
Hari itu sebelum berangkat ke kantornya, Angga datang ke rumah sakit untuk mengunjungi Nisa. Dia ingin memastikan jika kondisi wanita yang sudah menarik perhatiannya tersebut benar-benar dalam keadaan baik. Tak lupa ia juga membawa buah-buahan sebagai bawaan.
"Pagi, Nis, gimana keadaan kamu hari ini? Baik?" tanya Angga begitu tiba di kamar rawat Nisa.
"Alhamdulillah baik, Pak. Saya ucapkan banyak terima kasih karena Pak Angga sudah mau menolong saya," jawab Nisa.
"Ini ada buah-buahan kamu semoga kamu suka." Angga memberikan buah-buahan di tangannya kepada Nisa.
"Ohya soal ketiga sahabatmu, hari ini aku sudah menyuruh Cevan untuk menemui mereka secara langsung dan kalau mereka tidak keberatan, mereka bisa langsung bekerja di perusahaan milikku hari ini juga."
"Sekali lagi terima kasih ya, Pak, karena Bapak sudah mau menampung sahabat-sahabatku di perusahaan Bapak, setidaknya satu masalah sudah selesai. Dan aku tinggal menyelesaikan sisanya," ucap Nisa.
"E... apa kamu sudah memberitahu suamimu tentang keberadaanmu di sini?" tanya Angga berhati-hati.
Nisa menggeleng. "Tapi, seharusnya dia sudah tahu sih karena meski aku nggak memberitahu dia, aku memberitahu mertuaku kalau aku ada di sini. Dan aku yakin mertuaku itu sudah memberitahu Mas Bima tentang keadaanku," jawabnya kemudian.
__ADS_1
"O... Begitu ya."
"Pak."
"Iya."
"Sepertinya setelah keluar dari rumah sakit, aku ingin resign dari perusahaan Bapak. Maaf ya, Pak, kalau kesannya aku hanya memanfaatkan Bapak untuk menampung teman-temanku saja. Tapi, aku ingin fokus dengan masalah perceraianku dengan Mas Bima."
"Kamu benar-benar ingin menggugat cerai suamimu?" tanya Angga lagi.
Satu sisi Angga senang bisa membantu menyelesaikan permasalahan yang sedang dihadapi oleh Nisa sekarang, tetapi di sisi lain dia merasa berat jika akhirnya Nisa memutuskan untuk resign dari perusahaannya. Karena itu berarti ia tidak akan lagi bisa bebas bertemu dengan wanita itu. Seandainya ada sesuatu yang bisa ia gunakan untuk tetap mempertahankan Nisa di perusahaannya, Angga pasti akan melakukannya.
"Nis, kenapa kamu harus resign? Kalau kamu mau, aku bisa memberimu cuti sampai kamu melahirkan," ujar Angga.
"Mana bisa begitu, Pak. Aku ini baru bekerja di perusahaan Bapak selama sebulan, masa sudah diberi cuti hamil dan melahirkan, kan gak lucu."
__ADS_1
"Kan aku pemiliknya, jadi terserah aku dong mau ngasih cuti berapa lama," jawab Angga yang tetap menyombongkan diri.
"Tapi, itu nggak adil buat karyawan lain, Pak. Mereka semua pasti berpikir kalau Bapak memberikan itu karena Bapak tertarik sama aku. Bisa turun reputasi Pak Angga, masa seorang pria lajang, mapan, dan tampan dikira suka sama bawahannya yang masih berstatus istri orang, apalagi istri orang itu sedang dalam keadaan hamil, kan makin nggak lucu!" Nisa memgatakan itu sambil menggeleng dan tertawa.
"Tapi, aku memang tertarik sama kamu, Nis." Perkataan itu hanya tercekat di tenggorakan dan tak mampu Angga katakan secara lugas. Dia tidak mau Nisa menjauhinya, jika tahu kalau dirinya memang memiliki perasaan khusus terhadap wanita hamil tersebut.
"Lagian ya, Pak. Aku memang sudah tidak ingin bekerja di kantor lagi. Rencananya aku mau buka usaha kecil-kecilan di rumah setelah aku melahirkan nanti. Jadi, aku masih bisa tetap mengasuh anakku sambil mencari nafkah," imbuh Nisa.
"Apa kamu tidak berniat ingin menikah lagi saat sudah bercerai dengan suamimu nanti?" tanya Angga dengan berhati-hati lagi.
"Aku belum kepikiran soal itu, Pak. Yang aku pikirkan sekarang adalah segera mengakhiri pernikahanku dengan Mas Bima kemudian bisa merawat anakku dengan baik, meski tanpa dia," jawab Nisa.
"Apa?! Bercerai?" pekikan seseorang dari arah pintu membuat Nisa dan Angga menoleh ke arahnya.
ššš
__ADS_1
Gaes, segini dulu ya. Nanti aku up lagi. Maafin otor karena kemarin libur nggak bilang-bilang. Jangan lupa untuk tetap kasih like, komen, vote, dan gift sebanyak-banyaknya. Terima kasih.