Dimadu Karena Wasiat

Dimadu Karena Wasiat
DKW 27 - Tekad


__ADS_3

Malam harinya, Bima mengumpulkan kedua istri, ibu, dan tantenya Ayu di ruang keluarga. Dia ingin memberitahu kepada semua orang terutama ibunya tentang rencananya yang ingin melegalkan pernikahannya dengan Ayu secara negara.


"Ada apa kamu menyuruh Mama ke sini? Kamu bilang ada pengumuman penting yang ingin kamu beritahukan kepada Mama?" tanya Vena setelah duduk di sofa panjang yang ada di ruang tengah.


"Ma, tujuan Bima mengundang Mama ke sini untuk memberitahu bahwa aku dan Nisa sepakat untuk melegalkan pernikahanku dan Ayu secara negara," jawab Bima dengan hati-hati.


"Apa?!" Vena terkejut mendengar jawaban dari putra tunggalnya itu. "Nis, benar kamu setuju dengan ini?" tanya Vena kepada menantunya.


"Iya, Ma," jawab Nisa tanpa ekspresi.


"Kenapa? Apa alasannya? Bukankah sebelumnya kamu melarang Bima untuk melakukan itu? Kamu bahkan mengancam akan meminta ceria dari Bima, jika pernikahan kedua Bima ini dilegalkan secara hukum negara? Apa terjadi sesuatu yang tidak mama ketahui?" cecar Vena.


Nisa menatap Bima sebentar. "Tidak ada, Ma. Aku... aku hanya merasa tidak adil jika pernikahan Mas Bima dan Ayu tidak dilegalkan, kasihan Ayu," jawab Nisa.


"Bima tidak mengancammu, kan?" sekali lagi Vena bertanya. Dia tidak mau jika menantu kesayangannya terluka batin.

__ADS_1


Cukup lama Nisa terdiam, namun beberapa menit kemudian dia pun menjawab, "Tidak, Ma. Itu kesepakatan kami berdua."


"Kalau begitu Mama juga tidak keberatan," ucap Vena.


"E... sebelumnya maaf, tapi sebagai tantenya Ayu yang menggantikan posisi almarhum ibunya Ayu, saya mau meminta satu hal sama kalian." Tante Meta tiba-tiba berbicara.


"Meminta apa?" tanya Vena.


"Saya ingin pesta resepsi yang megah untuk keponakan saya," jawab Tante Meta.


"Terserah, Ma. Aku capek dan aku ingin istirahat. Permisi." Nisa lebih memilih kembali ke kamarnya ketimbang menjawab pertanyaan itu. Tidak hanya fisiknya yang lelah, batinnya juga lelah. Jika bukan demi ketiga sahabatnya, pasti Nisa sudah memilih kabur dari rumah dan menggugat cerai dengan suami yang sekarang lebih mempercayai istri keduanya.


Vena mengejar Nisa sampai di depan kamar menantunya tersebut.


"Nis, sebenarnya ada apa? Ceritakan sama Mama!" Vena menahan pergelangan tangan menantunya.

__ADS_1


"Tidak, apa-apa, Ma. Sudah aku katakan aku hanya merasa lelah dan ingin beristirahat. Mama lakukan saja semua keinginan mereka," tutur Nisa.


"Tapi, Nis.... "


"Ma, sudah ya. Nisa mau istirahat." Setelah mengatakan itu Nisa masuk ke dalam kamarnya.


Nisa duduk di depan meja rias yang ada di kamarnya. Dia menatap remeh pantulan dirinya sendiri di cermin.


"Kamu payah, Nisa! Kamu membiarkan harga dirimu diinjak-injak oleh suami dan istri keduanya? Apa hanya segini perjuanganmu untuk mempertahankan harga dirimu?" Nisa bertanya pada dirinya sendiri.


"Tidak! Aku tidak boleh menjadi lemah seperti ini, jika Mas Bima mengancam akan memecat teman-temanku seharusnya aku bisa mencari solusi lain. Tapi, apa?" Nisa mulai berpikir mencari cara untuk bisa membawa teman-temannya keluar dari perusahaan suaminya sebelum mereka dipecat secara tidak hormat.


"Apa aku coba cari pekerjaan saja ya? Kalau aku bisa mendapatkan pekerjaan di perusahaan yang bagus dan bisa menarik teman-temanku dari perusahaan Mas Bima ke tempat kerjaku yang baru, aku bisa menggugat cerai Mas Bima tanpa takut dengan ancamannya lagi. Iya, mulai besok aku akan mencari pekerjaan di perusahaan yang lebih besar dari perusahaan milik Mas Bima. Harus! Semangat Nisa! Kali ini kamu pasti berhasil dan kamu pasti bakalan bisa menyelamatkan ekonomi teman-temanmu juga!" Nisa menyemangati dirinya sendiri.


"Sayang, kamu juga harus kuat ya. Doakan semoga rencana mama ini berhasil," gumam Nisa sambil mengusap perutnya.

__ADS_1


__ADS_2