Dimadu Karena Wasiat

Dimadu Karena Wasiat
DKW 29 - Menjawab


__ADS_3

"Tentu saja boleh. Memangnya ada aturan yang melarang wanita hamil untuk bekerja? Selama dia bisa bekerja dengan baik dan tidak merugikan perusahaan why not? Jadi, menurutku wanita yang sedang hamil pun harus mendapatkan kesempatan yang sama seperti wanita pada umumnya," jawab Nisa tegas. Meski nantinya dia tidak diterima di perusahaan tersebut, setidaknya dia tidak diam saja ketika ditanya.


"Lalu apa pendapat Anda jika ada karyawan yang sengaja mengajak temannya untuk bekerja di perusahaan yang sama dengan karyawan itu? Bisakah hal seperti itu dikategorikan sebagai nepotisme?" sekali lagi laki-laki yang merupakan CEO dan Dirut perusahaan CAMP Grup bertanya.


"Jika teman yang diajak itu memang memiliki kecakapan dan kemampuan yang dibutuhkan oleh perushaan, menurutku tidak masalah. Memang punya kuasa apa seorang karyawan mengajak temannya ke perusahaan yang sama selain hanya untuk membantu merekomendasikan. Jika teman yang diajak itu tidak memiliki kemampuan yang mumpuni bukankah perusahaan hanya tinggal menolaknya? Tapi, jika memang teman-teman yang diajak itu memiliki kredibilitas, kecakapan, dan kemampuan yang memang dibutuhkan oleh perusahaan itu bukankah malah akan membuat perusahaan semakin maju? Dan menurutku itu bukan nepotisme, nepotisme itu berlaku jika teman yang sebenarnya tidak memiliki kemampuan, tetapi tetap dipaksa untuk diterima," jawab Nisa lagi. Meski kali ini ia hanya asal menjawab pertanyaan tersebut.


"Maaf, Pak, memangnya pertanyaan yang baru saja Bapak tanyakan tadi ada didaftar pertanyaan yang harus ditanyakan ya, Pak? Perasaan pertanyaan-pertanyaan tadi tidak masuk dalam daftar pertanyaan yang harus dijawab oleh calon karyawan kita?" tanya seorang pewawancara yang lain.


"Itu pertanyaan improf dariku," jawab laki-laki yang memiliki nama panjang Cheyzzo Angga Mellyano Prawira.


"Apa ada yang ingin Anda tanyakan lagi, Pak Chayzzo?" tanya Nisa sambil membaca nama yang tertera di table sign.


"Sudah tidak ada lagi. Nanti Anda akan mendapat pemberitahuan lewat whatssap jika Anda diterima di perusahaan ini," jawab laki-laki itu. "Ohya jangan memanggilku dengan nama Chayzzo, panggil saja Angga."


"Iya, Pak Angga. Terima kasih karena sudah memberi kesempatan kepada saya untuk mengikuti tes ini. Permisi!" Nisa bangun dari tempat duduknya. Dia sedikit membungkukkan badannya sebelum keluar dari ruang wawancara.


*


"Hah."

__ADS_1


Nisa menghela napas panjangnya begitu keluar dari gedung CAMP Grup. Harapannya untuk bisa diterima di perusahaan besar itu sudah tidak ada lagi. Dia harus kembali mencari lowongan pekerjaan di perusahaan lain sambil berharap semoga akan ada panggilan dari perusahaan lainnya lagi.


"Sayang doakan Mama ya semoga Mama bisa secepatnya mendapatkan pekerjaan," ucap Nisa sambil mengusap perutnya.


Saat itulah terdengar dering dari hp Nisa, wanita itu segera mengambil benda pipih tersebut dari dalam tas. Perasaan malas langsung menghinggapi Nisa saat melihat nama yang tertera di sana. Ayu. Sebuah nama yang membuat rumah tangganya kini diambang kehancuran.


"Ada apa sih dia menelponku?" batin Nisa sambil menatap malas layar tersebut. Namun, jika dia tidak segera menjawab telepon dari wanita itu, Ayu pasti akan mengadu yang tidak-tidak kepada Bima. Dengan terpaksa, Ayu menarik tombol berwarna hijau di layar ponselnya tersebut ke atas. Dia kemudian menempelkan hp tersebut di telinganya.


"Hallo ada apa?" jawab Nisa malas.


"Mbak, Mas Bima menyuruh Mbak Nisa buat nyusul kita ke butik," jawab Ayu dari ujung sana. "Aku sudah kirim alamatnya. Ingat ya Mbak jangan sampai terlambat!"


Nisa kembali memesan ojek online untuk menuju ke butik yang dimaksud oleh Ayu.


***


Sementara itu di dalam gedung perusahaan CAMP Grup, Angga senyum-senyum sendiri sambil membayangkan polah Nisa saat mereka masuk ke dalam perusahaan. Dia juga tersenyum kala mengingat jawaban demi jawaban yang keluar dari mulut wanita itu saat menjawab pertanyaan darinya.


"Cewek yang unik," gumamnya. "Astagfirullahal adzim, kenapa aku jadi mikirin cewek bersuami itu. Tidak Angga! Lo nggak boleh mikirin istri orang. Tidak boleh!" Angga menggeleng-gelengkan kepalanya untuk mengenyahkan bayangan Nisa dari kepalanya.

__ADS_1


"Hayo ngapain Bapak senyum-senyum sendiri?" tanya Cevan yang baru saja masuk ke ruangan bosnya. Cevan adalah nama asisten pribadi dari Angga.


"Nggak sedang ngapa-ngapain," jawab Angga. Dia duduk sambil menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. "Gimana sudah menentukan kandidat yang tepat untuk mengisi kekosongan karyawan kita?"


"Sudah, semua calon karyawan yang diterima akan segera mendapat pemberitahuan dari personalia perusahaan kita," jawab Cevan. "E... apa kamu juga mau memasukkan wanita tadi ke dalam daftar calon karyawan yang diterima?" tanya Cevan.


"Kalau dia layak dan memenuhi syarat, tidak masalah. Tapi, kalau memang tidak memenuhi jangan dipaksakan. Aku tidak mau menurunkan kualitas SDM kita," jawab Angga.


"Oke, jangan marah ya kalau dia nggak masuk dalam kandidat karyawan yang diterima," ujar Cevan.


"Apaan sih lo? Ngapain gue marah," gumam Angga.


Cevan hanya tertawa mendengarnya. "Oh iya, ini ada undangan resepsi dari pemikik perusahaan Wardhana grup," ucap Cevan sambil menyerahkan sebuah undangan kepada Angga.


"Undangan resepsi? Setahuku bukannya pemilik perusahaan itu sudah menikah ya?" tanya Angga sambil membuka undangan yang duberikan oleh asisten pribadinya tersebut.


"Entahlah, aku juga tidak paham. Mungkin saja itu semacam acara aniversary pernikahan," jawab Cevan.


"Sudahlah apapun itu kita akan menghadirinya. Sebagai perusahaan yang baru berkembang di sini kita harus banyak menjalin hubungan baik dengan semua pemilik perusahaan di kota ini," ujar Angga. Dia kemudian meletakkan kembali undangan di tangannya di meja.

__ADS_1


__ADS_2