Dimadu Karena Wasiat

Dimadu Karena Wasiat
DKW 20 - Ancaman


__ADS_3

"Mas, Mas tidak serius dengan ucapan Mas ini, kan?" tanya Nisa. Dia ingin memastikan jika pendengarannya masih berfungsi dengan baik.


"Aku serius, Nisa. Aku sudah pikirkan ini baik-baik. Ayu juga istriku dan sudah selayaknya dia pun memiliki status yang sama sepertimu," jawab Bima tegas.


"Baiklah kalau itu keputusanmu, Mas. Aku akan merestuinya."


Mendengar jawaban Nisa membuat Bima tersenyum. "Kamu benar-benar setuju, Nis?" tanya Bima dengan kedua tangan memegang bahu istri pertamanya tersebut. Matanya berbinar, mengisyaratkan kebahagiaan.


"Iya, aku setuju. Tapi, ceraikan aku dulu!" jawab Nisa, dia memberikan tatapan tajam kepada suaminya.


"Apa maksudmu?" tanya Bima. "Aku salah dengar, kan?" tanya Bima lagi.


Nisa melepaskan tangan Bima yang memegang bahunya. "Kamu tidak salah dengar, Mas. Jika kamu benar-benar akan melegalkan pernikahanmu dan Ayu, maka lebih baik kita bercerai. Kalau kamu tidak mau menceraikan aku, maka aku yang akan menggugatnya," jawab Nisa. Setelah mengatakan itu Nisa langsung masuk ke kamarnya.

__ADS_1


Bima masih bergeming di tempatnya, dia tidak pernah menyangka jika Nisa akan seberani itu.


"Mas, jadi bagaimana? Apa kamu masih akan melanjutkan rencana kita?" tanya Ayu dengan wajah seolah terluka.


Bima tidak menjawab, dia lebih memilih duduk di sofa sambil memijit pelipisnya. Dia masih bingung dengan keputusan yang akan diambilnya sekarang. Satu sisi dia ingin memberikan posisi yang sama kepada Ayu, tetapi di sisi lain, dia juga tidak bisa kalau harus berpisah dengan Nisa. Terlebih saat ini Nisa sedang hamil anak pertama mereka. Anak yang sudah tiga tahun mereka rindukan kehadirannya.


Ayu ikut duduk di sebelah Bima. Tante Meta yang baru saja keluar dari kamarnya pun ikut duduk di salah satu sofa kosong di sebelah kanan keponakannya.


Tante Meta menyuruh Ayu untuk merayu Bima agar tetap melegalkan pernikahan mereka.


"Maksud Tante apa ya?" tanya Bima sambil menatap tante dari istri keduanya tersebut.


"Kalau si Nisa ngancem kamu dengan perceraian seharusnya kamu bisa ancam dia balik. Cari kelemahannya agar kamu tetap bisa mengendalikan istri pertamamu itu. Kalian kan udah lama saling kenal, pasti tahu lah kelemahan masing-masing," jawab Tante Meta.

__ADS_1


Bima mencoba mencerna jawaban dari Tante Meta barusan. Kelemahan Nisa? Entahlah, Bima belum menemukan kelemahan istri pertamanya tersebut. Wanita itu terlalu mandiri untuk dicari kelemahannya. jika Bima mengancam tidak akan memberinya nafkah, Nisa pasti dengan mudah bisa mendapatkan pekerjaan di perusahaan lain, terlebih selama ini Nisa memang sudah dikenal sebagai wanita yang memiliki banyak prestasi. Bahkan beberapa proyek penting yang diperoleh oleh perusahaan milik Bima itu adalah hasil pemikiran dari Nisa.


Dengan isyarat mata, Tante Meta menyuruh Ayu untuk berakting.


"Ya sudah, Mas. Pernikahan kita nggak usah dilegalkan. Biarkan saja statusku seperti ini, seperti istri simpananmu," tuturnya dengan raut wajah menyedihkan.


"Kasihan kamu, Yu. Bapak dan ibumu pasti sangat sedih melihat posisimu ini. Terutama ibumu, jika tahu kamu hanya akan berstatus seperti istri simpanan, dia pasti tidak akan rela kamu menikah dengan Bima." Tante Meta berpura-pura ikut bersedih sambil mengusap pundak keponkannya. Mendengar hal tersebut membuat Bima kembali memikirkan sesuatu dan akhirnya dia menemukan satu ide yang kemungkinan bisa ia jadikan alat untuk mengancam Nisa.


"Ayu, kamu tenang saja. Aku pasti akan melegalkan pernikahan kita. Aku pasti bisa membuat Nisa tidak bisa menolak ini. Jadi, jangan sedih lagi ya." Bima membawa Ayu kedalam pelukannya.


"Benar, Mas, kalau pernikahan kita pasti akan dilegalkan?" tanya Ayu sambil mendongak menatap wajah suaminya.


"Iya, benar. Kamu jangan khawatir, kali ini Nisa pasti akan menuruti keinginan kita ini," jawab Bima. Ia kemudian mendaratkan sebuah kecupan di kening Ayu.

__ADS_1


Ayu dan Tante Meta saling lirik, keduanya tersenyum bahagia karena berhasil menghasut Bima untuk tetap melegalkan pernikahannya.


__ADS_2