Dimadu Karena Wasiat

Dimadu Karena Wasiat
DKW 72


__ADS_3

Taksi yang Nisa tumpangi akhirnya tiba di depan perusahaan milik Angga. Setelah membayar, wanita yang sedang hamil besar itupun turun dari taksi tersebut. Ia berjalan menuju ke resepsionis untuk menanyakan keberadaan pemilik perusahaan itu sekarang. Dan menurut keterangan Sang Resepsionis, Angga sudah meninggalkan perusahaan bersama dengan Cevan satu setengah jam yang lalu.


"Kira-kira kapan ya mereka akan kembali ke perusahaan? Soalnya aku sudah menghubungi nomor Pak Angga, tapi tidak dijawab," tanya Nisa kepada resepsionis.


"Maaf, Mbak Nisa. Kenapa Mbak Nisa nggak coba menghubungi nomor Pak Cevan? Mbak Nisa pasti tahu nomor Pak Cevan juga, kan?" ujar resepsionis tersebut.


"Iya, sih. Tapi, aku nggak berani kalau nanya Pak Angga sama dia."


"Kenapa, Mbak?"


"Selama aku kerja di perusahaan ini, aku merasa Pak Cevan seperti tidak menyukaiku. Dia seperti membenciku, meski aku tidak tahu alasannya," jawab Nisa jujur karena memang itulah yang ia rasakan selama bekerja di perusahaan itu.


Sang resepsionis itu pun tertawa mendengar jawaban dari Nisa. "Kirain hanya saya saja Mbak yang merasa demikian. Pak Cevan itu kadang terlalu tegas. Dia selalu bersikap protektif terhadap Pak Angga. Kadang saya merasa dia kayak bukan asistennya Pak Angga melainkan pengasuhnya," jawab resepsionis itu dengan sedikit berbisik.


Nisa ikutan tertawa.


"Mbak Nisa sudah resign atau masih ambil cuti?"

__ADS_1


"Sebenarnya sih aku mau resign, tapi Pak Angga belum ngizinin. Dia masih menyuruhku untuk cuti. Padahal aku nggak mau dianggap sebagai karyawan istimewa di sini."


"Tapi, nyatanya kan Mbak Nisa memang karyawan istimewa. Mbak Nisa bahkan bisa menangin tender dari perusahaan yang sama sekali belum pernah bekerja sama dengan perusahaan ini. Pantas saja kalau Pak Angga mempertahankan Mbak Nisa," puji resepsionis itu karena memang kehebatan Nisa waktu itu didengar oleh hampir seluruh karyawan di CAMP Grup.


Nisa melihat ke arah jam tangannya. "Ya sudah deh, aku pulang saja dulu. Nanti kalau Pak Angga datang bilang saja tadi saya kemari mencarinya," ucap Nisa.


"Iya, Mbak. Nanti saya sampaikan," jawab resepsionis tersebut. Namun saat Nisa hendak melangkah pergi resepsionis itu kembali berbicara. "Itu sepertinya mobil Pak Angga!" Resepsionis tersebut menunjuk mobil yang baru saja tiba di lobi perusahaan.


Nisa ikut melihat ke arah yang ditunjuk oleh oleh Sang Resepsionis. Dari dalam dia bisa melihat Angga dan Cevan yang turun dari mobil. Tidak lama seorang wanita juga ikut turun dari mobil tersebut. Wanita itu langsung berlari mendekati Angga dan kembali memeluk lengannya. Ketiganya berjalan masuk ke dalam perusahaan.


"Jangan-jangan itu tunangannya Pak Angga," ucap Resepsionis tersebut. "Cantik ya, Mbak Nisa."


"Iya, cantik," jawab Nisa lirih.


Saat sudah masuk ke dalam perusahaan dan melihat keberadaan Nisa membuat Angga langsung menghentikan langkahnya. Ia berusaha melepaskan pelukan Thania dari lengannya sambil menatap Nisa.


"Ada apa?" tanya Thania bingung.

__ADS_1


"E... Thania kamu masuk dulu ke ruanganku bareng Cevan, nanti aku menyusulmu!" suruh Angga. "Aku ada urusan sebentar."


Cevan menatap Nisa dengan tatapan tidak suka.


"Ayo Nona, ikut saya!" ajak Cevan.


"Tapi.... "


"Ikutlah!" potong Angga.


"Baiklah. Aku tunggu kamu di ruangamu ya," ucap Thania. Dia mencium pipi Angga kemudian mengikuti langkah Cevan.


Angga kemudian berjalan mendekat ke arah Nisa. "Kamu mencariku?" tanya Angga.


"I... iya, Pak," jawab Nisa canggung. "Tapi, sepertinya Pak Angga ada urusan penting, jadi lebih baik kita bicara lain kali saja. Permisi," lanjutnya.


Nisa kemudian melangkah melewati Angga. Sementara Angga masih terpaku di tempatnya.

__ADS_1


__ADS_2