
Sesuai dengan rencana siang itu Nisa dan Ayu pergi ke mall untuk mencari kebutuhan dapur. Kedua istri Bima tersebut terlihat begitu kompak memilih dan memilah bahan-bahan apa saja yang bisa langsung dibeli dengan jumlah yang banyak dan bahan apa saja yang belinya disesuaikan dengan kebutuhan, cintohnya seperti sayuran. Mereka hanya membeli beberapa sayuran yang akan mereka masak sebagai menu makan mereka besok pagi.
"Mbak, apa sayuran segini cukup?" tanya Ayu sambil menunjukkan beberapa ikat sayur brokoli kepada Nisa. "Atau ini masih kurang?"
"Sudah cukup kok, Yu. Kalau kebanyakan yang ada malah sayurannya busuk karena terlalu lama disimpan," jawab Nisa.
"Mbak mau buah mangga ya?" tanya Ayu ketika melihat istri pertama dari suaminya itu terus menatap ke arah tumpukan buah mangga.
Nisa menoleh kearah Ayu lalu mengangguk. "Tapi, disini nggak ada buah mangga yang muda," jawabnya.
"Bagaimana kalau setelah ini kita ke pasar tradisional, biasanya di pasar tradisional ada yang jual mangga muda, Mbak. Kalau Mbak Nisa mau aku akan temenin Mbak Nisa kesana," ujar Ayu.
Kembali Nisa mengangguk. "Terima kasih ya, Yu."
"Ya udah yuk, Mbak, kita bayar ini dulu!" Ayo mendorong troli berisi berbagai kebutuhan dapur yang sudah mereka pilih dan membawanya ke kasir.
Banyaknya pengunjung mall, membuat Nisa dan Ayu harus mengantri. Antrian di depan meja kasir terlihat lumayan panjang, padahal ada beberapa meja kasir.
"Mbak Nisa kalau Mbak capek, Mbak Nisa duduk saja biar aku yang mengantri! Nanti pada saat mau bayar aku akan memanggil Mbak Nisa!" suruh Ayu.
__ADS_1
Nisa menatap Ayu, "Kamu nggak diberi kartu debit sama Mas Bima?" tanya Nisa dan menjawab gelengan dari Ayu.
Nisa menghembuskan napasnya pelan. "Mas Bima itu gimana sih kan kamu juga istrinya, kenapa kamu nggak dibuatin kartu debit juga."
"Bukan salah, Mas Bima kok Mbak. Aku yang menolaknya, karena ku pikir aku nggak berhak mendapatkan itu semua. Yang penting bagi aku adalah aku bisa tinggal di rumah yang nyaman, makan enak tanpa harus memikirkan besok akan apa, dan bisa hidup dengan tenang tanpa takut diusir dari kontrakan saja itu sudah cukup. Aku tidak membutuhkan apa pun lagi," jelas Ayu. Terlihat sedikit kesedihan di mata Ayu saat wanita itu menceritakan kehidupannya yang dulu.
Hati Nisa terenyuh mendengar cerita dari Ayu barusan. Semiskin miskinnya dia, Nisa tidak pernah merasakan yang namanya kelaparan. Nisa memberikan debit cardnya kepada Ayu.
"Kamu bisa pakai debit card punyaku dulu. Nanti aku akan bicarakan sama Mas Bima agar dia juga memberikanmu debit card." Nisa memberikan kartu debit dari salah satu bank kepada Ayu. "Dan kalau ada sesuatu yang ingin kamu beli, gunakan itu."
"Tapi.... "
"Ambil saja. Lagian debit card itu memang khusus digunakan untuk membeli kebutuhan sehari-hari kok mulai dari belanjaan, gaji art di rumah, dan kebutuhan lainnya yang ada hubungannya dengan kebutuhan rumah tangga." potong Nisa. "Sekarang biar kamu yang pegang itu dulu."
"Nggak ada yang berlebihan, Yu. Kita berdua sama-sama istrinya Mas Bima. Jadi, bukan hanya aku saja yang berhak menggunakan kartu itu, tapi kamu juga."
Ayu menghela napasnya.
"Aku tunggu di sana saja, kakiku pegal," ujar Nisa. Wanita yang usia kandungannya menginjak 16 minggu itu pun pergi dari sana.
__ADS_1
Setelah hampir dua puluh menit menunggu, akhirnya Ayu datang juga. Wanita itu mendorong troli yang berisi semua belanjaan yang tadi mereka beli. Nisa menyuruh sopir pribadinya untuk membawa semua belanjaan tersebut ke dalam bagasi mobil.
"Mbak, kita jadi ke pasar tradisional nggak buat beli mangga muda?" tanya Ayu ketika keduanya sudah berada di dalam mobil.
"Nggak apa-apa nih kalau kita langsung ke sana? Kamu nggak capek?"
"Nggak apa-apa lah, Mbak. Ini gak ada apa-apanya jika dibandingkan kehidupanku dulu," jawab Ayu.
"Ya sudah kalau begitu, kita ke pasar tradisional sekarang."
Jarak mall yang mereka kunjungi dengan pasar tidak terlalu jauh, hanya membutuhkan waktu kurang dari setengah jam agar bisa sampai disana. Nisa dan Ayu langsung turun dari mobil yang membawa mereka ketika tiba di pasar yang dimaksud.
"Ayo, Mbak, kita masuk ke pasar! Atau Mbak mau mau nunggu aja di mobil?" Ayu menawarkan.
"Kita masuk bareng saja," jawab Nisa. Kedua wanita itu kemudian masuk ke pasar untuk mencari buah mangga muda. Namun, baru beberapa langkah mereka masuk ke area pasar tradisional itu ada seseorang yang tanpa sengaja menabrak Nisa dan hampir membuat wanita yang sedang hamil itu jatuh.
"Anda apa-apaan sih? Hampir saja Mbak Nisa jatuh gara-gara Anda!" omel Ayu kepada orang yang menabrak Nisa barusan.
"Maafkan saya, saya enggak sengaja," ucap orang itu.
__ADS_1
"Maaf-ma.... " Ayu tidak melanjutkan kalimatnya ketika menatap wajah orang tersebut.
"Ayu!"