Dimadu Karena Wasiat

Dimadu Karena Wasiat
DKW 24 - Paket Makanan


__ADS_3

Begitu tiba di rumah, Nisa melepas high heellnya dan duduk berselonjor di sofa panjang yang ada di ruang tengah. Dia memijit kakinya sendiri yang tersa sedikit pegal, padahal hanya sebentar ia berjalan kaki. Padahal saat ia bekerja dulu hampir seharian dia mondar mandir dari satu divisi ke divisi lainnya saja tidak merasakan apa-apa. Mungkin karena sekarang dia sedang mengandung makanya dia mudah sekali merasa capek dan pegal.


Kruyuk!


Cacing-cacing di perut Nisa mulai berdemo minta diisi. "Perutku lapar," ucap Nisa sambil mengusap perutnya sendiri. "Ini semua gara-gara cowok kurang ajar tadi. Kalau saja dia tidak merusak mood-ku dengan tiba-tiba memeluk, pasti aku sudah makan tadi."


Nisa menurunkankan kakinya dari sofa, dia mengganti high heels yang dia pakai tadi dengan sendal flat setelah itu dia keluar dari kamar dan menuju dapur. Nisa mencari sesuatu yang bisa makan di sana.


"Bik memangnya Ayu nggak masak ya?" tanya Nisa ketika ia tidak menemukan sesuatu yang bisa ia makan saat ini.


"Iya, Nyonya. Tadi Nona Ayu bilang dia dan tantenya mau perawatan di salon makanya mereka nggak mau masak katanya sekalian mau makan di luar nanti." jawab Bik Asih.


"Terus pas saya mau masak buat Nyonya dan anggota rumah yang lain ternyata bahan-bahan di dapur sudah habis. Makanya saya belum nyiapin apa-apa, Nya," tambah Bik Asih.


"Begini nih kalau urusan rumah tangga diserahkan ke Ayu, semuanya jadi nggak beres," gumam Nisa.


"Nyonya lapar ya? Tadi saya lihat masih ada sisa tahu di kulkas dua biji, mau Bibik gorengin?" Bik Asih menawarkan.


"Tidak usah, biar aku delivery aja, Bibik mau sekalian aku pesenin nggak?"


"Kalau Nyonya mau mesenin sih Bibik alhamdulillah, Nya, soalnya kebetulan Bibik juga belum makan," jawab Bik Asih malu-malu.

__ADS_1


"Mang Danu, Pak Parjo apa mereka juga belum makan?" tanya Nisa lagi.


"Sepertinya sih iya, Nya. Kan saya belum masak otomatis semua yang bekerja disini juga belum makan, Nya," jawab Bik Asih.


"Ya sudah, aku pesenkan semunya. Menunya terserah aku kan? Atau Bibik mau request menu?" tanya Nisa lagi.


"Terserah, Nyonya saja yang penting mah enak," jawab Bik Asih.


Nisa memesan beberapa paket makanan untuk dirinya sendiri dan beberapa orang yang bekerja di rumahnya. Biar bagaimana pun dia harus bertanggung jawab pada orang-orang yang bekerja di rumahnya.


"Tiga puluh menit lagi makanannya sampai, Bik. Aku kembali ke kamar dulu ya. Nanti kalau makanannya udah datang, Bibik bisa panggil aku."


"Baik, Nyona," jawab Bik Asih.


Tiga puluh menit kemudian makanan pesanan Nisa datang, Bik Asih memberikan dua paket makanan untuk Mang Danu dan Pak Parjo, dan menaruh dua paket lainnya di atas meja. Dia segera naik ke lantai dua untuk memanggil Nisa dan memberitahu, jika makanan pesanannya sudah datang.


Tok-tok-tok!


"Siapa?" tanya Nisa dari dalam.


"Nyona makanannya sudah datang, mau saya bawa ke sini atau.... "

__ADS_1


Pintu tiba-tiba dibuka dan Nisa sudah berdiri di depan Bik Asih. "Aku makan bareng Bibik saja," sela Nisa.


"Astaghfirullah, Nyonya Nisa. Hampir saja jantung saya copot," ujar Bik Asih sambil mengusap dadanya.


"Maaf, Bik. Yuk kita makan bareng. Perutku sudah sangat lapar," ucap Nisa.


"Ayo, Nyonya."


Nisa dan Bik.Asih berjalanan beriringan menuju ke lantai satu untuk makan. Namun, saat mereka tiba di ruang makan. Ternyata dua paket makanan tersebut sedang dinikmati oleh Ayu dan Tantenya yang baru saja pulang dari spa.


"Apa-apaan kalian?" tanya Nisa marah.


"Aku dan Tante Meta lapar. Kebetulan kami melihat ada dua paket makanan di atas meja makan, jadi kami memakannya," jawab Ayu.


"Apa kamu yang memesan makanan itu?" tanya Nisa lagi.


"Tidak sih, tapi aku pikir kamu yang memesan ini untuk kami karena di dapur tidak ada makanan," jawab Ayu lagi.


"Coba kamu pikir baik-baik kenapa sampai tidak ada makanan di dapur? Itu semua karena kesalahanmu. Harusnya kamu yang membeli kebutuhan dapur kemarin, tapi apa? Kamu nggak mengingatnya, padahal Mas Bima sudah menyerahkan semuanya kepadamu. Dia yang menyuruhmu untuk mengatur semuanya. Dan dua makanan yang sedang kamu nikmati itu adalah makananku dan Bik Asih, bisa-bisanya kalian makan itu tanpa meminta izin terlebih dulu. Apa orang tuamu tidak pernah mengajarkanmu tata krama? Hah?!" ucap Nisa penuh emosi.


"Nisa! Kami hanya tidak sengaja memakan makananmu, kenapa kamu harus bawa-bawa orang tua Ayu yang sudah meninggal? Kamu tahu, kamu sudah menyakiti hati Ayu!" sentak Tante Meta. Dia tidak terima hanya karena sekotak makanan, Ayu disalahkan.

__ADS_1


"Ada apa ini?" suara seseorang dari arah pintu membuat ketiga orang yang sedang bertengkar tadi melihat ke arahnya.


__ADS_2