
"Om Angga bagaimana ini tepungnya habis?"
Pertanyaan Daffa membuat dua orang tua dewasa itu langsung menjauh. Keduanya terlihat salah tingkah.
"Om Angga akan ambilkan yang baru," jawab Angga. Dia kembali menatap Nisa sebentar kemudian mengambil tepung terigu yang baru.
"Sini Om, biar Daffa yang buka!" pinta Daffa.
"Daffa sayang kali ini biar Om Angga aja ya yang buka tepungnya biar nggak berserakan?" ucap Nisa. Dia tidak mau anaknya membuat ulah lagi seperti barusan.
"Tapi, Ma.... "
"Kita buka sama-sama." Angga memberikan jalan tengah. Dia tidak mau membuat Nisa merasa tidak enak dan juga tidak mau membuat Daffa bersedih.
Kembali Angga menuntun tangan kecil Daffa untuk membuka tepung terigu yang baru diambillnya itu. Dengan perlahan mereka memasukkan tepung itu ke wadah untuk dicampurkan dengan bahan yang lain.
Daffa dan Angga terlihat serius saat membuat adonan kue ulang tahun tersebut. Saat adonan itu sudah tercampur rata dengan bahan yang lain, mereka memasukkannya ke dalam loyang.
"Kita oven dulu ya? Nanti setelah matang Daffa boleh hias kue ulang tahunnya sesuai keinginan Daffa," ujar Angga. Dia memasukkan loyang berisi adonan itu ke dalam oven.
"Lama tidak Om?" tanya balita berpipi chubby itu.
"Sekitar 30 menit," jawab Angga. "Nah, biar nunggunya nggak kelamaan kita siapkan krim untuk membuat hiasannya. Daffa mau dia hias pakai buah juga nggak kuenya?"
"Mau, Om. Daffa mau hias kuenya pakai buah stroberry, anggur, sama cherry," jawab Daffa.
"Wah... sayangnya Om hanya punya buah stroberry."
"Yah... Daffa kan mau hias pakai semua buah itu." Daffa terlihat cemberut.
"Sayang, kita hiasnya pakai buah yang ada dulu ya?" Nisa ikut membujuk putranya.
"Baiklah, tapi lain kali Daffa mau buat kue ulang tahun dengan buah-buahan tadi." Nisa menatap Angga. Dia tidak berani mengiyakan karena takut akan mengganggu pekerjaan mantan bosnya tersebut.
"Iya, lain kali Om akan sediain semua buah tadi saat Daffa mau bikin kue lagi," sahut Angga.
"Blueberry juga ya, Om, terus kiwi juga," oceh Daffa dengan mata berbinar.
__ADS_1
"Iya, semua buah yang Daffa mau bakalan Om sediain. Hm?"
"Yey, Daffa sayang sama Om Angga," ucap Daffa sambil mengecup pipi kanan Angga. Kemudian kembali melompat kegirangan.
Angga menyentuh pipi yang baru saja dicium oleh anak dari Nisa itu sambil tersenyum.
"Maaf ya, Pak, karena Daffa sudah ngerepotin Bapak," ucap Nisa tidak enak.
"Tidak apa-apa, Nis. Aku senang kok melakukan semuanya untuk Daffa," jawab Angga. "Nis, bisa nggak sih kamu jangan panggil aku dengan sebutan Bapak? Aku merasa sangat tua saat kamu memanggilku begitu." Angga mengeluh sambil berpura-berpura memasang ekspresi sedih.
"E... Baiklah, Ang... Angga," ucap Nisa agak ragu.
"Nah, kalau kamu manggil aku dengan nama begitu kan aku jadi sedikit merasa lebih muda. Setidaknya meski aku masuk kategori jomlo akut, nggak kelihatan ngenes-ngenes amat," cicit Angga.
Jomlo? Pak Angga jomlo? Bukankah waktu itu dia sudah punya tunangan? Kenapa dia bilang jomlo akut? Setidaknya itulah yang terlintas di benak Nisa sekarang.
"E... Ngga, apa maksudnya dengan jom.... "
Belum sempat Nisa menyelesaikan ucapannya. Angga sudah berlari ke arah oven karena mencium bau gosong dari sana dan benar saja ketika kue ulang tahun tersebut diangkat dari dalam oven warna kuenya sudah agak gosong.
"Yah, Boy, gimana? Kuenya gosong?" tanya Angga sambil menunjukkan kue gosong di hadapannya.
"Sayang? Kuenya gosong kok malah seneng sih?" tanya Nisa yang juga ikut bingung dengan reaksi yang ditunjukkan oleh putranya.
"Seneng dong, Ma. Artinya kita akan buat ulang kue itu. Daffa suka," jawab Daffa jujur.
"Buat ulang kok malah seneng sih? Kan capek?" timpal Nisa lagi.
"Nggak akan capek kalau itu dilakukan bareng Om Angga. Semuanya jadi seru, Ma," jawab Daffa. "Iya, kan, Om, kita akan buat lagi?"
"Sayang kalau kita ulang lagi kita akan ganggu waktu istirahat Om Angga. Kasihan Om Angganya," ujar Nisa.
Daffa menetap ke arah Angga. "Benar itu, Om?" tanyanya.
"Tidak kok, Sayang. Om malah seneng ada yang nemenin," jawab Angga sambil mencubit hidung Angga.
"Tuh kan, Ma, Om Angga saja bilang seneng," cicit Daffa.
__ADS_1
"Ngga, kalau kamu capek tolak saja kemauan Daffa. Nanti aku akan bantu buat bujuk dia." Merasa tidak enak, Nisa berkata seperti itu dengan suara lirih di sebelah Angga.
"Tidak, kok, Nis. Aku malah seneng ada Daffa di sini. Jadi, aku nggak kesepian," jawab Angga yang kembali sibuk menyiapkan bahan-bahan untuk membuat kue ulang tahun lagi.
"Memang tunang.... "
"Kamu bantu aduk adonannya ya, Nis, biar cepet. Aku mau lelehin coklat dan margarinnya dulu." Lagi-lagi, Angga menyela perkataan Nisa sebelum wanita itu menyelesaikan kalimatnya.
"Lalu tugas Daffa apa, Om?" tanya Daffa.
"Daffa awasai Mama, jangan sampai adonannya kena mata Mama lagi. Ok."
"Oke, Om Angga." Daffa menjawab sambil menunjukkan dua jempolnya.
Pembuatan kue ulang tahun yang kedua ini cukup lancar hingga kue itu matang sempurna. Daffa mendapat bagian untuk menghias kue tersebut.
"Bagus tidak, Ma?" tanya Daffa setelah selesai menghias kue ulang tahun itu.
"Bagus," jawab Nisa sambil menatap kue yang sudah dihias tersebut.
"Om Angga, bagus tidak?" kini giliran Angga yang mendapat giliran pertanyaan yang sama.
"Bagus." Angga memberikan jawaban yang sama seperti yang diberikan oleh Nisa. "Tapi, Boy, kenapa kamu tidak menghias itu dengan bentuk bunga atau hewan? Kenapa malah bentuk love?" Angga menanyakan alasan bocah 5 tahun tersebut menghias kue dengan gambar berbentuk hati.
"Kata orang, bentuk itu melambangkan cinta. Daffa membuat itu karena Daffa cinta dan sayang sama Mama dan Om Angga," jawab Daffa. "Sama papa juga sih," tambahnya.
"Ayo, Ma, Om Angga, kita makan kue itu sama-sama!" ajak Daffa.
Daffa terlihat sangat antusias ingin mencicipi kue ulang tahun buatan mereka itu. Dengan menggunakan sendok Daffa mengambil kue itu lalu menyuapkannya pada Sang Mama.
"Bagaimana, Ma? Enak?" tanya Daffa, dia tidak sabar ingin mengetahui rasa kue yang dibuat bersama-sama tersebut.
"Enak. Tidak terlalu manis, coklatnya juga pas, teksturnya lembut, dan lumer di mulut," jelas Nisa panjang lebar.
"Om Angga juga cicipi ya?" tanya Daffa. Dengan sendok yang sama yang digunakan untuk menyuapi Nisa, Daffa pun menggunakan sendok itu untuk menyuapi Angga.
"Sayang, itu sendok bekas mama kalau kamu mau nyuapin Om Angga ganti dengan sendok yang lain," tegur Nisa.
__ADS_1
"Tapi, Om Angga nggak keberatan kok. Iya kan, Om?"
Angga mengangguk, tanpa merasa jijik dia pun mendorong tangan Daffa untuk menyuapinya dengan sendok yang sama itu. Ketiganya pun menikmati kue itu bersama-sama layaknya keluarga kecil.