi jauh dari kota ini," terangnya.
"Kalau begitu berpisahlah dengan Bima sekarang! Aku berjanji akan menampung teman-temanmu di perusahaanku!" suruh Angga.
"Bapak serius?" tanya Nisa memastikan.
Angga mengangguk. "Aku serius. Asal aku tidak melihatmu terluka lagi karena Bima," jawab Angga. "Kamu berhak bahagia, Nisa. Jangan lagi mengorbankan kebahagiaanmu untuk orang lain!" tambahnya. Kali ini sambil menatap kedua bola mata wanita yang sedang berbaring di atas brankar.
"Terima kasih, Pak. Aku berjanji begitu keadaanku sudah membaik, aku akan membantu Bapak memenangkan tender," ucap Nisa.
"Jangan pikirkan masalah kerjaan! Fokus saja dulu dengan kesehatan dan anak dalam kandunganmu itu! Ingat! Dokter menyuruhmu untuk istirahat total!" seru Angga.
"Iya, Pak. Sekali lagi terima kasih. Akhirnya aku lega karena akhirnya ada jalan keluar untuk masalah teman-temanku."
Ada sesuatu yang Angga rasakan di hatinya kala melihat senyum lepas yang terukir di bibir tipis milik Nisa.
"Istirahatlah!" Angga menarik selimut Nisa hingga sebatas dada setelah itu, dia keluar dari ruang rawat tersebut untuk memberikan waktu kepada wanita itu untuk beristirahat.
Baru saja Angga keluar dari kamar rawat Nisa, seseorang sudah menarik kerah bajunya dan membawanya pergi dari area rumah sakit.
ššš
Gimana sudah seneng karena Nisa sebentar lagi terbebas dari Bima? š
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote, dan gift sebanyak-banyak ya. Terima kasih, lope you sekebon š¹