Dimadu Karena Wasiat

Dimadu Karena Wasiat
DKW 68


__ADS_3

Malam begitu tenang mengiringi keindahan suasana di rumah baru yang Nisa tempati. Nisa yang sudah tidur sejak sore mendadak terbangun ketika cacing-cacing di dalam perutnya kembali berdemo minta untuk diisi, padahal dia sudah makan sebelum tidur tadi.


Nisa bangun dari tempat tidurnya dan berjalan keluar dari kamar. Letak kamarnya yang berada di lantai dua membuatnya harus menuruni anak tangga satu persatu untuk menuju ke dapur. Tujuannya hanya satu, mencari sesuatu yang bisa dimakan sebagai pengganjal perut. Sayangnya tidak ada apa pun yang bisa ia makan saat ini karena tadi sore ia hanya membeli nasi dan sedikit camilan yang kesemuanya itu sudah habis dimakannya sore task. Nisa juga belum sempat membeli bahan untuk kebutuhan dapurnya tadi.


"Kalau tahu bakalan lapar lagi harusnya aku beli makanan lebih banyak tadi," keluh Nisa.


"Di sini ada yang jual makanan malem-malem nggak ya?" batin Nisa. Dia pun melihat ke arah jam digital yang dipajang di dinding ruang tamu. Jam itu menunjukkan sudah pukul 23.00 WIB.


"Atau aku beli makanan di aplikasi online aja ya." Nisa kembali bermonolog.


Wanita yang kandungannya sudah terlihat semakin besar itu tampak melihat-lihat aplikasi penjual makanan on lain. Tetapi tidak ada makanan yang tertera di sana yang ingin ia makan. Satu-satunya makanan yang ia makan adalah makanan yang diberikan oleh Angga tadi pagi.


"Kenapa aku jadi ingin makanannya Pak Angga ya. Tidak mungkin kan aku ngidam makanan buatan dia apalagi kata orang ngidam hanya dirasakan saat usia kandungan masih muda." Lagi-lagi Nisa bermonolog.

__ADS_1


"Tidak! Aku harus memikirkan makanan lain!" Nisa mencoba mengenyahkan keinginannya tersebut. Sayangnya semakin ia mencoba memikirkan makanan lain, justru makanan yang diberikan oleh bosnya itulah yang terbayang-bayang di otaknya. Dan pada saat yang bersamaan orang yang makanannya terus berputar di kepalanya tersebut menelepon.


Nisa menekan tombol hijau di layar telepon genggamnya tersebut.


"Hallo Pak Angga, selamat malam, ada apa ya Bapak menelpon malam-malam begini?" tanya Nisa saat menjawab telepon dari bosnya tersebut.


"Kenapa kamu kebangun?"


"Hah!" Nisa sedikit kaget mendengar pertanyaan Angga dari ujung sana. "Bagaimana Pak Angga tahu kalau aku kebangun?" Nisa membatin.


Lagi-lagi Nisa tercengang mendengar pertanyaan dari bosnya tersebut. Bagaimana mungkin pria itu bisa tahu kalau dirinya lapar.


"E... iya sih, Pak. Aku bangun karena tiba-tiba lapar," jawab Nisa.

__ADS_1


"Jangan keluar rumah malam-malam. Bahaya! Kalau mau makan coba pesen makanan online saja," ujar Angga.


"Ini, aku lagi nyari makanan di aplikasi online, sayangnya tidak ada yang ingin aku makan," jawab Nisa.


"Lho kenapa? Ada makanan yang sedang kamu inginkan?" tanya Angga lagi.


"Ada sih, Pak. Tapi... Sepertinya makanan itu tidak dijual di online."


"Memang makanan apa yang kamu ingin makan?" tanya Angga lagi.


"Pak, sebenarnya aku ingin makan makanan yang Pak Angga berikan padaku tadi pagi. Maksudku, Pak Angga beli makanan itu dimana ya? Biar aku bisa beli sendiri ke sana," jawab Nisa. Entah kenapa dia menjawab pertanyaan bosnya itu dengan jujur.


"Kamu benar-benar ingin makan itu?"

__ADS_1


"Misal warung atau restorannya sudah tutup, besok juga nggak apa-apa sih, Pak."


"Kamu bisa buka pintu rumahmu sekarang!"


__ADS_2