
Berkali-kali Bima menghembuskan napas panjangnya. Dia mengira setelah Nisa mendengarkan segala rekayasa yang dilakukan oleh Ayu selama ini akan membuat istrinya tersebut mengurungkan niat untuk menggugat cerai, akan tetapi ternyata dugaannya salah. Wanita yang sedang mengandung anaknya tersebut tetep bersikukuh pada pendirian dan tetap ingin bercerai darinya.
Beberapa saat sebelumnya....
"Katakan apa yang ingin kamu bicarakan padaku, Mas!" suruh Nisa ketika keduanya masuk ke salah satu ruangan yang ada di yayasn tersebut tanpa ekspresi.
"Nis, ternyata surat wasiat itu adalah rencana Ayu dan ibunya." Bima membuka cerita.
Nisa menautkan alis seraya menatap laki-laki yang masih berstatus sebagai suaminya tersebut.
Bima mulai mencaritakan bagaimana ia mulai mencari tahu tentang Ayu hingga akhirnya semua kebusukan istri keduanya itu diketahui olehnya.
"Saat ini Ayu sudah kabur dan melarikan diri entah kemana. Aku sudah menyuruh orang-orangku untuk mencarinya sekaligus mencari tahu siapa orang yang sebenarnya membantu Ayu selama ini. Aku juga sudah melaporkan semua perbuatannya ini ke pihak yang berwajib," jelas Bima.
"Terus?"
"Saat aku menemukan Ayu nanti, aku akan langsung mentalaknya," lanjut Bima.
Bima kemudian mendekati Nisa dan meraih kedua tangan wanita itu.
__ADS_1
"Nis, sesuai keinginanmu. Mulai sekarang tidak ada lagi poligami, hanya kamu yang akan menjadi satu-satunya istriku. Kita dan calon anak kita akan hidup bahagia setelah ini," ucap Bima dengan sungguh-sungguh. "Kamu mau kan, Nis kembali padaku?"
Untuk beberapa saat tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Nisa. Wanita itu terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu. Namun, dia kemudian melepaskan kedua tangannya dari genggaman tangan Bima.
"Maaf, Mas. Aku tidak bisa," jawab Nisa sambil menatap Bima.
"Tapi, kenapa? Bukankah ini yang kamu mau menjadi istriku satu-satunya?" Bima menanyakan alasan istrinya itu tetap ingin berpisah dengannya.
Nisa menggeleng. "Bukan itu, Mas."
"Lalu apa?"
"Sekarang aku mau tanya sama kamu, seandainya Ayu tidak menciptakan kebohongan ini dan surat wasiat itu asli apa kamu akan menceraikannya? Tidak, kan?" Nisa menatap Bima kemudian melanjutkan perkataannya. "Sejak awal, kamu memang sudah tidak setia. Kamu hanya menjadikan surat wasiat itu sebagai alat untuk membenarkan tindakanmu yang menikahi Ayu tanpa izin dariku. Karena seharusnya ada atau tidaknya surat wasiat itu kamu harus bisa menjaga hatimu untukku. Kamu akan memcari cara lain untuk mewujudkan wasiat yang tertulis di surat itu. Menjaganya bukan berarti menikah dengannya. Tapi, kamu memilih untuk menikah dengannya. Padahal ada banyak cara untuk menjalankan wasiat itu."
"Nis, aku tahu aku salah, aku khilaf, aku tidak bermaksud menamparmu. Aku.... "
"Kamu lupa, Mas? Ketika aku di rumah sakit, kamu bahkan tidak pernah menjagaku. Kamu hanya sibuk mengurusi dia dan orang yang ada untukku waktu itu hanya Pak Angga. Dia yang bukan suamiku selalu menjagaku tiap malam. Tapi, kamu.... " Nisa lebih memilih tidak melanjutkan perkataannya. Hatinya terlalu sakit dengan perlakuan Bima selama ini.
"Nis, aku mohon maafkan aku. Beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya!" pinta Bima dengan sungguh-sungguh. "Aku mohon, Nis! Demi anak kita!"
__ADS_1
"Nis, kamu tidak mau kan anak kita hidup tanpa kasih sayang seorang ayah? Kamu sendiri sudah pernah merasakan bagaimana menderitanya kamu ketika kamu hanya hidup berdua dengan ibumu. Memangnya kamu mau, anak kita bernasib sama sepertimu?" Bima sengaja mengungkit masa kecil Nisa untuk bisa mempengaruhi pikirannya.
"Aku tidak akan membiarkan anakku bernasib sama denganku. Aku akan memberinya limpahan kasih sayang agar dia bisa hidup bahagia meski tanpa ayahnya," jawab Nisa.
"Nis.... "
"Kamu sudah selesaikan? Sekarang pergilah!" suruh Nisa.
Dengan wajah tertunduk akhirnya Bima melangkah untuk meninggalkan tempat tersebut. Namun langkahnya kembali berhenti ketika Nisa mengatakan sesuatu.
"Jika masih ada sedikit saja rasa cintamu kepadaku, maka jangan persulit gugatan ceraiku."
Bima tidak menjawab, dia kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan ruangan tersebut.
Ciiitttt!
Bima menginjak rem mobilnya secara mendadak keika melihat orang yang selama ini ia cari berada tidak jauh dari posisinya. Bima segera menepikan mobil untuk mengikuti kemana orang itu pergi.
Orang itu masuk ke sebuah restoran untuk bertemu dengan seseorang.
__ADS_1
"Akhirnya aku berhasil menemukanmu!" ucap Bima.
Dua orang yang baru saja bertemu itu membulatkan matanya melihat keberadaan Bima di sana.