
Vena melangkah dan berdiri tepat di hadapan ibunya Ayu. Sebelum berbicara ia menarik napas panjang kemudian menghembuskannya perlahan.
"Pak Rustam meninggal bukan karena suamiku, justru dia lah yang bekerjasama dengan para pembegal itu dan ingin merampas harta suamiku. Sayangnya, semua gagal karena suamiku berhasil menghubungi temannya yang seorang polisi. Pak Rustam hendak melarikan diri ketika penggerebekan itu terjadi, namun karena ia melawan, ia ditembak mati oleh pihak yang berwajib," jelas Vena.
"Bohong!" sentak ibunya Ayu. "Anda sengaja mengarang semua ini agar kami terlihat salah kan? Anda dan suami Anda sama-sama licik. Bukannya meminta maaf kalian ingin menimpahkan semua kesalahan kepada kami. Dasar orang kaya tidak berperasaan!" makinya.
"Lagian, jika yang Anda ceritakan itu benar, seharusnya Anda bisa menilai dong jika surat wasiat itu palsu?" tambah Ibunya Ayu lagi.
"Jika aku tahu kejadian yang sebenarnya terjadi sejak dulu, pasti aku akan tahu jika surat wasiat itu palsu. Dan saat Bima membawa putrimu ke rumah dan mengenalkannya sebagai istri kedua dari anakku, pasti aku sudah menentangnya dan akan langsung mengusir putrimu! Aku juga tidak akan kehilangan menantu kesayanganku, Nisa. Sayangnya, aku baru mengetahui cerita yang terjadi beberapa tahun yang lalu itu beberapa saat yang lalu sebelum aku tiba di rumah sakit ini," tandas Vena.
"Anda bohong kan? Anda sengaja berkata begini supaya kami merasa bersalah kan?" Ibunya Ayu masih bersikeras jika perkataan Vena adalah dusta.
"Jika itu yang kamu pikirkan, maka anggap lah semua hal yang aku katakan adalah sebuah kebohangan. Tapi.... " Vena menjeda kalimatnya sebentar.
__ADS_1
"Tapi apa?" tanya Ibunya Ayu dengan tatapan nyalang. "Katakan saja dengan jelas! Karena aku yakin suamimu lah yang telah dengan sengaja membunuh suamiku!"
Ayu mengambil telepon genggam dari dalam tasnya. Dia kemudian menunjukkan beberapa foto dan file yang dikirimkan oleh sahabat suaminya terebut. Foto itu adalah foto saat Rustam berada di rumah sakit polri. Vena juga membuka file yang diberikan oleh teman suaminya tersebut dan kembali menunjukannya kepada Ibunya Ayu. Semua file itu adalah dokumen yang sengaja disimpan di kepolisian. Vena bahkan menunjukkan capture isi chat antara dirinya dan teman suaminya tersebut. Dari chat itu terlihat jelas alasan kenapa papanya Bima meminta agar kasus tersebut tidak dibuka untuk umum. Papanya Bima juga meminta kepada polisi untuk mengatakan kepada keluarga Rustam, jika Rustam meninggal karena menolongnya. Dia ingin setidaknya, bagi keluarga, Rustam tetap dikenal sebagai ayah yang baik dan pahlawan bagi anak dan istrinya.
"Tidak! Ini tidak mungkin! Kenapa aku seceroboh ini sampai mempercayai anak laki-laki itu. Anak itu bilang, suamiku mati bukan karena menyelamatkannya bosnya, tetapi sengaja dibunuh oleh bosnya karena suamiku mengetahui rahasia besar yang dimiliki oleh bosnya," gumam Ibunya Ayu.
"Apa itu Zian?" kini giliran Bima yang bertanya.
"Zian? Zian sepupumu itu?" tanya Vena.
Bima mengangguk. "Aku memergokinya saat sedang berbicara dengan Ayu tadi. Dan sekarang Zian sudah berada di kantor polisi."
"Ternyata sepupumu itu masih belum bisa menerima, jika Ardhana Grup di wariskan kepada papamu. Padahal alasan perusahaan itu diberikan kepada papamu adalah karena ibu dari Zian hanya anak angkat dari mendiang kakekmu. Selain itu, dia juga sudah diberi warisan beberapa minimarket oleh mendiang kakekmu. Tetapi ternyata itu tidak membuat tantemu tersebut puas. Sudahlah biarkan Zian juga mempertanggung jawabkan perbuatannya itu," ujar Vena.
__ADS_1
Ibunya Ayu tertunduk lesu. Sebuah kesalahpahaman sudah membuat putri semata wayangnya kini menderita.
"Maafkan Ibu, Yu. Gara-gara Ibu selalu mendoktrinmu untuk balas dendam, akhirnya kamu jadi seperti ini. Maafkan Ibu, Yu. Maafkan Ibu." Sambil terisak Ibunya Ayu terus meracau.
Iya, sebuah kesalahpahaman sudah membuat Ayu harus mengalami kelumpuhan dan juga janinnya. Seandainya waktu dapat diputar kembali tentu mereka tidak akan membiarkan kesalahpahaman itu terjadi. Nasi sudah menjadi bubur dan mereka harus menerima segala konsekuensi atas segala hal yang sudah mereka lakukan. Termasuk Bima.
Iya, Bima harus membayar ketidaksetiaannya dengan harus kehilangan istri terbaiknya dan hidup jauh dari anak dalam kandungan Nisa. Sebuah harga yang sangat mahal.
***
"Hah," Bima menarik napas panjang ketika hakim sudah mengetuk palu dan mengabulkan gugatan cerai yang dilayangkan oleh Nisa.
Sesuai dengan permintaan mantan istrinya itu, Bima tidak mempersulit proses gugatan tersebut. Dia tahu dia salah karena sudah tidak setia terhadap istrinya tersebut. Jadi, ia membiarkan Nisa memperoleh kebahagiaannya sendiri. Bima berjanji suatu saat nanti, dia akan berusaha untuk mendapatkan cinta Nisa kembali.
__ADS_1