Dimadu Karena Wasiat

Dimadu Karena Wasiat
DKW 44 - Masa lalu, Malam panjang, Panik


__ADS_3

"Ngga! Berapa kali aku harus mengingatkanmu untuk tidak mencampuri kehidupan pribadi Nisa! Tapi kenapa kamu bandel sih? Kenapa kamu nggak mau menuruti kata-kataku?!" teriak Cevan, terlihat jelas gurat kekesalan di wajah pemuda yang berprofesi sebagai asisten sekaligus sahabat dari Angga tersebut. Dia tidak bisa membiarkan Angga terpelosok ke jurang yang sama yang pernah dialami oleh almarhum kakaknya beberapa tahun yang lalu.


"Apaan sih, Cev?" Angga melepaskan dengan kasar cengkeraman tangan Cevan di kerah bajunya. "Kamu tidak berhak melarangku untuk memberi bantuan kepada siapa pun termasuk Nisa. Ngerti!"


"Aku tidak melarangmu untuk membantunya, tapi aku hanya melarangmu untuk ikut campur masalah pribadinya!" teriak Cevan.


"Jadi, kamu ingin aku membiarkan Nisa tetap bertahan dengan suaminya yang bang sat itu! Hah?!" bentak Angga. "Maaf, Cev, aku nggak bisa membiarkan itu," lanjutnya tegas.


Cevan menghela napas berat. "Apa kamu mulai menyukai wanita itu?" tanya Cevan tanpa beranjak dari posisinya.


"Entahlah, aku sendiri tidak tahu. Jadi, biarkan aku mencari tahu apa yang sebenarnya aku rasakan kepada Nisa." Setelah mengatakan itu, Angga segera melangkah minggalkan tempat tersebut, dia membiarkan Cevan tetap berada di sana sendirian.


Dalam kesendiriannya itu Cevan kembali teringat dengan perkataan almarhum kakaknya Angga, Chandy Marcelangga Prawira. "Cev, tolong biarkan aku mencari tahu bagaimana perasaanku kepada Raesha Nazneen. Setelah itu, baru aku akan menentukan sikapku kepadanya," tutur Marcel waktu itu.


"Dan akhirnya kamu mencintai wanita itu, bahkan saat dia memanfaatkanmu pun kamu tidak tahu. Aku tidak bisa membiarkan hal yang sama terjadi pada Angga. Tidak bisa," gumam Cevan. "Tapi, jika aku terang-terangan melarangnya, dia malah akan semakin menjauh dan aku tidak bisa melindunginya," lanjutnya.


Cevan menarik napas panjang kemudian menghembuskannya. "Lebih baik aku mengawasinya secara diam-diam." Kembali Cevan berbicara sendiri.


Akhirnya, Cevan memutuskan untuk mengawasi Angga dan Nisa secara diam-diam.


***


Di tempat lain....


Ayu sudah bersiap untuk menghabiskan malam panjangnya bersama Bima. Kali ini, dia tidak akan memberi kesempatan kepada Bima untuk memikirkan istri pertamanya. Ayu berharap setelah malam ini akan tumbuh Bima junior di rahimnya yang akan menggantikan posisi calon bayi yang ada di rahim Nisa.


Sudah sejak seminggu yang lalu, Ayu selalu meminum pil penyubur yang diberikan oleh dokter.


"Malam ini kamu harus benar-benar menjadi milikku, Mas," gumamnya. Dia pun memasukkan sesuatu ke dalam minuman suaminya yang dipercaya mampu membangkitkan gairah kelaki-lakian pria itu.


"Ini, Mas, silakan diminum!" Ayu memberikan minuman di tangannya kepada Bima.


"Taruh saja," jawab Bima. Pria itu sedang sibuk dengan benda pipih di tangan.


"Mas, lagi telepon siapa sih?"

__ADS_1


"Aku lagi menelpon Nisa, aku ingin tahu apa dia sudah sampai di rumah dengan selamat," jawab Bima.


"Mas, Mbak Nisa kan pulang bareng Tante Metha, mereka pasti selamat kok sampai rumah."


"Iya, aku tahu. Aku hanya ingin memastikan saja kok kalau dia sudah sampai di rumah dengan selamat," jawab Bima lagi. Pria itu masih mencoba menghubungi nomor istri pertamanya tersebut.


"Memangnya Mas Bima nggak percaya sama Tante Meta?" tanya Ayu yang seolah tersinggung dengan sikap suaminya yang tidak mempercayai tantenya.


"Bukan tidak percaya, Yu. Tapi.... "


"Kalau Mas Bima percaya sama Tante Meta, Mas Bima nggak akan terus-terusan menghubungi nomor Mbak Nisa," pungkas Ayu. Wanita yang menjadi istri kedua dari Bima itu memasang wajah cemberutnya.


"Yu, aku percaya kok sama Tante kamu. Hanya saja aku sedikit cemas karena sampai sekarang Nisa nggak membalas pesan dariku."


"Mas, mungkin Mbak Nisa kecapekan dan ketiduran begitu sampai rumah. Wanita hamil kan mudah capek apalagi seharian ini dia ikut mendampingi kita di pelaminan. Makanya dia lupa ngabarin kita kalau dia sudah sampai di rumah," tutur Ayu.


Bima memikirkan perkataan Ayu barusan. Mungkin memang benar istri pertamanya itu sudah tertidur begitu sampai di rumah karena kecapekan.


"Ya sudah deh, besok lagi saja aku telepon Nisa." Bima pun meletakkan telepon genggamnya di atas meja.


"Nah, gitu dong. Malam ini Mas jangan mikirin Mbak Nisa dulu kan ini malam pengantin kita." Ayu kemudian duduk di pangkuan suaminya. "Ayo Mas minum ini dulu!"


"Nah, pinter," puji Ayu ketika minuman itu habis tak bersisa. Dia mulai mengalungkan kedua tangannya di leher sang suami.


"Malam ini Mas harua puaskan aku," bisik Ayu di telinga Bima.


"Dengan senang hati sayang," jawab Bima. Dia pun mulai memberikan sentuhan-sentuhan lembut di sekujur tubuh Ayu.


Namun, sebelum mereka melakukan hal yang lebih dari sekedar sentuhan tiba-tiba Bima menghentikan aksinya.


"Ada Mas? Kenapa tiba-tiba berhenti?" protes Ayu.


"Kamu sudah minum pil pencegah kehamilan, kan?" tanya Bima. "Ingat lho, Yu. Aku nggak mau kamu hamil sebelum anak dalam kandungan Nisa berumur satu tahun."


"Iya, Mas. Aku sudah minum kok tadi," jawab Ayu ketus. Dia terlihat kesal karena meski sedang bercinta dengannya, Bima masih sempat kepikiran soal pil pencegah kehamilan.

__ADS_1


"Ya sudah ayo kita lanjutkan! Jangan cemberut gitu dong, Sayang!" bujuk Bima, dia kembali mencumbu tubuh istri keduanya.


Tak mau kehilangan kesempatan untuk bisa mengandung anak dari suaminya tersebut, Ayu pun melupakan kekesalannya. Dia kembali menikmati cumbuan yang diberikan oleh Bima.


Sepasang suami istri yang baru selesai mengadakan resepsi pernikahannya itu bergerak liar di atas tempat tidur. Keduanya sama-sama memberi dan meminta untuk dipuaskan. Erangan dan lenguhan menjadi melodi syahdu yang mengiringi pergulatan panas keduanya.


***


Di rumah Nisa....


Tante Meta yang sudah tiba sejak satu jam lalu merasa gelisah karena hingga saat ini Nisa belum tiba di rumah. Bukan dia mengkhawatirkan keadaan rival dari keponakannya itu. Namun, jika Vena tahu Nisa belum sampai di rumah, orang tua dari Bima itu pasti akan menyalahkannya.


"Kenapa tuh wanita hamil belum sampai juga di rumah? Benar-benar ngeselin," gurutu Tante Meta.


"Apa terjadi sesuatu ya sama dia saat aku nurunin dia di jalan tadi? Tidak. Dia pasti baik-baik saja."


"Tapi, kalau dia kenapa-napa di jalan tadi gimana? Si Vena pasti bakalan nyalahin aku terus ngusir aku dari rumah ini. Tidak, aku tidak mau diusir dari rumah ini."


Tante Meta berbicara pada dirinya sendiri. Dengan terpaksa, Tante Meta kemudian menelpon istri pertama dari Bima itu. Sayangnya sudah beberapa kali ia mencoba menghubungi nomor itu malah jawaban dari operator yang ia dengar.


"Kalau begini, terpaksa deh aku kembali ke tempat itu."


Tante Meta kemudian mencari fitur transportasi online di layar hpnya dan memesan taksi untuk kembali ke jalan dimana ia meninggalkan Nisa. Beberapa menit kemudian taksi pesanannya pun datang.


"Jalan, Pak!" suruh Tante Meta pada Sang Driver.


"Sesuai pesanan di aplikasi kan, Bu?" tanya Driver itu.


"Iya, buruan jalan!" suruh Tante Meta lagi. Dia sudah tidak sabar untuk mengetahui keadaan Nisa. Dan sayangnya ketika ia tiba di jalan itu tidak ada siapa pun di sana.


"Duh, kemana si Nisa?" gumam Tante Meta panik.


"Apa aku telepon Ayu ya untuk mengatakan masalah hilangnya Nisa ini? Tapi kalau aku melakukan itu gagal dong usaha Ayu untuk mendapatkan anak dari Bima. Bagaimana ini ya," gumamnya lagi.


Tante Meta semakin cemas manakala ada telepon masuk ke hpnya dan tertera nama Vena di sana.

__ADS_1


šŸ‚šŸ‚šŸ‚


JANGAN LUPA UNTUK LIKE, KOMEN, VOTE, DAN GIFT SEBANYAK-BANYAKNYA. TERIMA KASIH.


__ADS_2