
Nisa memilih untuk langsung pulang dan mengembalikan kartu debit milik bosnya itu besok pagi. Dia masih terlalu syok mengetahui kenyataan bahwa bosanya memiliki kelainan.
"Astaghfirullahal adzim, astaghfirullahal adzim." Nisa terus beristighfar bahkan saat dirinya sudah berada di dalam taksi.
"Ada apa, Mbak? Kok seperti melihat hantu?" tanya Sang Supir taksi.
"Tidak ada apa-apa kok, Pak. Saya hanya melihat sesuatu yang nggak wajar saja," jawab Nisa.
"Ya Allah, apa aku harus mencari pekerjaan di tempat lain lagi? Tapi, hanya perusahaan itu satu-satunya perusahaan yang setara dengan perusahaan milik Mas Bima dan yang tidak bergantung pada perusahaan milik Mas Bima. Tidak. Aku tidak boleh keluar hanya gara-gara masalah itu. Sebaiknya aku pura-pura saja ngga tahu soal kelainan yang diidap oleh mereka." Nisa kembali berbicara dalam hati.
Taksi yang Nisa tumpangi berhenti di depan rumah Nisa. Setelah membayar, Nisa segera turun dari taksi tersebut. Nisa langsung berjalan masuk ke dalam rumah. Namun, saat akan naik ke lantai dua kamarnya Bima menghentikan langkahnya.
"Dari mana kamu?" tanya Bima dengan tangan bersedekap di depan dada, dia memberikan tatapan tajamnya kepada Nisa.
"Enak ya keluyuran seharian dan menyerahkan semua pekerjaan rumah kepada Ayu. Ingat! Kamu masih berstatus istriku dan seharusnya kamu paham dosa seorang istri yang pergi tanpa izin suaminya."
__ADS_1
Nisa berbalik dan berjalan menghampiri Bima. "Dosa ya?" Nisa menghela napasnya. "Terus menurutmu menyakiti hati istri setiap hari itu tidak dosa? Mengancam istri, membuatnya hidup seperti di neraka itu juga tidak dosa? Ingat, Mas, kamu yang membuatku seperti ini. Aku sudah memintamu untuk melepaskan aku. Tapi, apa? Kamu menahanku karena takut reputasimu dan reputasi istri keduamu nanti jatuh di depan kolegamu. Kamu bahkan tega menggunakan teman-temanku untuk mengancamku. Apa itu kelakuan suami yang baik?"
"Nisa!" teriak Bima.
Sebuah tamparan mendarat di pipi kanan Nisa.
"Kamu menamparku, Mas? Tega ya kamu melakukan itu sama aku. Setelah batinku kamu siksa, kini fisikku pun kamu sakiti, Mas. Aku benar-benar sudah tidak mengenalmu lagi," ucap Nisa. Dia memegang pipinya yang masih terasa panas sambil membalas tatapan tajam Sang Suami.
"Nis, aku tidak sengaja. Aku tidak bermaksud menamparmu. Aku... aku terbawa emosi tadi. Nisa, tolong maafkan aku," ucap Bima. Dia berusaha untuk menyentuh pipi Nisa, namun ditepis dengan kasar oleh istri pertamanya tersebut.
Bima terduduk di sofa sambil menatap tangan yang baru saja ia gunakan untuk menampar istri pertamanya tersebut.
"Apa yang sudah aku lakukan?" gumam Bima. Dia tidak percaya jika ia tega memukul Nisa, wanita yang sudah menemaninya dari dulu.
"Mas, Mas nggak salah kok. Mas melakukan itu karena Mbak Nisa sudah berani malawan Mas Bima. Itu wajar, biar Mbak Nisa bisa merenungi kesalahannya," ucap Ayu.
__ADS_1
"Tidak, Yu. Ini salah! Apalagi aku sudah berjanji tidak akan pernah memukulnya sebesar apa pun kesalahan yang ia lakukan. Tapi hari ini? Hari ini aku memukulnya, aku melanggar janjiku sendiri," ucap Bima penuh penyesalan.
"Mas, jangan salahkan dirimu sendiri. Kamu nggak akan mungkin memukul Mbak Nisa kalau dia tidak berani melawanmu. Jadi, ini semua bukan salahmu, Mas, tapi salah Mbak Nisa," ujar Ayu.
Bima bangun dari posisinya.
"Mas kamu mau kemana?" tanya Ayu saat melihat Bima berdiri.
"Aku ingin ke ruang kerjaku. Jangan ganggu aku," ucap Bima. Dia meninggalkan Ayu dan berjalan menuju ke ruang kerjanya.
"Tante, bagaimana? Apa aku harus menyusul Mas Bima?" tanya Ayu kepada Tante Meta.
"Sudah biarkan saja. Yang penting, kamu sudah berhasil membuat mereka berantem lagi," jawab Tante Meta. "Lebih baik kita ngopi yuk di teras belakang, tadi aku lihat ada cup cake pisang di kulkas!" ajak Tante Meta.
"Baiklah, Tante. Lagian Mas Bima juga sedang tidak ingin diganggu," jawab Ayu.
__ADS_1