
Sejak hari itu, Angga tidak pernah berusaha untuk mencari tahu tentang Nisa lagi. Meskipun sebenarnya ia penasaran dengan alasan wanita itu lebih memilih bekerja padahal dalam kondisi hamil.
***
Hari resepsi pernikahan Bima dan Ayu akhirnya tiba. Semua orang sibuk dengan pesta yang akan diselenggarakan di salah satu hotel termegah di Jakarta. Ada ribuan undangan yang disebar oleh kedua mempelai diantaranya untuk tetangga-tengga Ayu yang ada di desa, seluruh karyawan yang bekerja di perusahaan Bima, dan beberapa rekan bisnis Bima juga turut diundang di acara resepsi itu.
Sakit? Tentu saja, hal itulah yang dirasakan oleh Nisa. Kini semua orang akan tahu jika suaminya memiliki dua istri. Dan lebih mirisnya dia disuruh untuk tetap berada di samping suaminya saat acara berlangsung agar semua orang tetap menganggap Bima sebagai sosok yang sempurna yang bisa berlaku adil kepada dua istrinya. Bima ingin dikenal sebagai seseorang yang tidak hanya sempurna dalam pekerjaan, tetapi juga terlihat sempurna di kehidupan pribadinya. Dia ingin memamerkan kepada dunia kalau dia memiliki dua istri yang cantik yang saling mendukung.
"Nis, kamu tidak lupa kan kalau kamu harus tetap tersenyum di hadapan para tamu? Aku nggak mau mereka menganggap Ayu sebagai pelakor. Kamu harus memberikan kesan kepada semua orang bahwa Ayu ini adalah istri yang baik yang menganggapmu seperti kakak sendiri. Kamu dan Ayu harus bisa terlihat kompak, jangan sampai ada isu miring yang hadir setelah ini," ujar Bima di salah satu kamar hotel sambil mengancingkan lengan jasnya. Dia memperingatkan Nisa agar tidak berbuat semaunya.
"Iya," jawab Nisa.
"Ingat! Kamu harus terus tersenyum, jangan sampai kamu terlihat menyidihkan di acara ini!" Sekali lagi Bima mengingatkan.
"Iya," jawab Nisa lagi.
"Dari tadi jawabanmu iya-iya saja, apa nggak ada kata yang lain?" protes Bima ketika Nisa menjawab pertanyaannya dengan kata 'Iya.'
"Memang aku harus mengatakan apa lagi? Jika aku bilang tidak ingin menghadiri acara resepsimu ini, apa Mas akan mengizinkannya? Nggak, kan?" jawab Nisa.
"Jangan mulai Nisa! Aku sedang tidak ingin bertengkar denganmu."
"Aku juga malas bertengkarmu," balas Nisa.
"Kamu mau kemana?" tanya Bima ketika melihat Nisa membuka pintu kamar.
"Aku ingin jalan-jalan sebentar. Kamu tenang saja, aku akan kembali sebelum acara dimulai," jawab Nisa. Ia langsung pergi dari kamar itu dan meninggalkan Bima.
"Sudahlah, Mas. Biarkan saja Mbak Nisa pergi. Dia nggak mungkin berbuat macam-macam karena Mas Bima memegang kelemahannya. Aku yakin dia pasti akan kembali tepat waktu," ucap Ayu yang sedari tadi menjadi penyimak pembicaraan Bima dengan istri pertamanya.
"Mudah-mudahan saja kamu benar," ucap Bima.
"Oh iya, Mas. Aku cantik tidak dengan gaun ini?" tanya Ayu sambil berlenggak-lenggok di hadapan sang suami.
Bima memindai Ayu dari atas hingga bawah. "Sangat cantik," jawabnya.
__ADS_1
"Cantikan aku apa Mbak Nisa?" tanya Ayu lagi.
"Kalian berdua sama-sama cantik," jawab Bima yang tidak ingin menyinggung salah satunya.
"Ih, Mas Bima kok jawabnya gitu sih? Kenapa nggak bilang aku yang paling cantik?" sungut Ayu.
"Kalian sama-sama istriku dan menurutku kalian berdua memiliki kecantikan yang berbeda yang tidak bisa dibandingkan antar satu dengan yang lainnya," jelas Bima.
"Iya, deh. Terserah Mas Bima saja," ucap Ayu kesal.
***
Di perusahaan CAMP Grup....
Hingga menjelang maghrib Angga dan timnya belum selesai dengan pekerjaan mereka. Ketidakhadiran Nisa, tidak hanya membuat pikiran Angga seharian ini tidak fokus, tetapi juga mengganggu jalannya meeting hari itu. Biasanya kalau ada rekan bisnis yang dalam tanda kutip rewel wanita itu selalu bisa mengatasinya.
"Kamu tahu alasan Nisa nggak masuk kerja hari ini, Cev?" tanya Angga.
"Dia cuma bilang ada acara keluarga," jawab Cevan.
"Coba saja!" suruh Cevan.
"Tapi, kalau dia ngerasa keganggu gimana?"
"Ya udah nggak usah."
"Tapi, biasanya kalau ada hal begini, Nisa selalu bisa ngasih solusi."
Cevan menatap kesal Angga. "Kalau mau tanya ya tanya aja, kalau enggak ya udah kita cari solusi bareng," ujar Cevan sambil berdecak kesal.
"Nggak usah deh, takutnya dia lagi family time bareng keluarga," jawab Angga. Meski dia ingin mengetahui kabar wanita itu hari ini, tetapi dia juga tidak mau mengganggunya.
"Ya udah, kita pikirin bareng-bareng soal ini. Btw hari ini kamu ada undangan pesta resepsi, jangan lupa untuk dateng." Cevan mengingatkan soal resepsi dari salah satu pemilik perusahaan besar di Jakarta.
Angga melihat jam tangannya, masih ada waktu sekitar dua jam untuk dia mempersiapkan diri.
__ADS_1
"Kamu sudah siapin kado yang harus kubawa ke pesta itu, kan?" tanya Angga kepada asisten pribadinya itu.
"Sudah. Kemarin lusa aku minta pendapat sama si Nisa soal ini," jawab Cevan. "Kadonya sudah ku taruh di mobilmu."
"Oke, kalau gitu kita harus cepat selesaikan ini agar kita bisa segera pergi ke pesta itu," ujar Angga.
Angga dan timnya kembali fokus dengan pekerjaan mereka.
Tepat pukul 19.00 WIB akhirnya semua pekerjaan Angga selesai dengan baik. Dia dan Cevan pun segera bersiap untuk menghadiri undangan resepsi dari pemilik perusahaan Wardhana Grup.
*
"Bener ini tempat resepsinya?" tanya Angga kepada Cevan ketika mobil yang mereka tumpangi tiba di depan salah satu hotel mewah di Jakarta.
"Menurut undangan sih benar," jawab Cevan setelah ia melihat undangan di tangannya.
"Ya udah buruan turun!" suruh Angga.
"Iya-iya, ini juga mau turun," jawab Cevan.
Setelah memakirkan mobil, Cevan dan Angga keluar dari mobil mereka. Keduanya langsung menuju ke tempat resepsi yang ada di lantai paling atas hotel tersebut.
"Cev, kamu masuk duluan sana! Ntar aku nyusul!" suruh Angga tiba-tiba.
"Kenapa?"
"Aku kebelet," jawab Angga dengan sedikit berbisik.
"Ish, dasar. Kebiasaan lu! Ya udah, aku masuk duluan. Jangan lama-lama begitu selesai segera masuk!" ujar Cevan.
"Iya-iya cerewet lu!" jawab Angga. Dia segera pergi dari sana dan mencari toilet.
Angga merasa lega setelah selesai melakukan hajatnya. Dia pun segera menuju ke tempat acara resepsi itu berlangsung. Namun saat dia hendak masuk ke tempat acara, tanpa sengaja dia melihat Nisa. Wanita yang seharian ini terus muncul di kepalanya. Wanita dengan perut buncit itu sedang berbicara dengan seseorang di balkon hotel dengan seseorang.
Angga kemudian berjalan ke arah wanita itu untuk menyapanya. Namun, dia mengurungkan niatnya itu ketika melihat siapa orang yang sedang berbicara dengan Nisa saat ini.
__ADS_1