Dimadu Karena Wasiat

Dimadu Karena Wasiat
DKW 36 - Mengikuti


__ADS_3

Hari itu tidak terlalu banyak pekerjaan yang dilakukan oleh Nisa bersama dengan Angga di kantor. Dia hanya dimintai Angga untuk memeriksa beberapa berkas kerjasama yang kontraknya sudah hampir selesai dan memerlukan pembaharuan kontrak baru. Nisa disuruh memilah perusahaan-perusahaan mana saja yang pantas untuk dilanjutkan kerjasamanya dan memiliki prospek masa depan yang bagus.


Jam digital yang tergantung di dinding ruang kerja Nisa sudah menunjukkan pukul 17.00 WIB dan itu artinya jam bekerjanya hari itu sudah selesai. Selama tidak ada perintah dari atasannya untuk lembur artinya dia diizinkan untuk meninggalkan kantor sekarang.


Nisa mengambil tas dan keluar dari ruang kerjanya tersebut. Wanita itu segera menuju ke lift untuk turun ke lantai satu. Begitu tiba di lobi perusahaan dia segera berjalan keluar ketika taksi online pesanannya sudah datang.


Disisi yang lain, Angga yang memang penasaran dengan kehidupan pribadi dari sekretarisnya tersebut, diam-diam mengikutinya. Dia ingin tahu bagaimana kehidupan Nisa di luar kantor.


Angga mulai mengurangi laju kecepatan mobilnya saat melihat taksi yang ditumpangi Nisa berhenti di depan sebuah rumah yang terbilang mewah. Nisa turun dari taksi tersebut dan masuk ke dalam rumah mewah itu. Dua orang security yang berjaga di pos keamanan yang ada di depan rumah tersebut terlihat sedikit menundukkan badannya saat Nisa berjalan menuju ke rumah. Hal itu tentu saja membuat rasa penasaran Angga semakin besar.


"Jelas-jelas dia istri orang kaya, kenapa masih mau bekerja di perusahaanku?" batin Angga. Pria itu kembali menghidupkan mesin mobilnya dan bersiap untuk pergi dari tempatnya sekarang. Namun, dia berhenti ketika melihat ada dua orang wanita yang datang ke rumah itu. Satu wanita diantaranya terlihat memarahi salah satu security yang berjaga di sana.


"Apa mereka adik dan ibu Nisa ya? Tapi, tidak mirip. Atau mereka mertua dan ipar Nisa? Kenapa aku jadi penasaran seperti ini ya," batin Angga lagi.


Entah dorongan apa yang tiba-tiba membuat Angga turun dari mobilnya dan berjalan mendekat ke rumah mewah itu.

__ADS_1


"Maaf, Tuan. Ada apa ya?" tanya salah seorang security yang berjaga di pos saat melihat keberadaan Angga di sekitar pos keamanan.


"Begini... saya mau tanya apa ini rumahnya Nona Emilia Sarah Ziannisa?" tanya Angga menjawab pertanyaan Security tadi.


"Iya, benar. Ini rumah dari Nyonya Nisa. Ada keperluan apa ya Anda menanyakan soal Nyonya?" tanya Security itu lagi.


"E... dua wanita tadi adik dan ibunya Nisa, kan?"


"Bukan."


"Kalau begitu pasti mertua dan iparnya, iyakan?"


"Saya rekan kerjanya, saya hanya ingin tahu tentang dia saja," jawab Angga.


Kembali security itu menatap Angga. Tiba-tiba seseorang merangkul Angga dari belakang.

__ADS_1


"Maaf, Pak, jangan digubris omongan orang ini, dia rada-rada.... " Orang itu tidak melanjutkan perkataannya dan hanya menunjuk garis miring di kening.


Angga melotot.


"Permisi ya, Pak." Orang itu menarik Angga masuk ke dalam mobilnya.


"Ngga, aku udah peringatin kamu ya supaya kamu nggak usah nyari tahu soal si Nisa. Ingat! Kamu udah punya calon istri, jangan sampai gara-gara si Nisa ini rencana yang sudah dipersiapkan oleh kedua orang tuamu gagal!" Cevan kembali memperingatkan.


Iya, orang yang datang dan membawa Angga masuk ke dalam mobil adalah Cevan. Asisten pribadi yang sekaligus sahabat dari Angga itu sudah mengikuti Angga sejak mobil pria itu keluar dari halaman parkir perusahaan.


"Cevan, Cevan, masa ingin tahu soal Nisa saja nggak boleh sih? Aku itu cuma penasaran apa yang membuat Nisa ingin bekerja di perusahaanku, padahal kamu lihat sendiri, rumah dia besar dan dia juga sedang hamil, tapi kenapa dia tetap ingin bekerja," jawab Angga. "Menurutmu kenapa dia melakukan itu?"


"Tidak tahu."


"Oh iya, kalau dua wanita tadi bukan adik dan ibunya. Bukan pula mertua dan iparnya, kira-kira siapa mereka ya?" tanya Angga, dia benar-benar penasaran dengan dua perempuan yang juga tinggal di rumah Nisa tersebut.

__ADS_1


"Aku nggak tahu dan berharap kamu pun nggak perlu nyari tahu. Kamu harus tetap berada di koridormu!" sekali lagi Cevan memperingatkan. "Ayo kita pulang! Dan berhentilah mencari tahu soal Nisa."


"Iya-iya. Lama-lama lo bawel kayak nenek-nenek," jawab Angga. Dan akhirnya kedua orang itu pun pergi dari sana.


__ADS_2