Dimadu Karena Wasiat

Dimadu Karena Wasiat
DKW 38 - Ikut Merasakan


__ADS_3

"Ayo Nis, kita masuk ke dalam! Ayu dan para undangan sudah menunggu kita!" ajak Bima kepada Nisa.


Nisa menatap suaminya sebentar sambil menertawakan dirinya sendiri. "Benar-benar miris, disaat wanita lain dimanja ketika hamil, aku malah harus memperkenalkan istri kedua suamiku di depan khalayak ramai seolah tidak terjadi sesuatu pada hidupku. Hebat! Suamiku sangat hebat," cap Nisa lalu bertepuk tangan.


"Jangan bikin keributan di pesta ini! Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu!" Bima memperingatkan.


"Kamu kira aku mau berdebat denganmu? Tidak, Mas. Aku juga lelah berdebat denganmu. Aku ingin hidup dengan tenang, tetapi kamu malah memaksaku untuk tetap bertahan di pernikahan yang seperti neraka ini. Kamu egois, Mas! Kamu mempertahankan aku hanya untuk terus kamu sakiti," jawab Nisa.


"Nisa! Sejak tadi aku sudah berusaha bersabar menghadapimu, jangan bikin aku emosi!" bentak Bima.


"Kenapa? Mau menamparku lagi?" tantang Nisa.


"Aku tidak ingin berdebat denganmu! Ku beri kamu waktu sepuluh menit untuk menenangkan diri, setelah itu datanglah ke tempat acara. Jangan sampai citraku turun di mata karyawan dan kolegaku gara-gara ulahmu!" Setelah mengatakan hal itu, Bima meninggalkan Nisa dan masuk ke ruang resepsi.


"Sabar, Nisa. Sabar. Kamu pasti bisa melewati ini. Sedikit lagi, kamu harus bertahan sedikit lagi." Nisa kembali menyemangati dirinya sendiri.


*


"Jadi, Nisa adalah istrinya Bima. Sepertinya persoalan rumah tangga mereka begitu pelik," batin Angga. Dia yang sedari tadi berada di balik pintu tidak berani keluar dari persembunyiannya. Angga tidak mau membuat Nisa merasa dikasihani.


Angga baru masuk ke dalam ruang resepsi setelah Nisa. Dia membaur dengan tamu yang lain sambil terus memperhatikan wanita itu dari kejauhan.

__ADS_1


"Dari mana saja sih kamu baru datang?" tanya Cevan ketika melihat kedatangan Angga.


"Tadi toiletnya agak ngantri," jawab Angga berbohong.


"Ada apa? Apa yang sedang kamu perhatikan sejak tadi?" tanya Cevan ketika melihat atasannya tersebut seperti sedang memperhatikan sesuatu. Karena penasaran Cevan pun mengikuti arah pandangan dari atasannya tersebut. Dan betapa terkejutnya dia ketika melihat sosok Nisa disana.


"Bukannya itu Nisa. Kenapa dia ada di sini?" tanya Cevan. Belum hilang keterkejutan itu dari Cevan, pria itu kembali terkejut ketika Bima memperkenalkan Nisa sebagai istri pertamanya.


"Apa?! Jadi, Nisa itu istrinya Bima?!" pekik Cevan. "Terus kenapa dia bekerja di perusahaanmu? Apa jangan-jangan dia ingin menjadi mata-mata untuk suaminya?" ujar Cevan curiga.


"Ku rasa bukan itu," jawab Angga.


"Aku juga tidak tahu alasan pastinya. Yang jelas lebih baik kita pura-pura saja tidak mengenal Nisa sebelumnya," jawab Angga.


"Tapi kenapa?" Cevan menatap Angga untuk meminta penjelasan.


"Lakukan saja," jawab Angga. Dia sendiri tidak tahu kenapa dia ingin melakukan itu.


"Tapi.... "


"Ayo, kita ucapkan selamat setelah itu kita pulang!" potong Angga. Dia mengajak Cevan untuk naik ke atas panggung untuk memberikan ucapan selamat kepada Bima dan istri keduanya.

__ADS_1


"Selamat ya, Pak Bima atas pernikahan keduanya. Kami kira ini perayaan anniversary Anda dengan istri Anda. Tapi, ternyata kami salah. Sekali lagi selamat ya, Pak Bima," ucap Angga sambil menjabat tangan Bima dan istri keduanya.


Melihat keberadaan Angga di pesta itu sempat membuat Nisa terkejut. Namun dengan cepat wanita tersebut bisa mengendalikan situasinya. Dia pun berpura-pura tidak mengenal Angga.


"Terima kasih karena Anda mau meluangkan waktu untuk datang ke pestaku ini," ucap Bima sambil membalas jabatan tangan Angga.


"Kami langsung pamit ya, Pak."


"Lho kok buru-buru kan Anda belum menikmati hidangannya?" sahut Bima.


"Kebetulan ada pekerjaan yang belum selesai tadi. Sekali lagi selamat, Pak. Permisi." Sebelum pergi Angga melirik ke arah Nisa sebentar. Meski tidak bersuara dan terlihat baik-baik saja, Angga bisa merasakan sakit hati yang Nisa rasakan saat ini.


"Ayo Cevan!" ajak Angga kepada asisten pribadinya.


"Kami permisi Pak Bima," ucap Cevan. Dia mengikuti Angga yang sudah terlebih dulu meninggalkan acara resepsi.


šŸ‚šŸ‚šŸ‚


GAES LIKE, KOMEN, GIFT, DAN VOTE SEBANYAK-BANYAK DONG BIAR OTOR SEMANNGAT.


MAACIH ā¤ļø

__ADS_1


__ADS_2