
"Sayang, buka pintunya! Aku bawakan makan malam untukmu!" Dengan menggunakan nampan, Bima membawakan makan malam untuk istri pertamanya tersebut.
"Sayang." Panggil Bima, dia kembali mengetuk daun pintu yang ada di hadapannya. Karena tidak ada jawaban, Bima terpaksa membuka pintu kamar itu menggunakan kunci cadangan. Dia kemudian melangkah masuk ke dalam kamar saat itu Bima melihat istrinya yang sedang duduk melamun di dekat jendela.
"Sayang, ayo makan! Ini aku bawain makanan kesukaan kamu," ucap Bima
Bima berjalan mendekati Nisa.
"Aku tidak lapar, Mas. Bawa saja makanan itu pergi dari sini!" jawab Nisa tanpa melihat ke arah suaminya.
Bima berdiri tepat di belakang istri pertamanya tersebut.
"Nis, tolong kamu jangan seperti ini. Kamu harus ingat kalau sekarang ini kamu sedang mengandung, ada makhluk kecil yang harus kamu jaga. Dia berhak untuk makan."
"Tapi aku tidak ingin makan, Mas."
"Nis, kamu jangan bersikap egois seperti ini!"
"Egois, Mas? Apa bedanya dengan dirimu? Kamu juga egois, Mas. Kamu menikahi wanita lain tanpa minta izin terlebih dulu kepadaku," balas Rani. Dia memberikan tatapan tajamnya kepada Bima. "Oke, fine. Dalam agama seorang suami boleh menikah lagi tanpa harus meminta izin terlebih dulu dengan istri. Tapi... setidaknya hargai aku. Hargai aku yang sudah menemanimu selama tiga tahun ini."
__ADS_1
"Maafkan aku, Nis. Aku tahu aku salah. Tapi, aku punya alasan kenapa aku harus menikahi Ayu." Bima mencoba membela diri. Iya, dia tahu kalau dirinya memang salah dalam hal ini. Tetapi, setidaknya dia memiliki alasan kuat kenapa dirinya sampai menikah dengan Ayu.
"Dan aku juga punya alasan kenapa aku tidak ingin makan," sengit Nisa. Dia kemudian memalingkan wajahnya dari Bima.
"Nis, kamu boleh marah sama aku. Kamu boleh memukulku jika perlu. Tapi, aku mohon makanlah dulu. Aku tidak ingin kamu dan calon anak kita kenapa-napa!" kali ini Bima berbicara dengan nada sangat lembut, dia tidak ingin membuat emosi istrinya kembali meledak. Bima tahu sifat istri pertamanya itu, semakin ia berbicara dengan nada keras, semakin istrinya akan membangkang terlebih ketika dia dalam keadaan marah.
Nisa kembali menatap wajah Bima kemudian beralih menatap makanan di tangan suaminya tersebut.
"Plis, makan ya, Sayang!" pinta Bima dengan tatapan memohon.
"Taruh saja di meja, nanti aku makannya," jawab Nisa tanpa ekspresi.
"Aku bisa makan sendiri. Taruh makanan itu di meja!" tolak Nisa.
"Nis.... "
"Taruh atau aku tidak akan makan sama sekali!" ancam Nisa.
"Baiklah, aku akan menaruhnya di sana. Tapi berjanjilah kalau kamu akan memakannya!" pinta Bima. Nisa tidak menjawab.
__ADS_1
Akhirnya Bima meletakkan makanan yang ada di tangannya di atas meja yang ada di sebelah kanan ranjang tempat tidur. Dia kembali menatap Nisa yang sudah memalingkan wajah darinya lagi.
"Mas Bima boleh keluar sekarang!" suruh Nisa tanpa menatap suaminya.
"Nis, setelah ini aku mohon beri aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya kepadamu."
"Aku sedang tidak ingin berbicara sama kamu, Mas. Jadi, keluarlah dari kamarku sekarang!" jawab Nisa.
"Tapi, Nis.... "
"Keluar atau aku yang akan keluar!"
Nisa akhirnya memberikan tatapan tajam kepada suaminya lagi. Dengan berat hati Bima meninggalkan kamar istrinya tersebut.
Nisa menatap makanan yang ada di atas meja. Air mata yang sempat ditahan saat Bima datang kembali menguar seiring dengan sakit hati yang ia rasakan. Tiga tahun rumah tangganya dengan Bima berjalan tanpa ada percekcokan yang berarti. Keduanya bisa saling menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing, bahkan dalam urusan anak pun Bima tidak pernah mendesak untuk cepat-cepat memilikinya karena keduanya sadar soal anak adalah kehendak yang Kuasa.
Nisa mengambil piring yang tadi ditaruh oleh Bima di atas meja. Meski dia tidak napsu untuk makan, dia tetap berusaha memasukkan nasi ke dalam mulutnya. Benar apa yang dikatakan oleh Bima, ada mahluk kecil di dalam rahimnya yang harus ia jaga. Hanya dua suap makanan yang mampu, Nisa telan. Dia kembali menaruh piring berisi nasi itu ke tempat semula. Meski perutnya masih lapar, tetapi kesedihan yang ia rasakan membuat tenggorokannya tidak mampu untuk menelan.
"Kenapa ini harus menimpaku? Kenapa?"
__ADS_1
Nisa melangkah ke tempat tidur dan berbaring. Dia sungguh berharap kejadian yang baru saja menimpanya hanyalah mimpi.