Dimadu Karena Wasiat

Dimadu Karena Wasiat
DKW 56 - Membuat Story Whatsapp


__ADS_3

"Hah." Terdengar helaan napas dari mulut wanita yang saat ini duduk di atas ranjang pasien.


"Tidak enak ya?" tebak Angga ketika melihat ekspresi wajah Nisa. "Maaf ya harusnya aku minta bibik di rumah saja yang buatin. Pasti kalau itu masakan Si Bibik bakalan enak," sesal Angga.


"Ku kira ini makanan yang Pak Angga beli," ucap Nisa.


"Enggak, itu makanan buatanku," jawab Angga. "Eh, barusan kamu bilang apa? Jadi, kamu mengira makanan itu makanan yang dibeli?"


Nisa mengangguk.


"Artinya masakan itu enak dong?" tanya Angga lagi.


"Iya, Pak. Makanannya enak banget, rasanya nggak kalah dari makanan restoran," puji Nisa.


"Sungguh? Kamu nggak sedang berbasa-basi, kan? Atau nggak juga sedang berbohong cuma karena nggak enak sama aku, kan?" tanya Angga memastikan.


"Enggak, Pak. Aku nggak bohong. Makanan Pak Angga beneran enak banget lho," puji Nisa.


Pujian dari Nisa membuat Angga sedikit salah tingkah.


"Kalau begitu kamu habiskan ya," suruh Angga.


"Pasti."


"Oh iya, kapan kamu bisa keluar dari rumah sakit? Sudah ada rencana mau tinggal di mana?"


"Besok aku sudah diizinkan pulang. Rencananya aku mau cari rumah yang bisa dikontrak, ini aku lagi minta teman-temanku buat cariin," jawab Nisa lagi.


"Kamu nggak usah minta dicariin sama teman-teman kamu, kebetulan aku punya kenalan yang rumahnya mau disewakan. Kamu bisa sewa rumah dia saja!" suruh Angga.


"Tapi, aku mau cari yang harganya agak miring, Pak."


"Jangan khawatir harga sewa rumah itu cukup murah kok, sekitar 5 jt pertahun," potong Angga.


"Ini serius kan, Pak?"


"Serius. Soalnya dia sebenarnya nggak butuh duit, dia cuma butuh orang buat nempatin rumahnya yang sudah lama kosong," terang Angga.


"Tapi, semua fasitas ada kan? Maksudku, kamar mandi, dapur, dan ruang tamu gitu?"

__ADS_1


"Ada. Rumah itu terdiri dari dua kamar utama dengan kamar mandi di dalamnya, dapur, kamar mandi tamu, ruang makan, dan ruang tamu," jelas Angga.


"Kalau begitu aku mau deh, Pak. Oh iya, terus akses jalannya gimana?"


"Cukup strategis. Kamu tinggal jalan kurang dari 5 menit udah sampai di jalan utama," jawab Angga lagi.


"Ya udah deh, Pak. Aku sewa itu, katakan pada pemiliknya aku berminat."


"Baiklah. Kalau begitu aku pulang dulu, besok aku akan kesini lagi," pamit Angga.


"Iya, Pak."


"Jangan lupa, makanannya dihabiskan!"


Nisa mengangguk.


Sebelum keluar, Angga melemparkan senyum kepada ketiga sahabat Nisa yang ada di sana.


"Nis, sepertinya Pak Angga suka deh sama kamu," ujar Wulan.


"Aku juga ngerasa gitu sih," sahut Ratna.


"Masa sih, cuma gara-gara itu?" tanya Dewi. "Aku rasa mislkan dia punya perasaan lebih sama kamu pun itu nggak masalah. Bukankah setahuku dia single."


"Ya, masalah lah. Kan aku belum cerai dari Mas Bima. Lagian dia itu sudah punya calon tunangan dan aku dengar calon tunangannya itu bakalan pulang dalam bulan ini," jawab Nisa.


"Sumpah ya, setelah aku dengar cerita kamu soal si Bima, aku jadi gedeg sama suamimu itu," tutur Ratna.


"Aku juga, bisa-bisanya dia nikahin wanita lain cuma gara-gara wasiat," timpal.Wulan. "Padahal kan bisa nyari jalan lain buat jagain cewek itu," sambungnya dengan nada kesal.


"Sudah kalian nggak perlu mikirin soal itu. Yang terpenting, setidaknya Mas Bima sudah nggak bisa ngancem-ngancem aku lagi buat gugat cerai dia," jawab Nisa.


"Kami pasti akan dukung apapun keputusanmu soal Bima. Yang terpenting itu bisa bikin kamu happy dan nggak tertekan lagi." Ratana berujar.


"Makasih ya," ucap Nisa sambil tersenyum.


***


Sementar itu di rumah, Bima masih menyendiri di kamar istri pertamanya. Dia menyesal karena sempat menuduh istrinya telah memfitnah Tante Metha, padahal yang terjadi adalah kebalikannya.

__ADS_1


Bima menatap seisi kamar, bayang-bayang Nisa yang kerap kali menangis karena tekanan yang selalu ia berikan, membuat rasa penyesalan itu semakin besar.


"Mas." Ayu memanggil suaminya, dia berjalan menghampiri Bima dan duduk tepat disebelah suaminya tersebut.


"Apa Tantemu sudah pergi?" tanya Bima.


"Sudah, Mas," jawab Ayu. "Maafin aku ya, Mas. Karena ulah Tante Metha, Mbak Nisa jadi mau menggugat cerai Mas Bima."


"Aku akan berusaha untuk membujuk Nisa agar mengurungkan niatnya itu," jawab Bima.


"Aku bantu bujuk ya, Mas. Siapa tahu, jika aku ikut membujuknya, Mbak Nisa bakalan mengurungkan niatnya itu," ucap Ayu.


"Beneran, kamu mau membantuku membujuk Nisa?" tanya Bima lagi.


"Iya, Mas. Bagaimana pun Mbak Nisa berbuat begini kan karena ulah tante ku," jawab Ayu. "Sekarang Mas istirahat ya. Jangan sampai Mas Bima sakit."


Ayu mengalungkan kedua tangannya di leher Bima. Dia diam-diam memotret aktivitasnya itu. Dari engle itu terlihat seolah mereka sedang melakukan kissing di kamar yang biasa ditempati Bima dan Nisa sebelumnya.


"Maaf, ya, Yu. Aku sedang tidak ingin melakukan apa pun," ucap Bima sambil melepaskan tangan Ayu dari lehernya.


"Iya, Mas, aku ngerti kok. Aku cuma mau bantu kamu buat rileks aja," jawab Ayu.


"Malam ini aku mau tidur di sendiri, tidak apa-apa kan?" tanya Bima lagi.


"Iya, tidak apa-apa," jawab Ayu. "Aku keluar ya."


Bima mengangguk. Ayu pun meninggalkan suaminya tersebut berada di kamar istri pertamanya sendiri.


Dengan sengaja Ayu membuat story di whatsapp menggunakan foto yang baru saja ia ambil. Dia memberikan caption "Mencoba bercinta di kamar istri pertama yang sebentar lagi menjadi mantan."


Ayu sengaja mengatur storynya tersebut hanya bisa dilihat oleh Nisa.


"Kamu pasti makin sakit hati kan Mbak melihat story ku ini," gumam Ayu dengan senyum kemenangan, ketika melihat Nisa sudah melihat storynya sedetik setelah story tersebut ia unggah.


"Sekarang, aku bisa tidur nyenyak deh," lanjut Ayu dengan senyum sumringahmya. Dia pun melenggang dengan perasaan bahagia menuju ke kamarnya.


šŸ‚šŸ‚šŸ‚


JANGAN LUPA, LIKE, KOMEN, VOTE, DAN GIFTNYA. TERIMA KASIH.

__ADS_1


__ADS_2