
"Pa."
Panggilan Daffa membuat bibir Bima tersenyum lebar, dia mengira kalau putra semata wayangnya dengan Nisa akan lebih memilihnya ketimbang Angga yang notabennya hanya orang asing yang kebetulan mengenal Daffa tanpa disengaja.
"Iya, Sayang," jawab Bima dengan membusungkan dada.
"Bagaimana kalau Papa dan Om Angga nganterin Daffa bareng-bareng, kita naik mobilnya Mama saja. Boleh kan, Ma?" Daffa memberikan idenya sembari bertanya kepada Sang Mama tercinta.
Nisa kembali menatap dua laki-laki dewasa di hadapannya. "Boleh sih, tapi.... "
Nisa tidak mempermasalahkan ide dari putranya tersebut. Akan tetapi bagaimana dengan dua laki-laki dewasa itu? Mereka belum tentu menerima ide yang disampaikan oleh Daffa itu. "Coba Daffa tanya sendiri deh sama papa dan Om Angganya!" suruh Nisa. Dia tidak mau terlihat lebih memihak salah satu dari dua orang tersebut.
"Pa, Om Angga, kalian mau kan nganterin Daffa ke sekolah sama-sama?" tanya Daffa lagi.
Kembali Bima dan Angga saling tatap.
"Ya Pa, ya Om! Daffa mohon!" pinta Daffa kepada papanya dan Angga.
Baik Bima maupun Angga sebenarnya tidak suka dengan ide yang diutarakan oleh bocah yang usianya belum genap lima tahun tersebut, akan tetapi keduanya tidak mau terlihat jelek dimata Daffa.
"Aku sih tidak masalah, nggak tahu deh sama dia. Dia kan nggak mungkin mau naik mobil yang bodynya kecil," jawab Bima lebih dulu. Dia memberikan lirikan sinisnya kepada Angga.
"Kalau Daffa yang mau, Om setuju kok."
Jawaban Angga membuyarkan ekspektasi Bima yang mengira Angga akan menolak ide dari putranya tersebut.
"Yey, akhirnya aku ke sekolah diantar sama papa dan Om Angga. Yey!" Daffa berteriak kegirangan.
"Ya sudah kalau begitu, kita berangkat sekarang saja karena ini sudah hampir jam tujuh!" ajak Nisa.
"Oke," jawab Bima dan Angga bersamaan.
Bima mengira kalau Nisa akan memabawa sopir untuk mengendarai mobilnya oleh karena itu dia memilih duduk di jok belakang bersama Daffa karena yakin Nisa dan Daffa akan duduk di sana.
"Papa mau duduk di sini bareng Daffa?" tanya Daffa kepada ayahnya tersebut.
"Iya, dong. Papa akan duduk di sini bareng Daffa dan.... "
Belum selesai Bima berbicar ternyata manta istrinya tersebut malah duduk dikursi kemudi.
"Nis, kok kamu yang nyetir? Memang supirmu mana?" tanya Bima.
"Ouh... selama ini aku biasa naik mobil sendiri. Biasanya aku pakai supir saat aku sedang capek, sakit, atau dalam perjalanan jauh. Kalau cuma ke sekolah, biasanya memang aku menyetir sendiri sih," jawab Nisa menerangkan.
"Biar aku saja yang nyetir, kamu pindah ke sana!" suruh Angga sambil menunjuk jok di samping sopir.
"Baiklah," jawab Nisa, dia pun bergeser ke jok yang ditunjuk oleh Angga.
"Kuncinya?" Angga mengulurkan tangan meminta kunci mobil tersebut.
__ADS_1
"Ini," jawab Nisa sambil menyerahkan kunci mobilnya kepada Angga.
Melihat itu tentu saja membuat Bima kesal. Niat hati ia bisa duduk bersama Nisa dan Daffa, tapi yang terjadi malah diluar prakiraannya.
"Tahu begini, aku langsung duduk di depan saja." Bima menggerutu.
"Papa ngomong apa sih?" tanya Daffa karena memang ia tidak terlalu mendengar sesuatu yang Bima ucapkan.
"Tidak ngomong apa-apa kok Sayang. Papa cuma bilang, kalau papa seneng bisa nganterin Daffa ke sekolah," jawab Bima. Dia mengacak rambut putranya sambil tersenyum.
Mobil pajero warna putih milik Nisa itu melaju meninggalkan cart pot. Hari ini Nisa tidak mengajak Rini karena kebetulan babysitter Daffa itu izin cuti.
"Pa, Om, nanti siang kalian akan jemput Daffa bersama-sama lagi kan?" tanya Daffa kepasa Bima dan Angga.
"Sayang, papa dan Om Angganya kan harus kerja, jadi nanti siang biar mama saja yang jemput Daffa." Justru Nisa yang memberikan jawaban atas pertanyaan yang disampaikan oleh Daffa kepada dua laki-laki dewasa yang berada di dalam mobil.
"Tapi kan, Ma, papa dan Om Angga kan sudah janji mau main sama Daffa hari ini," pungkas Daffa.
Nisa kembali melirik Angga dan Bima bergantian. Dia merasa tidak enak dengan mantan suami dan mantan bosnya tersebut.
"Tidak masalah, nanti Om akan jemput Daffa pulang sekolah," jawab Angga. Dia menatap Daffa melalui kaca spion yang tergantung di atas dashboard.
Tak mau kalah dengan Angga, Bima pun ikut mengiyakan.
"Papa juga bisa kok jemput Daffa nanti siang."
Laki-laki yang sudah menjasi mantan suami Nisa itu ikut menjawab.
Tidak lama mobil pajero warna putih yang dikemudikan oleh Angga itu pun berhenti tepat di depan sekolah yang bertuliskan "TK Bunda."
Kali ini Bima turun terlebih dulu, dia tidak mau kehilangan momen untuk membukakan pintu mobil buat Nisa. Jika tadi ia salah strategi karena duduk di jok belakang bareng Daffa, kali ini ia tidak mau melakukan kesalahan yang sama. Dia ingin menjadi yang pertama yang membukakan pintu untuk mantan istrinya tersebut.
"Silakan, Nis!" ucap Bima ketika membukakan pintu untuk Nisa. Dia mentap Angga penuh kesombongan karena berhasil menjadi yang pertama yang membuka pintu untuk Nisa.
Angga tidak menggubris itu, dia lebih memilih membuka kan pintu untuk Daffa dan membantu balita itu untuk turun dari mobil.
"Makasih ya, Om," ucap Daffa. Bocah itu kemudian mengecup pipi Angga.
"Sama-sama, Boy. Belajar yang pinter ya dan ingat tidak boleh nakal. Ok," balas Angga. Pria memiliki hobi memasak tersebut mengacak rambut Daffa gemas.
"Ma, Daffa masuk dulu ya." Kini Daffa ganti berpamitan dengan mamanya sambil bersalaman.
"Iya, Sayang. Hati-hati ya."
Nisa mengecup pipi chubby milik Daffa. Bocah cilik itu pun membalasnya dengan mencium pipi mamanya.
Bima sedikit menunduk dan mendekatkan wajahnya ke arah Daffa. Ayah kandung Daffa itu berharap putranya akan mengecup pipinya sama seperti bocah itu mengecup pipi Angga dan Nisa. Sayangnya Daffa hanya mengajaknya bersalaman.
"Lho sayang, kok papa nggak dicium sih?" protes Bima.
__ADS_1
"Papa tadi nggak bukain pintu buat Daffa, jadi Daffa nggak mau cium papa," jawab Daffa. Bocah itu kesal karena merasa dinomor duakan oleh ayah kandungnya tersebut.
Angga menahan senyum melihat rivalnya tersebut ditolak oleh anaknya kandungnya sendiri.
"Mas, Daffa itu sedikit pendendam. Dia paling tidak suka di nomor duakan," bisik Nisa di telinga Bima.
"Maafin papa ya, sayang. Papa nggak bermaksud menomor duakan Daffa kok. Papa janji lain kali, Daffa yang akan papa bukain pintu terlebih dulu." Terpaksa Bima harus meminta maaf kepada putranya. Dia tidak mau Daffa membencinya dan membuatnya kesulitan untuk mengajak mantan istrinya tersebut buat rujuk.
Daffa kembali menatap mamanya, setelah mendapat anggukan dari Nisa, barulah ia mau mencium pipi papanya.
"Terima kasih sayang," ucap Bima dengan menunjukan deretan gigi putihnya.
"Assalammualaikum," ucap Daffa sebelum meninggalkan ketiga orang dewasa yang ada di depannya.
"Waalaikummussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab ketiganya bersamaan.
Dengan kaki kecilnya, Daffa berlari masuk ke dalam kelasnya.
"Mas Bima, Ngga, kalau kalian repot nggak perlu kok untuk ikut jemput Daffa nanti," ucap Nisa kepada dua lelaki dewasa yang ada di samping kiri dan kanannya.
"Nggak repot kok Nis, kebetulan pekerjaanku bisa dilakukan dari jarak jauh, jadi itu tidak masalah," jawab Bima. "Tapi kalau Si Angga kayaknya nggak bisa deh, diakan harus mengurus restorannya, Apalagi restoran itu baru dibuka kemarin." Bima melirik Angga.
"Jangan khawatirkan soal itu, aku masih punya asisten pribadi kok yang bisa membantuku menghandle pekerjaan di restoran," jawab Angga.
"Asisten pribadi?" Nisa menautkan kedua alisnya.
Angga mengangguk.
"Siapa?" tanya Nisa lagi.
"Cevan. Lupa?" jawab Angga.
"Ouh iya, aku ingat. Tapi, bukankah setahuku Cevan nggak bereng sama kamu lagi?"
"Kemarin sore dia datang ke tempatku," jawab Angga. "Dan dia masih akan tinggal di tempatku untuk satu minggu ke depan. Jadi, tidak masalah lah kalau aku tinggal nanti."
Nisa hanya manggut-manggut karena tidak tahu harus berkomentar apa lagi.
"Sini, biar aku yang nyetir mobilnya!" Bima merebut kunci mobil yang ada di tangan Angga. Kali ini ia tidak akan memberikan kesempatan kepada rivalnya tersebut untuk lebih dekat lagi dengan Nisa.
Bima masuk terlebih dulu ke dalam mobil dan duduk di kursi kemudi.
"Ayo cepat kalian berdua masuk!" suruh Bima.
Nisa menatap Angga sebentar demikian juga sebaliknya. Ia kemudian masuk ke dalam mobil dan kembali duduk di jok yang ada dibelah sopir.
"Hei, Angga. Kamu mau ikut masuk juga nggak?" Dengan nada ketus Bima bertanya kepada Angga yang masih berdiri di dekat mobil. "Atau kamu mau balik sendiri dan pulang dengan naik taksi?"
Angga hanya memutar bola matanya. Ia kemudian ikut masuk ke dalam mobil tersebut.
__ADS_1
Bima merasa puas karena kali ini ia berhasil duduk di debelah Nisa. Dengan kecepatan sedang, mobil pajero warna putih itu pun melaju meninggalkan sekolah Daffa.