
"Om Angga."
Daffa yang sejak kemarin merindukan pemilik restoran yang saat ini berdiri di hadapannya pun langsung berlari memeluknya. Anak itu begitu bahagia karena bisa melihat dan bertemu dengan Angga sepagi ini.
"Daffa kangen sama Om Angga." Bocah yang paling suka dengan kue ulang tahun itu menjawab. "Kemarin kenapa Om Angga nggak jadi jemput Daffa?" protes bocah lima tahun tersebut.
"Om Angga juga kangen sama Daffa, makanya Om sudah ada di sini sekarang," ungkap Angga. Dia membalas pelukan balita tersebut.
"Om minta maaf karena kemarin Om harus pergi mendadak karena ada urusan. Sekali lagi maafin Om ya!" Angga pun menyampaikan permintaan maafnya kepada Daffa.
Daffa mengangguk. "Daffa akan maafin Om kalau Om mau ngajarin Daffa buat kue ulang tahun yang enak," jawabnya.
"Pasti. Nanti pulang sekolah Om ajarin." Angga mengacak rambut Daffa.
"Daffa, sekarang Daffa ke mobil dulu ya sama Mbak Rini. Mama mau bicara sama Om Angga sebentar!" suruh Nisa. Dia ingin mengatakan hal sesuatu kepada lelaki yang akhir-akhir ini sangat akrab dengan putranya.
"Baik, Ma," jawab Daffa.
"Om, Daffa mau sekolah dulu ya. Om, silakan bicara sama Mama!" Bocah yang belum genap lima tahun tersebut melepaskan pelukannya dan turun dari gendongan Angga.
"Rin, bawa Daffa ke mobil dulu ya!" suruh Nisa kepada babysitter anaknya tersebut.
"Iya, Nyonya," jawab Rini.
"Ayo, Den Daffa!" Wanita yang sudah bekerja di rumah Nisa lebih dari empat tahun itupun membawa Daffa pergi dari sana.
"Urusan keluargamu sudah selesai?" tanya Nisa.
"Belum sih. Tapi, aku pasti akan segera menyelesaikannya," jawab Angga.
"Semoga apa pun masalah yang sedang dihadapi oleh keluargamu, bisa terselesaikan dengan baik."
"Amin," timpal Angga.
Keduanya kembali diam.
"Nis."
"Ngga."
Nisa dan Angga memanggil nama satu sama lain secara bersamaan.
"Silakan kamu duluan saja! Aku tahu kamu menyuruh Daffa masuk ke mobil duluan karena ingin berbicara denganku kan? Jadi, sekarang bicaralah!" Angga mempersilakan Nisa untuk berbicara terlebih dulu.
"Aku tahu kamu dan Daffa dekat beberapa bulan ini. Tapi, jika pada akhirnya kedekatan kalian malah akan membuat dia sedih nantinya. Maka lebih baik mulai sekarang menjauh lah dari putraku." Perkataan Nisa membuat Angga menatap ke arahnya.
"Kamu... kamu jangan salah paham terlebih dulu. Aku berkata begini bukan karena aku tidak suka kamu dekat dengan Daffa. Tapi, aku takut putraku akan kehilangan sosokmu saat kamu benar-benar harus kembali ke keluargamu," terang Nisa. Dia memang hanya ingin menjaga perasaan putranya.
__ADS_1
Nisa bukannya buta dengan perasaan putranya terhadap Angga. Meski anak itu tidak mengatakan apa pun, dia tahu kalau putranya lebih menganggap Angga sebagai ayahnya meski anak itu tahu bahwa Bima lah ayah kandungnya. Mungkin hal itu terjadi karena disaat Daffa membutuhkan figur seorang ayah orang pertama yang ada untuk anak itu adalah Angga.
"Apa makaud perkataanmu?" tanya Angga agak ambigu.
"Ngga, aku tidak tahu saat ini kamu sudah punya anak atau belum. Tapi bukankah kamu sudah memiliki keluarga yang cepat atau lambat harus menjadi prioritasmu?" jawab Nisa. "Dan saat itu terjadi, aku tidak mau Daffa terluka karena kehilangan perhatian darimu."
"Kenapa Daffa harus kehilangan perhatian dariku? Jika kamu masih mengizinkan aku dekat dengannya dan memberinya perhatian, maka aku akan terus memberinya perhatian itu," jawab Angga. Dia bingung kenapa Nisa menginginkan agar dia menjaga jarak dengan Daffa.
"Ngga... tapi bagaimana kalau keluargamu tidak menyukai itu?"
"Kenapa mereka tidak akan menyukainya?" Angga menatap Nisa bingung. "Aku memberikan Daffa perhatian atas kehendaku sendiri dan orang tuaku nggak berhak melarangnya."
"Tapi, Ngga... Bagaimana dengan istrimu? Wanita manapun tidak akan mengizinkan suaminya memberi perhatian lebih kepada anak orang lain. Jadi, aku mohon mulai sekarang jauhi lah Daffa. Aku tidak mau dia
terluka nantinya hanya karena kalian semakin dekat!" pinta Nisa dengan sungguh-sungguh.
"Tunggu! Istri?" tanya Angga dan mendapat anggukan dari Nisa.
"Jadi keluarga yang kamu maksud itu adalah istriku?" tanya Angga lagi.
"Iya. Siapa lagi? Apa jangan-jangan kamu juga sudah punya anak?" jawab Nisa yang justru kembali bertanya.
"E... itu.... "
"Aku minta maaf ya, pasti istri dan anakmu kemarin marah karena tahu kamu kembali dekat denganku dan putraku. Jika kamu mengizinkan aku akan jelaskan kepadanya agar dia tidak salah paham. Aku juga akan menasehati Daffa agar lebih menjaga jarak denganmu." Nisa memotong perkataan Angga.
Wanita berhijab itu benar-benar merasa tidak enak dengan Angga.
"Apanya?"
"Bicaranya," jawab Angga.
Nisa mengangguk. "Sudah," jawabnya.
"Kalau begitu sekarang biarkan aku yang bicara!" Angga menyuruh Nisa untuk gantian mendengarkan perkataannya.
Nisa menatap Angga kemudian mengangguk.
"Aku memang hampir bertunangan waktu itu. Tetapi pertunanganku waktu itu batal. Memang kamu tidak melihat beritanya di tv?" Nisa menggeleng.
"Padahal berita itu sempat menjadi haedline news di berbagai media, baik itu elektrinik maupun cetak, bisa-bisanya kamu tidak mengetahui hal tersebut padahal pekerjaanmu sering bersinggungan dengan internet," lanjut Angga.
"Aku kan buka internet hanya untuk menawarkan daganganku, bukan untuk melihat gosip." Nisa berusaha membela diri.
"Pantesan, berita seheboh itu tidak mendengar." Cibir Angga.
Nisa hanya memutar bola matanya.
__ADS_1
"Tapi bukan itu deng hal yang ingin aku katakan. Iya, aku memang sudah menyukai seseorang. Bisa dibilang aku jatuh cinta padanya sejak dulu." Angga mulai bercerita tentang wanita idamannya.
Entahlah mendengar pengakuan Angga yang sudah cinta kepada wanita lain membuat sesuatu di diri Nisa tercubit. Dia tidak ingin mendengar kelanjutan kisah cinta pria yang saat ini berdiri tepat di hadapannya.
"Siapa dia?" tanya Nisa yang terpaksa harus menanyakan tentang wanita yang dicintai oleh Angga.
"Dia janda. Dulu, ku kira dia mau balik lagi dengan mantan suaminya. Tetapi ternyata dugaanku salah. Wanita itu memilih untuk tetap sendiri dan membangun kehidupan barunya," jelas Angga. "Aku ingat pertemuan pertamaku dengan wanita itu adalah di jembatan penyeberangan orang. Aku memeluknya karena mengira dia hendak bunuh diri, tetapi ternyata aku salah. Dia malah menganggapku pria mesum yang aneh."
"Kenapa cerita itu tidak asing ya?" Nisa bergumam. Dia mencoba untuk mengingat sesuatu.
"Kemudian aku bertemu lagi dengannya saat dia hendak mencari pekerjaan, kalau tidak salah ingat aku bertemu dengannya saat akan masuk lift," tambah Angga lagi.
"Tunggu!" sentak Nisa. "Bukankah orang yang bertemu denganmu di JPO itu adalah aku?" tanya Nisa.
Iya, dia ingat kalau itu adalah hari pertama ia bertemu dengan Angga.
Angga mengangguk.
"Jadi, wanita yang kamu cintai itu adalah aku?" Nisa menunjuk dirinya sendiri.
Kembali Angga mengangguk. "Wanita itu adalah kamu, Nis. Aku mencintaimu baik dulu atau pun sekarang," akunya.
Nisa tercengang mendengar pengakuan dari mantan bosnya tersebut. Dia bahkan tidak sadar ketika tangan kiri Angga menarik pinggangnya dan membuat posisi tubuh mereka sangat dekat.
"Aku mencintaimu, Nisa," ucap Angga sambil menatap kedua bola mata Nisa dalam-dalam.
"Ngga... ini-ini terlalu dekat."
"Aku tahu," jawab Angga. Namun bukannya melepaskan, Angga justru semakin mendekatkan tubuhnya dengan Nisa.
Nisa mencengkeram pundak Angga saat pria itu mulai mendekatkan wajah ke arahnya. Jantungnya berdetak tak beraturan seolah hampir melompat dari tempatnya.
"Ma, Om Angga, kalian sedang apa?"
Suara itu sontak saja membuat Nisa dan Angga saling menjauh. Pipi keduanya bersemu merah menahan malu.
"Daffa... Kenapa ada di sini? Kan mama nyuruh Daffa tunggu di mobil."
"Mama lama, makanya Daffa turun lagi," jawab Daffa.
"O... Ya sudah, kita berangkat sekarang!" ajak Nisa. Dia menggandeng putranya.
"Biar aku yang setir!" Angga merebut kunci dari tangan Nisa.
"Tap.... "
"Ayo Boy!" seru Angga. Dia menarik tangan Daffa dari genggaman Nisa. Lalu menggendong bocah itu di atas pundak.
__ADS_1
"Yey, akhirnya Daffa pergi sama Om Angga lagi," teriak Daffa kegirangan.
Mata Nisa membelalak ketika dengan tangan kiri Angga menggenggam tangannya. Mereka berjalan beriringan menuju ke tempat mobil Nisa diparkirkan.