Dimadu Karena Wasiat

Dimadu Karena Wasiat
DKW 83


__ADS_3

Vena mencabut tuntutannya kepada Ayu dan ibunya demi alasan kemanusian. Dia tidak tega harus melihat Ayu yang dalam kondisi lumpuh itu di penjara. Apalagi dia tahu kalau semua uang harta milik Ayu yang dihasilkan sejak menikah dengan Bima dibawa kabur oleh tantenya, Metha.


Ayu dan Ibunya hidup terlunta-lunta di jalan dengan mengandalkan belas kasihan orang. Seringkali keduanya harus menahan lapar bila tidak ada orang yang iba kepada mereka.


"Ini semua gara-gara ibu, jika saja ibu tidak mempengaruhi aku untuk balas dendam, aku tidak akan seperti ini. Masih bekerja di perusahaan Mas Bima dan yang paling penting aku tidak akan lumpuh seperti ini. Ini semua gara-gara Ibu, Ibu sudah menjerumuskan aku hingga seperti ini." Ayu memaki ibunya.


Rasanya dia sudah tidak kuat untuk menjalani hidupnya. Bahkan seringkali terlintas di kepalanya untuk mengakhiri hidupnya sendiri.


"Ibu minta maaf, Yu. Ibu tidak menyangka jika Ibu salah sasaran balas dendam. Ibu menyesal. Maafkan Ibu ya, Yu," pinta Ibunya Ayu. Dia sadar semua hal yang menimpa Ayu adalah salahnya.


Ayu hanya membuang muka, dia terlalu lelah dengan segala hal yang menimpanya.


"Ini pasti salah satu hukuman yang Tuhan berikan karena aku sudah menyakiti Mbak Nisa. Padahal dia tidak salah. Misal Mas Bima dan mamanya memang salah, wanita itu tetap tidak salah. Tapi aku malah menyakiti hatinya."


"Sudah, Yu. Lupakan semuanya, kita mulai hidup kita dari awal ya?" bujuk ibunya Ayu.


"Bagaimana kita akan memulainya? Uang saja kita tidak punya," ujar Ayu.


Wanita yang sudah melahirkan Ayu pun hanya bisa diam. Mereka hanya bisa pasrah kepada takdir.


***


Dampak ketiadaan Nisa mulai dirasakan oleh Bima. Beberapa kontrak kerjasama banyak yang putus di tengah jalan. Bahkan tidak sedikit investor yang menarik investasinya dari perusahaan ARDHANA GRUP. Dan hal tersebut membuat perusahaan itu mulai koleps. Bima bahkan harus menjual beberapa aset yang dimiliki perusahaan untuk menutup kerugian.


"Hah." Bima menarik napas panjangnya beberapa kali. Dengan mata tertutup ia menyandarkan punggung di sandaran kursi sambil memjit pelipisnya yang terasa sakit.


"Kamu baik-baik saja, Nak?" tanya Vena saat ia masuk ke ruang kerja putra tercintanya.

__ADS_1


Mendengar suara Sang Mama sontak membuat langsung membuka matanya.


"Mama kapan datang?" tanya Bima.


"Baru saja," jawab Vena. "Bima, kamu belum menjawab pertanyaan Mama barusan lho."


Bima diam sebebtar. Ia kemudian menatap Vena yang berdiri di depan meja kerjanya. Bima kemudian bangun dari kursi tersebut dan bersimpuh di kaki mamanya.


"Ada apa, Nak?" tanya Vena.


"Maafkan aku, Ma, karena aku terpaksa melepas semua aset perusahaan untuk mengembalikan semua uang yang sudah diinvestasikan oleh para investor di perusahaan kita karena mereka ingin menarik semua dana mereka terswbut," jawab Bima.


"Apa?!" Vena memekik. "Maksud kamu perushaan kita bangkrut?"


Bima mengangguk. "Sekarang yang kita miliki hanya rumah yang kita tempati," jawabnya. "Maafkan aku, Ma."


Vena masih diam. Dia tidak menyangka jika perusahaan yang diwariskan kepada almarhum suaminya tersebut akan hancur di tangan putranya sendiri.


Vena belum menjawab, dia hanya mengeluarkan air matanya.


"Tolong maafkan, Ma," pinta Bima lagi.


Vena menghapus air matanya kemudian meminta Sang Putra untuk bangun.


"Bangunlah! Meski Mama kecewa, tapi... kamu adalah anak Mama. Mama tidak mungkin meninggalkanmu hanya gara-gara kamu bangkrut."


Bima mendongak, ia kemudian bangun dan memeluk Sang Mama.

__ADS_1


"Kita akan sama-sama melewati ini. Kamu harus bangkit demi anakmu yang ada di dalam kandungan Nisa. Jadi, jangan menyerah! Mama akan selalu ada untuk kamu," ujar Vena.


Bima memeluk kembali mamanya dengan erat. Ia sadar, seorang ibu akan selalu ada untuk anaknya di dalam setiap keadaan. Yang akan selalu memberinya maaf sebesar apa pun kesalahannya.


***


Pertunangan Angga dan Thania sudah siap digelar dan dilaksanakan di sebuah hotel paling mewah di Jakarta.


Kedua orang tua Angga yang baru kembali dari luar negeri itu pun sudah berada di hotel tersebut untuk mendampingi putranya. Berbeda dengan kedua orang tua Angga yang tampak bahagia, Angga justru terlihat muram.


"Ngga, orang tua lo sudah nyuruh lo naik ke atas panggung untuk melakukan tukar cincin." Cevan menghampiri Angga yang masih berdiri di balkon kamarnya.


"Oke, gue turun bentar lagi," jawab Angga. Dia menatap lurus ke depan sambil menghela napasnya berkali-kali.


Laki-laki berumur 28 tahun tersebut kembali mengingat kata-kata almarhum kakaknya dulu sesaat sebelum ia meninggal.


"Ngga. Hiduplah sesuai dengan keinginanmu. Jangan turuti kehendak mama dan papa, jika itu tidak membuatmu bahagia. Justru kamu harus bisa membuktikan ke mereka bahwa kamu bisa bahagia dan sukses dengan melakukan hal-hal yang kamu sukai. Jadi, teruslah berjuang untuk itu." Kata-kata itu kini berputar di kepalanya.


Iya, selama ini dia sudah hidup sesuai dengan kehendak kedua orang tuanya. Melakukan hal-hal yang kadang tidak disukainya demi membuat mereka bahagia. Jadi, sekarang sudah saatnya bagi Angga untuk menentukan jalan hidupnya sendiri. Dia tidak ingin terus dikekang oleh mereka dan melakukan segala hal yang tidak ia sukai.


Angga naik ke atas panggung, dia memegang pengeras suara untuk mengatakan sesuatu. Sebelum berbicara, Angga kembali menarik napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya. Dan itu ia lakukan beberapa kali.


"Selamat malam semuanya, terima kasih kepada kalian yang sudah menyempatkan waktunya untuk datang ke acara ini. Tapi... maaf, aku tidak bisa melanjutkan pertunanganku dengan Thania."


Semua tamu saling berbisik.


"Bukan karena Thania tidak baik. Aku akui dia wanita yang sangat baik. Tetapi, aku tidak bisa bertunangan dengannya hanya karena alasan itu. Karena bertunangan atau menikah dengan seseorang bukan itu modal yang dibutuhkan, tetapi cinta. Dan aku tidak merasakan hal tersebut terhadap Thania."

__ADS_1


"Ma, Pa. Aku kembalikan perusahaan kepada kalian. Aku tidak mau hidup menjadi boneka kalian. Aku ingin melakukan segala hal yang aku sukai. Aku bukan Kakak yang suka dengan bisnis perusahaa. Aku adalah aku dan aku memiliki cita-cita sendiri. Ma, Pa, tolong maafkan aku dan tolong restui keputasanku!" pinta Angga. Dia membungkukkan badannya sebagai permohonan maaf.


Cevan hanya bisa memejamkan mata mendengar perkataan panjang lebar dari Angga di atas panggung. Dia tidak mengira kalau Angga akan senekat itu. Padahal yang ia tahu Nisa sudah menolaknya dan sudah rujuk dengan suaminya, tetapi memang bukan hanya cinta yang Angga kejar. Pria itu juga ingin mengejar impiannya yang dulu pernah ia kubur dalam-dalam.k


__ADS_2