Dimadu Karena Wasiat

Dimadu Karena Wasiat
DKW 31 - Astaghfirullahal adzim


__ADS_3

Keesokan paginya....


Nisa baru berangkat bekerja setelah memastikan suaminya benar-benar sudah meninggalkan rumah. Dengan menggunakan ojek online, Nisa berangkat ke perusahaan CAMP Grup. Melalui pesan whatsapp yang dikirimkan oleh personalia kemarin, Nisa sudah tahu dimana ia di tempatkan. Tidak sulit bagi Nisa untuk menjalani tugasnya karena dia sudah pernah bekerja dengan posisi yang sama di perusahaan Bima dulu.


Iya, berdasarkan pengalaman yang tertulis di CV, Nisa ditempatkan sebagai sekretaris untuk Angga. Dan di hari pertamanya bekerja ini, performa Nisa mampu membuat Angga berdecak takjup. Bagaimana tidak? Seorang investor besar berhasil didapatkan dari kepiawaian Nisa berbicara dan mempresentasikan projek yang ditawarkan oleh perusahaan.


"Yes, akhirnya kita berhasil mendapatkan investor itu." Angga berteriak kegirangan. "Dilihat dari cara kamu berbicara tadi sepertinya pengalaman kamu jauh lebih banyak dari yang tertulis di CV. Benar, kan?" tanya Angga kepada Nisa yang saat ini berdiri di sebelah kanannya.


"Tidak juga, hanya saja dulu sebelum aku hamil aku sering menemani suamiku menemui beberapa investor. Jadi, aku sedikit paham bagaimana caranya agar kita bisa menarik investor untuk mau berinvestasi di perusahaan," jawab Nisa.


"Berarti suamimu seorang pemilik perusahaan dong? Kenapa kamu tidak bekerja di perusahaan suamimu saja?" tanya Angga.


"Ada alasan kenapa aku melakukan ini," jawab Nisa.


"Apa alasannya?" tanya Angga dengan berhati-hati.


"Maaf, Pak. Ini adalah urusan pribadi dan saya tidak berkewajiban menjawab pertanyaan dari Bapak ini," jawab Nisa.


Apa pun yang terjadi dengan rumah tangganya, Nisa tidak ingin orang luar tahu. Karena bagaimanapun seorang istri wajib menjaga nama baik seorang suami.

__ADS_1


"Kamu benar, tidak seharusnya saya mencampuri urusan pribadi Anda. Seharusnya saya yang minta maaf," ucap Angga. Sebagai seorang atasan memang sudah seharusnya dia tidak ikut campur dengan urusan pribadi pegawainya karena itu adalah privacy.


"Tidak apa-apa, Pak," jawab Nisa sambil tersenyum.


"Em... sebagai bonus awal karena kamu sudah berhasil membantu meyakinkan investor tadi bagaimana kalau kita makan siang di luar!" ajak Angga. "Hm?"


"Maaf, Pak, saya tidak bisa. Tapi, kalau Bapak memang ingin berterima kasih kepada saya, kenapa Bapak tidak traktir saja semua karyawan Bapak? Berbagi rezeki kepada karyawan kita bisa membuat usaha kita lancar lho, Pak," jawab Nisa. "Tidak perlu makanan mewah. Aku tahu perusahaan Bapak besar, dan aku yakin karyawannya pun ribuan. Jadi, Bapak bisa berikan mereka nasi kotak untuk mereka. Meski bukan hal besar, saat mereka bisa mengurangi pengeluaran mereka untuk makan siang, itu pasti akan sangat berarti bagi mereka," jelas Nisa.


Bukan tanpa alasan Nisa berkata seperti itu, dulu saat awal dia menjadi karyawan dan belum memiliki gaji yang besar, mendapatkan makan siang gratis dari perusahaan saja sudah membuatnya bahagia, karena artinya uang yang seharusnya ia gunakan untuk makan, bisa ia manfaatkan untuk keperluan yang lainnya.


Angga memikirkan kata-kata Nisa barusan. Selama ini dia tidak pernah memirkan bagaimana nasib karyawannya, yang ia tahu hanya bagaimana caranya mendapatkan keuntungan yang banyak. Dia jarang memberikan sesuatu yang sifatnya cuma-cuma kepada karywannya. Dia hanya akan memberikan bonus besar kepada karyawan yang berprestasi sebagai motivasi.


"Kalau begitu aku serahkan semuanya kepadamu."


"Sesuai dengan perkataanmu tadi, aku ingin memberikan makan siang untuk semua karyawanku dan aku menyerahkan semuanya kepadamu," jawab Angga.


Angga menyerahkan kartu debit kepada Nisa. "Pesan nasi dengan lauk daging atau apa pun itu untuk semua karyawan dan gunakan kartu itu untuk membayarnya," ujar Angga. "Oh oya, nomor pin-nya xxxxxx."


"Bapak percaya sama saya? Kalau saya ngambil uangnya kebanyakan bagaimana? Lebih baik Bapak saja nanti yang bayar, tugas saya hanya memesankan saja." Nisa menyerahkan kembali kartu itu kepada Angga.

__ADS_1


"Aku percaya kamu orang yang amanah, jadi aku serahkan kepadamu." Setelah mengatakan itu, Angga meninggalkan Nisa.


"Tapi, Pak.... " Nisa menatap kartu di tangannya. Dia akhirnya melakukan hal yang diperintahkan oleh atasannya tersebut.


Nisa sengaja memesan makanan dari beberapa warteg dan usaha ketring rumahan dari orang yang ia kenal dan yang sudah jelas kualitas makanannya. Setelah selesai dengan semua itu, Nisa kembali menemui Angga di ruangannya untuk mengembalikan kartu pemberian Angga tadi.


Tok-tok-tok!


Beberapa kali Nisa mengetuk pintu ruang kerja Angga, namun tidak ada jawaban dari bosnya tersebut.


"Mungkin Pak Angga terlalu sibuk di dalam, makanya nggak dengar aku ngetuk pintu. Apa aku kembalikan kartu ini nanti saja ya?" gumam Nisa di depan pintu.


"Tapi, jika tidak aku kembalikan sekarang, malah jadi beban buatku. Sudahlah masuk saja, mudah-mudahan Pak Angga tidak marah." Nisa bermonolog.


Nisa pun segera memutar knop pintu dan langsung masuk ke dalam ruangan tersebut.


"Astaghfirullahal adzim," pekik Nisa saat melihat bosnya seperti sedang ingin berciuman. Namun bukan itu yang membuat Nisa terkejut, akan tetapi sosok yang sedang bersama bosnya tersebut adalah seorang laki-laki.


"Ma-maaf, Pak, saya mengganggu," ucap Nisa yang langsung keluar dari ruang bosnya.

__ADS_1


Angga dan orang itu saling tatap sebentar. Beberapa detik kemudian kedua laki-laki itu sama-sama membulatkan mata karena tahu apa yang ada di pikiran Nisa sekarang.


"Jangan-jangan dia ngira kita gay lagi," ujar Angga dan temannya bersamaan.


__ADS_2