
Pulang dari makan malam, Bima dan Ayu langsung membawa Tante Meta pulang ke rumah dan tentu saja hal tersebut membuat Nisa terkejut.
"Mas, sebenarnya kamu anggap aku apa sih?" tanya Nisa dengan menahan sedikit amarahnya.
"Maksud kamu apa, Nis?"
"Waktu kamu nikahin Ayu, kamu nggak minta izin sama aku dan sekarang? Kamu membawa tantenya Ayu ke rumah juga nggak izin dulu sama aku. Jadi, kamu anggap aku ini apa, Mas? Patung?" Nisa sudah tidak bisa memahan amarahnya lagi.
"Nis, jangan keras-keras! Ayu dan tantenya masih di ruang tamu, bagaimana perasaan mereka kalau mereka mendengar perkataanmu ini?"
"Mas! Aku ini istri kamu lho, kenapa sih kamu nggak bisa menghargai perasaanku juga? Kenapa yang kamu pikirkan cuma perasaan Ayu dan tantenya? Kenapa kamu nggak mikirin perasaan aku, Mas?"
"Nis, tapi ini keadaannya darurat. Tantenya Ayu itu janda, dia tidak punya siapa-siapa lagi selain Ayu. Masa kamu nggak kasihan sih sama dia?"
"Astaghfirullah hal adzim, Mas. Aku juga kasihan sama dia. Tapi, membantu bukan berarti harus membanya pulang ke rumah juga kan? Kamu bisa bantu dia bayarin kontrakannya kek, kasih dia pekerjaan di perusahaanmu kek, tapi nggak bawa dia pulang ke rumah." Nisa menghembuskan napas kasar, rasanya dia sudah tidak tahu harus berkata apa lagi untuk membuat suaminya mengerti akan perasaannya.
"Maaf, Nis. Tadi aku nggak kepikiran sampai ke situ. Niatku cuma ingin membantu tantenya Ayu, itu saja. Jadi, sekarang bagaimana keputusannya? Kamu ngizinin tantenya Ayu tinggal di sini nggak?" tanya Bima lagi.
"Aku yakin meskipun aku bilang nggak boleh, kamu nggak akan bilang itu ke mereka, jadi terserah kamu deh, Mas," jawab Nisa.
"Nis.... "
"Aku capek, Mas. Mau istirahat." Tak mau lagi berdebat dengan suaminya, Nisa memilih membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dia sudah tidak peduli dengan keputusan yang akan diambil oleh suaminya lagi, toh selama ini pendapatnya tidak pernah lagi didengar oleh suaminya.
"Aku keluar temui tantenya Ayu dulu ya, nanti aku pijitin kamu."
"Nggak perlu. Malam ini aku mau tidur sendiri, Mas bisa tidur di kamarnya Ayu," potong Nisa.
"Nis.... "
"Jangan lupa tutup pintunya saat keluar!" suruh Nisa tanpa peduli dengan rengekan Bima. Wanita yang sedang hamil lima bulan itu memilih untuk menenangkan diri demi ketenangan hatinya.
"Ya sudah, aku temui mereka sekarang. Kalau kamu butuh sesuatu jangan sungkan untuk memberitahuku."
Nisa tidak menjawab.
"Selamat istirahat ya, sayang." Setelah mengatakan itu, Bima keluar dari kamar istri pertamanya.
__ADS_1
"Kamu sudah berubah, Mas. Sekarang kamu tidak pernah peduli dengan perasaanku lagi padahal saat ini aku sedang hamil anakmu," gumam Nisa sambil mengusap perutnya yang sudah mulai terlihat membuncit.
***
Ayu segera menghampiri suaminya saat melihat Bima baru saja keluar dari kamar istri pertamanya.
"Bagaimana, Mas, Mbak Nisa ngasih izin Tante Meta tinggal disini?" tanya Ayu.
"Mbak Nisa keberatan ya, Mas? Dia marah ya?" tanya Ayu lagi saat melihat ekspresi wajah suaminya.
"Tidak kok, dia nggak keberatan," jawab Bima berbohong, dia tidak ingin membuat istri keduanya merasa tidak enak.
"Beneran, Mas, Mbak Nisa nggak keberatan Tante Meta tinggal di sini bareng kita?" tanya Ayu memastikan.
"Iya, Sayang, bener kok."
Ayu langsung menghambur memeluk suaminya. "Alhamdulillah kalau begitu. Tapi, kenapa Mbak Nisa nggak keluar kamar, Mas?" Ayu mendongak menatap wajah suaminya.
"Dia sedang tidak enak badan. Kamu tahu sendiri kan kalau ibu hamil itu lebih mudah capek dibanding wanita pada umumnya?"
"Iya, Mas, aku ngerti. Mbak Nisa ngizinin Tante Meta tinggal di sini saja aku sudah bersyukur banget."
"Iya, Mas. Sekali lagi terima kasih karena Mas sudah mau ngizinin Tante Meta untuk tinggal di sini. Terima kasih banyak," ucap Ayu. Bima mengangguk.
"Ayo Tante, aku antar ke kamar tamu yang ada di lantai dua!" Ayu membawa tantenya naik ke lantai dua.
***
"Nah, sekarang ini menjadi kamar Tante. Semoga Tante betah ya tinggal di sini," ujar Ayu ketika dia dan tantenya tiba di kamar tamu.
Tante menatap ke sekeliling kamar itu. Kamar itu terlihat cukup besar dan mewah dengan tempat tidur berukuran sedang dan lemari yang terbuat dari kayu jati dengan ukiran-ukiran mewah.
"Gimana Tante, Tante suka sama kamarnya?"
"Suka," jawab Tante Meta. Wanita itu kemudian duduk di tepian kasur. "Yu."
"Iya, Tante."
__ADS_1
"Apa si Bima selalu bersikap begini sama kamu?"
"Maksud Tante apa ya?" tanya Ayu yang tidak mengerti maksud dari ucapan tantenya tersebut.
"Maksud Tante, segala sesuatu harus selalu minta izin sama istri pertamanya."
"Iya, Tante. Kami cuma nggak mau membuat Mbak Nisa merasa nggak dihargai."
"Tapi, status kamu dan Nisa itu sama lho. Kalian sama-sama istrinya Bima, seharusnya kalian juga memiliki hak yang sama boleh membawa siapa pun untuk tinggal tanpa harus minta izin terlebih dulu. Kesannya kok kamu kayak selingkuhannya si Bima saja. Padahal kan kamu juga istri sahnya."
Ayu terdiam.
"Atau jangan-jangan si Bima baru menikahimu secara siri?" tebak Tante Ayu.
Ayu menjawabnya dengan sebuah anggukan.
"Pantesan istri pertama suamimu itu sok berkuasa. Yu, Tante sarankan kamu minta Bima untuk segera menikahimu secara resmi. Jadi, statusmu akan sama-sama kuat di mata hukum dan si Nisa nggak semena-mena lagi sama kamu," ucap Tante Meta dengan menggebu-gebu.
"Maksud Tante aku harus minta Mas Bima melegalkan pernikahan kami?"
"Iyalah, jadi kamu dan Nisa memiliki hak yang sama secara hukum. Kalau statusmu masih istri siri, saat si Bima bosan sama kamu atau kamu melakukan sesuatu hal yang nggak Bima suka, Bima bisa menceraikanmu dengan mudah dan kamu tidak bisa menuntut harta gono gini dari si Bima."
Ayu kembali diam. Dia memikirkan kata-kata yang diucapkan tantenya barusan.
"Tapi, Tante. Aku nggak mau bikin Mbak Nisa makin sedih lagi. Dulu waktu tahu Mas Bima nikah sama aku aja, dia sudah sangat sakit hati karena kami menikah tanpa seizinnya. Jika tiba-tiba aku meminta untuk dinikahi secara resmi pasti Mbak Nisa akan semakin sedih, Tan. Aku nggak mau nyakitin Mbak Nisa yang udah baik sama aku," tutur Ayu.
"Itu cuma saran dari tante saja, diterima syukur nggak diterima juga nggak apa-apa. Tante cuma mau yang terbaik buat kamu."
"In Syaa Allah, ini yang terbaik kok, Tan."
"Ya sudah terserah kamu."
"Tante istirahat dulu ya, Ayu keluar sekarang. Selamat malam Tante, selamat beristirahat."
"Iya, selamat malam juga," balas Tante Meta.
Ayu melangkah keluar meninggalkan kamar tantenya.
__ADS_1
"Yu, Yu, dikasih saran yang bener malah nggak mau," gumam Tante Meta sambil menggeleng.