
Pagi harinya seorang perawat datang untuk mengecek kondisi Nisa. Perawat itu memeriksa keadaan umum pasien sebelum dokter yang berjaga itu datang.
"Tekanan darah, suhu tubuh, semuanya normal," ucap perawat itu. "Apa ada yang Anda keluhkan hari ini?"
"Tidak ada, Sus. Tapi, kalau boleh saya ingin bisa secepatnya keluar dari sini. Saya sudah merasa bosan, Sus, di sini," jawab Nisa jujur.
"Nanti akan saya sampaikan keinginan Anda ini kepada dokter yang menangani Anda," ucap perawat tersebut dengan sabar. "Suami Anda sangat perhatian ya, Bu. Sudah dua malam ini dia selalu jagain Ibu di luar kamar, mungkin takut menganggu ibunya," imbuhnya.
"Maksud Suster, suami saya tidur di luar?" tanya Nisa tsedikit tidak percaya.
"Iya, sudah dua malam ini. Dan setiap subuh dia selalu pergi, itu kata teman yang bertugas semalam," jelas perawat itu lagi.
"Jadi, Mas Bima selama ini jagain aku? Kenapa dia nggak bilang-bilang," pikir Nisa.
"Tidak! Pasti dia melakukan itu supaya aku luluh dan tidak menggugatnya cerai," batin Nisa lagi.
"Ada apa, Bu?" tanya perawat itu ketika melihat Nisa terdiam.
"Tidak, Sus. Hanya sedikit tidak yakin saja. Kebetulan suami saya itu sibuk banget, mencari waktu istirahat untuk dirinya sendiri saja kesulitan, gimana bisa dia jagain saya," jawab Nisa.
"Setiap suami pasti akan seperti itu, Bu. Akan melakukan apa pun demi istri dan calon anaknya," sahut perawat tersebut.
__ADS_1
Yang dikatakan perawat tersebut memang benar, suami yang baik adalah suami yang akan melakukan apa pun demi istri dan anaknya.
"Mungkin saja Mas Bima sekarang sudah sadar." Nisa membatin. Sedikit senyuman terukir di bibir merahnya.
"Kata teman saya, biasanya setelah pulang habis subuh tadi, suami Ibu akan datang lagi ke sini sebelum berangkat bekerja. Soalnya teman saya bilang, suami Ibu kalau datang ke sini lagi selalu memakai setelan jas.."
Mendengar lanjutan cerita dari perawat itu membuat Nisa kembali bertanya, "Maksudnya orang yang semalam tidur di luar kamar itu akan datang lagi sebelum jam kantor?"
"Kata teman saya sih begitu, teman saya saja sampai iri lho Bu dengan Anda. Sudah suaminya tampan, kaya raya, perhatian lagi. Pokoknya mirip pangeran dari dalam novel," jawab perawat itu.
"Orang yang kemarin ke sini sebelum kerja kan, Pak Angga, apa yang dimaksud Suster itu adalah Pak Angga ya?" batin Nisa lagi. "Tidak! Pasti bukan dia. Tapi, kalau bukan dia siapa? Nggak mungkin Mas Bima kan? Terlebih semalam Ayu jatuh pingsan, pasti dia sedang menjaga istri keduanya itu," batinnya.
"Itu dia suami Anda datang!" tunjuk Sang Suster ketika melihat kedatangan seorang laki-laki dengan jas berwarna biru.
"Ini aku bawakan makanan lagi buat kamu, semoga kamu suka." Dia memberikan kotak makanan yang dibawanya kepada Nisa.
"Terima kasih," ucap Nisa.
"Ternyata yang dikatakan oleh teman-temanku sebelumnya memang benar. Suami Ibu selain tampan juga perhatian. Saya jadi iri sama Ibu." Perawat tersebut berbisik di telinga Nisa.
"Saya tinggal dulu ya, Pak, Bu, nanti akan saya sampaikan keinginan istri Bapak yang ingin secepatnya keluar dari rumah sakit," ucap perawat itu sebelum pergi.
__ADS_1
"Maaf, Sus, saya bu.... " belum selesai Angga meluruskan kesalahpahaman perawat tersebut mengenai statusnya, perawat tersebut sudah pergi dari ruang rawat Nisa.
Iya, orang yang baru datang itu adalah Angga. Habis subuh tadi, dia baru meninggalkan rumah sakit dan langsung memasak sesuatu untuk diberikan kepada Nisa.
"Sepertinya dia salah paham. Dia mengira aku ini suamimu," ucap Angga dengan perasaan tidak enak.
Nisa masih diam. Dia kemudian menatap Angga dengan serius.
"Pak, apa benar Pak Angga tidur di luar kamar ini semalam?" tanya Nisa kepada bosnya tersebut.
"Tidak. Semalam aku langsung pulang kok setelah berpamitan denganmu," jawab Angga berusaha mengelak.
"Kenapa Bapak melakukan itu? Kenapa Pak Angga rela menjagaku seperti itu? Katakan padaku apa alasannya!" cecar Nisa sambil meminta penjelasan kepada Angga yang masih mematung di tempatnya.
Angga masih diam, dia merasa enggan untuk mengatakan alasan kenapa dia ingin selalu bersama Nisa dan menjaganya.
"Pak," panggil Nisa. "Katakan padaku kenapa Bapak rela melakukan itu!" suruh Nisa.
"Aku... Aku melakukan itu karena.... "
š»š»š»
__ADS_1
Maaf ya baru update. Semoga tetap suka, terima kasih.