
Bima sempat terdiam sebentar. "Baiklah. Ayo!" jawabnya.
Begitu tiba di halaman rumah sakit, Angga segera mencari tempat untuk memarkirkan mobilnya. Setelah itu buru-buru dia ke ruang rawat Nisa yang ada di lantai dua rumah sakit.
"Nis, kamu nggak apa-apa kan?" tanya Angga begitu masuk ke ruang rawat Nisa.
"Pak Angga beneran kemari?" bukannya menjawab, wanita yang sedang hamil 7 bulan tersebut justru bertanya.
"Apa yang membuatmu menangis?" tanya Angga.
"Tidak ada, Pak Angga hanya salah paham saja," jawab Nisa.
Angga mengambil ponsel milik Nisa yang berada di atas nakas.
"Pak, Pak Angga mau apa?" Nisa berusaha mengambil kembali hp miliknya tersebut dari tangan Angga.
"Berapa nomor pin-nya?" tanya Angga.
"180818," jawab Nisa.
Angga menekan angka-angka tersebut. Disana langsung terlihat foto pernikahan Nisa dan Bima yang dijadikan wallpaper, di foto itu ada kue bertingkat bertuliskan angka yang dijadikan Nisa sebagai nomor pin.
"Apa pin itu tanggal pernikahanmu?" tanya Angga.
Nisa mengangguk. "Iya," jawabnya.
Mendengar hal tersebut, ada sesuatu yang mencubit hati pria berumur 28 tahun tersebut. Dia merasa tidak rela, jika Nisa masih mengingat tanggal pernikahannya dengan Bima. Benar apa kata Cevan, dia bukan siapa-siapa bagi Nisa. Dia hanya orang yang kebetulan menjadi bosnya dan tidak berhak memiliki perasaan tidak suka terhadap hal yang dilakukan oleh Nisa.
Aplikasi yang pertama kali Angga lihat adalah whatsapp, dia ingin tahu apa ada pesan dari laki-laki yang masih berstatus suami sah Nisa itu. Tak menemukan apa pun di chattingan, dia beralih melihat story yang baru saja dilihat oleh Nisa. Disanalah akhirnya Angga menemukan hal yang menyebabkan Nisa kembali mengeluarkan air matanya.
Angga mengeblok nomor itu kemudian menghapusnya.
__ADS_1
"Pak, apa yang Anda lakukan barusan?" tanya Nisa sambil merebut kembali hp dari tangan Angga.
"Jangan melihat story mereka jika itu membuatmu terluka. Ingat Nis, kamu butuh otak yang waras agar janinmu tetap sehat!" Angga memperingatkan.
Perkataan Angga benar, seharusnya dia tidak boleh melihat apa pun yang menyangkut suami dan madunya.
"Ayo ikut aku!" ajak Angga.
"Tapi, Pak, ini sudah malam."
"Sudah ikut saja, ayo!" suruh Angga lagi, dia membuka jaketnya dan memakaikannya di tubuh Nisa. "Ini agar kita bisa mengelabuhi security," ungkapnya.
Angga menata bantal di atas ranjang rumah sakit dan menutupnya dengan selimut.
"Ayo!" ajak Angga, dia menggandeng tangan Nisa dan membawanya meninggalkan rumah sakit.
***
"Ikut saja. Pokoknya ke tempat yang bisa bikin kamu happy," jawab Angga.
Nisa terkejut ketika tubuh Angga mendekat ke arahnya. Jarak wajah keduanya yang begitu dekat sempat membuat napas wanita itu tercekat, bahkan degup jantungnya ikut berdetak lebih cepat dari biasanya.
"Maaf, aku pasang safety beltnya," ucap Angga. Setelah selesai memasang safety belt milik Nisa, ia pun menjauhkan tubuhnya dari Nisa.
"Apa yang baru saja terjadi dengan hatiku?" batin Nisa sambil tersenyum kaku. Dia berusaha untuk menstabilkan irama jantungnya lagi.
Mobil yang Angga kendarai berhenti di sebuah gedung yang sudah lama tidak gunakan.
"Pak, ini gedung apa?" tanya Nisa.
"Sudah, ikut saja!" jawab Angga.
__ADS_1
"Tapi, kalau harus naik ke atas aku.... "
Belum sempat Nisa menyelesaikan perkataannya, Angga sudah menggendong Nisa dan membawanya naik ke atap gedung. Meskipun sempat meronta karena mereka bukan pasangan suami istri, tapi akhirnya Nisa hanya bisa diam sambil menatap wajah Angga yang menurutnya berbeda kali ini.
"Tunggu di sini sebentar!" suruh Angga setelah menurunkan Nisa di atap gedung. Dia kembali turun untuk mengambil sesuatu. Tidak lama dia kembali lagi dengan membawa sesuatu di tangannya.
"Itu apa, Pak?" tanya Nisa penasaran.
"Tunggu sebentar," jawab Angga.
Ternyata yang Angga bawa adalah kembang api.
"Bagaimana?" tanya Angga ketika sinar kembang api itu memancar di angkasa.
"Indah sekali, sudah lama aku tidak melihat ini," jawab Nisa dengan wajah mendongak menatap pancaran sinar kembang api di atas sana.
"Kamu terlihat sangat cantik saat kamu tersenyum seperti itu. Mulai sekarang, buanglah semua luka dan beban di hatimu, Nis. Teruslah tersenyum karena kamu berhak bahagia."
Ucapan Angga membuat Nisa menatap wajah pria yang duduk tepat di sampingnya. Kedua bola mata tersebut saling mengunci satu sama lain, menelusup ke dalam hati dan membuat debaran-debaran itu kembali terjadi.
Tidak jauh dari mereka ada orang yang menatap mereka dengan geram. Dia mengepalkan kedua tangannya. Tak mampu menguasai diri, orang itu langsung menarik Angga dan melayangkan tinjuan ke wajah pria yang saat ini sedang duduk di samping Nisa.
*Bugh!
š»š»š»*
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, GIFT DAN VOTENYA. TERIMA KASIH.
Gaes jangan lupa mampir di cerita keren ini ya, Gaes.
__ADS_1