
"Ma, aku haus." Suara Daffa yang meminta minuman membuat Nisa tersentak dari lamunannya.
"Ini Sayang," ucap Nisa sambil memberikan air minum kepada putra tercintanya itu.
"Ma, kita pulang yuk! Daffa sudah capek dan ngantuk!" ajak Daffa.
"Lho Daffa nggak mau main sama papa lagi?" tanya Nisa.
Daffa menggeleng.
"Kenapa?" tanya Nisa.
"Papa bilang, besok Papa mau ajak Daffa jalan-jalan lagi," jawab Daffa.
"Mas?" Nisa meminta penjelasan dari mantan suaminya itu.
"Iya, Nis. Rencananya aku akan ngajak Daffa main lagi besok," jawab Bima yang ada di belakang Daffa. Laki-laki itu kemudian duduk di kursi kosong yang ada di samping kiri Nisa.
"Memang kamu nggak kerja?" tanya Nisa.
"Sebenarnya kerja sih, tapi aku akan usahakan agar besok bisa tetap bermain dengan Daffa," jawab Bima.
"Mas, bukannya tempat kerja kamu jauh? Kamu bisa kecapekan kalau harus tiap hari bolak-balik ke sini."
"Tidak apa-apa, Nis. Bagiku tidak masalah capek asal tiap hari aku bisa main sama Daffa," jawab Bima.
Sebenarnya bukan hanya itu alasan utamanya. Saat bermain dengan Daffa barusan, putranya itu bercerita kalau dia sering bermain dengan Angga tiap pulang dari sekolah di taman. Bima tidak rela, jika putranya lebih akrab dengan pesaing beratnya tersebut ketimbang dengan dirinya.
__ADS_1
"Terserah kamu deh, Mas," ujar Nisa. Dia tidam mau dianggap menghalangi mantan suaminya itu untuk bertemu dengan putra mereka.
"Ma, ayo pulang!" rengek Daffa lagi.
"Iya-iya sayang, kita pulang sekarang," jawab Nisa.
"Memang dia suka merengek gitu ya, Nis?" tanya Bima saat melihat putranya yang terus merengek minta untuk pulang.
"Iya, dia kalau sudah maunya A ya harus A. Tidak bisa diganggu gugat," jawab Nisa.
"Berarti dia keras kepala seperti kamu."
"Begitulah," jawab Nisa.
Mendengar jawaban mantan istrinya barusan, membuat Bima akhirnya tahu hal apa yang harus dia lakukan untuk bisa rujuk dengan mantan istrinya tersebut. Iya, dia harus membuat Daffa nyaman dengannya hingga tidak mau berpisah. Jika itu terjadi, pasti Nisa akan setuju saat ia mengajaknya rujuk.
"Oke, kita pulang sekarang," jawab Bima.
Mereka pun bangun dari kursi yang mereka duduki.
"Sini, Nis, biar aku saja yang gendong sampai ke tempat parkir!" Bima menawarkan diri untuk menggantikan Nisa menggendong putranya. Namun, Daffa memeluk erat mamanya dan menolak digendong olehnya.
"Maaf ya, Mas. Daffa kalau udah ngantuk nggak mau sama siapa pun bahkan sama embaknya saja dia nggak mau," ucap Nisa. Dia takut mantan suaminya itu tersinggung atas sikap Daffa barusan.
"Nggak apa-apa, Nis. Aku ngerti kok, namanya juga anak kecil," ujar Bima. Meski sebenarnya dia agak tidak suka ketika Nisa membandingkan dirinya dengan mbak yang membantu Nisa mengasuh Daffa.
"Kalian tunggu di sini saja, biar aku yang ke tempat parkir buat ngambil mobil," ucap Bima.
__ADS_1
Nisa hanya mengangguk sebagai jawaban.
Nisa dan mantan ibu mertuanya tersebut menunggu di depan mall, beberapa saat kemudian Bima sudah kembali lagi dengan mobilnya. Laki-laki yang statusnya sudah berubah menjadi mantan suami Nisa itu kembali turun dari dalam mobilnya untuk membukakan pintu untuk Nisa.
"Terima kasih," ucap Nisa setelah masuk ke dalam mobil tersebut. Bima juga membukakan pintu untuk mamanya. Ia kemudian kembali naik dan langsung membawa mobil tersebut pergi dari sana.
Perjalanan dari mall untuk sampai di rumah Nisa, cukup dekat hanya sekitar 15-20 menit mereka sudah tiba kembali di kediaman Nisa itu.
"Sekali lagi terima kasih ya, Ma, Mas, sudah ngeluangin waktu buat main sama Daffa," ucap Nisa begitu ia turun dari dalam mobil.
"Sama-sama, Nis. Justru aku yang seharusnya berterima kasih sama kamu karena kamu mau memberiku izin untuk bermain dengan putra kita. Terima kasih ya, Nis," ucap Bima.
"Sayang, papa pulang dulu ya. Besok papa ke sini lagi buat main sama kamu," pamit Bima kepada putranya. Entah Daffa masih mendengarnya atau tidak. Sebelum pergi, Bima mengecup kening putranya. Ia masuk ke dalam mobil terlebih dulu.
"Nis, mama juga pulang dulu ya," pamit Vena.
"Iya, Ma, hati-hati ya."
"Oh iya, Nis. Jangan lupa pikirkan ucapan mama tadi. Ingat, Nis, Daffa membutuhkan figur seorang papa. Kesampingkan semua egomu demi dia." Vena kembali meminta kepada mantan menantunya tersebut untuk mengingat perkataannya di restoran tadi.
Nisa tidak menjawab karena menikah lagi tidak ada di daftar hidupnya, apalagi untuk kembali rujuk dengan mantan suaminya tersebut. Bukan karena dendam dia tidak ingin rujuk dengan mantan suaminya itu, tetapi rasa sakit dan kekecewaan yang Bima torehkan di hatinya dulu begitu dalam dan sulit untuk dilupakan. Nisa memang sudah memutuskan untuk memaafkan Bima dan memberinya kesempatan untuk dekat dengan putra mereka, akan tetapi untuk kembali menjalin hubungan itu tidak mungkin. Setidaknya itulah yang ia rasakan kepada mantan suaminya itu hingga detik ini.
"Mama pergi ya, Nis. Assalammualaikum." Kembali Vena berpamitan. Ia kemudian masuk ke dalam mobil milik Bima itu.
"Waalaikummussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Nisa. Ia ikut melambaikan tangan ketika Vena melambaikan tangannya kepada Nisa.
Nisa melangkah untuk masuk kedalam rumah ketika mobil itu tak lagi terlihat. Namun, langkah Nisa kembali terhenti ketika ia mendengar ada suara yang memanggilnya dengan lirih.
__ADS_1