Dimadu Karena Wasiat

Dimadu Karena Wasiat
DKW 57 - Ke Rumah Sakit


__ADS_3

Nisa menghela napas panjangnya. Entah sudah yang ke berapa kali laki-laki yang masih berstatus sebagai suaminya tersebut kembali menyakiti batinnya.


"Kenapa kamu setega itu, Mas? Aku masih sah menjadi istrimu, tetapi kamu tega membawa Ayu ke kamar yang selama ini menjadi kamar kita," gumam Nisa dengan air mata yang kembali jatuh membasahi pipi. Padahal dia sudah bertekad untuk tidak lagi menangisi suami yang sudah tidak menginginkannya itu. Dia bahkan sudah berniat untuk menggugat cerai suaminya tersebut.


"Jangan menangis lagi, Nis! Dia tidak pantas untuk kamu tangisi," ucap Nisa untuk menguatkan dirinya sendiri. Berkali-kali dia mengusap air mata yang jatuh membasahi pipi dan berkali-kali pula air mata itu kembali keluar.


Saat itu lah telepon genggam miliknya berdering. Nisa melihat nama yang tertera di layar tersebut dan ternyata ada nama Angga disana.


"Hallo, assalammualaikum." Nisa membuka suara.


"Waalaikummussalam warahmatullahi wabarakatuh."


"Ada apa ya Pak Angga malam-malam telepon saya?" tanya Nisa tidak bersemangat.


"Nis, kamu nangis?" Angga mengabaikan pertanyaan Nisa dan malah justru balik bertanya.


"Enggak kok, Pak, untuk apa saya nangis?" jawab Nisa berbohong, padahal sedari tadi air matanya terus saja merangsek keluar.


"Itulah yang mau saya tanyakan, kenapa kamu nangis? Gara-gara suami dan madumu lagi?" desak Angga. "Apa yang mereka lakukan?" terdengar kemarahan dari suara Angga.


"Tidak ada, Pak. Oh ya, Bapak kenapa telepon saya malem-malem? Apa ada sesuatu yang penting soal kerjaan?" jawab Nisa yang justru kembali bertanya.


"Baiklah kalau kamu tidak mau menjawab pertanyaanku tadi," tutur Angga. "Ngomong-ngomong, kamu di rumah sakit sama siapa?"


"Sama suster dan Dokter, Pak," jawab Nisa.


"Nis, aku sedang nggak bercanda ya."


"Siapa yang bercanda, Pak. Kan memang di rumah sakit adanya suster dan dokter."

__ADS_1


"Teman-teman kamu?"


"Pak, mereka itu sudah berkeluarga. Ada yang harus mengurus orang tuanya yang sakit, ada yang harus mengurus suaminya, dan ada juga yang mengurus anaknya," jawab Nisa.


"Tapi, kenapa kamu harus mengurus mereka?"


"Sudah ah, Pak, kalau nggak ada yang penting. Aku tutup ya teleponnya."


"Tunggu!" cegah Angga.


"Ada apa lagi, Pak?"


"Aku akan ke rumah sekarang, jadi kamu jangan tidur dulu!" jawab Angga.


"Tapi.... " Belum selesai Nisa berbicara, Angga sudah memutuskan pembicaraan mereka secara sepihak.


Nisa meletakkan kembali, telepon genggamnya tersebut di atas nakas.


***


"Kamu mau kemana, Ngga?" tanya Cevan ketika melihat Angga memakai caket dan mengambil kunci mobil.


"Aku mau ke rumah sakit," jawab Angga.


"Ke rumah sakit lagi?" tanya Cevan memastikan.


Angga mengangguk.


"Nggak, kamu itu bukan siapa-siapa Nisa. Dan status Nisa pun saat ini masih istri orang, kenapa kamu mau melakukan hal sampai sejauh ini? Semalam juga kamu menginap di rumah sakit, kamu tidur di depan kamar rawat Nisa karena takut terjadi sesuatu sama wanita itu dan janinnya. Kamu baru pulang subuh, kan, kemarin? Bahkan sebelum berangkat kerja pun kamu masih menyempatkan diri untuk melihat keadaannya lagi. Dan sekarang kamu mau menemuinya lagi? Perlakuanmu pada Nisa ini sudah berlebihan, Ngga."

__ADS_1


"Dia sendirian di rumah sakit dan dari suaranya, dia seperti habis menangis. Aku hanya ingin menghiburnya, apa tidak boleh?"


"Bukannya tidak boleh, justru aku takut kamu yang akan terluka nantinya," jawab Cevan. "Ngga, seandainya Nisa dan suaminya akhirnya kembali rujuk, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Cevan.


Angga memang sempat terdiam sebentar, namun beberapa menit kemudian ia kembali bersuara. "Ya artinya kita tidak jodoh," jawab Angga enteng.


"Sudah ah, aku pamit." Setelah mengatakan itu, Angga langsung pergi meninggalkan sahabat yang sekaligus asisten pribadinya itu.


Cevan hanya bisa menghela napas panjangnya, dia benar-benar khawatir sahabatnya itu akan terluka. Terlebih, kedua orang tua Angga sudah mempersiapkan calon istri untuknya. Dia yakin, saat kedua orang tua Angga tahu tentang perasaan Angga ke Nisa. Tidak hanya Angga yang akan mendapat masalah, tetapi Nisa juga. Memikirkan semua hal tersebut membuat Cevan sakit kepala.


***


Di sisi lain...


Bima yang tidak bisa tidur, memilih keluar dari kamar dan memutuskan untuk pergi ke rumah sakit untuk menjenguk menjenguk Nisa lagi. Dia takut, tidak ada yang menjaga Nisa saat ini.


"Mas, kamu mau kemana?" tanya Ayu ketika melihat suaminya keluar dari kamar dengan memakai jaket.


"Aku mau menjenguk, Nisa. Aku takut tidak ada yang menjaganya malam ini," jawab Bima.


"Aku ikut ya, Mas. Aku mau minta maaf sama Mbak Nisa atas kesalahan Tante Metha." Sebenarnya bukan itu alasannya, Ayu hanya ingin memastikan, jika istri pertama dari suaminya tersebut sudah termakan dengan story yang ia buat. Dia ingin melihat Nisa marah dan semakin membenci Bima dan membuat wanita itu benar-benar mundur dari hidup Bima.


Bima sempat terdiam sebentar, beberapa detik kemudian dia menjawab, "Baiklah. Ayo!"


šŸ‚šŸ‚šŸ‚


...JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN GIFT SEBANYAK-BANYAKNYA YA....


... TERIMA KASIH....

__ADS_1


__ADS_2